Kisah Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily Al Jawi

Menurut masyarakat setempat, Syekh Sadzali adalah murid/santri Sunan Muria yang sangat setia mendampingi dan membantu Sunan Muria dalam menyebarluaskan agama Islam di sekitar lereng Gunung Muria. Oleh karena itu, Syekh Syadzali senantiasa dihormati oleh masyarakat dan makamnya tidak pernah sepi dari para peziarah.

Barang kali, tanpa di sadari sebelumnya

bathiniyah kita haus akan nilai-nilai luhur para leluhur

dalam istirahat panjangnya di alam baka

yang istiqomah memanggil kesadaran serta nama kita

untuk sekedar berziarah atau mengenang sejarahnya

yang semakin terabaikan bersama perubahan zaman..

Sementara kita,

trah darah keturunan semestinya jadi penerus harapannya

justru larut dalam kesibukan penuhi hasrat duniawi

hingga melupakan ruh cahaya doa keselamatan agung

yang tersembunyi di dalam aliran darah dan tabir ragawi kita

menyebut-nyebut nama-nama yang kian terlupakan zaman

sementara Islam telah jadi pakaian adab dan akhlak kita..

Mengenang pengembaraan bersama Kyai Mas Muhammad Hartoyo, Mursyid Mulia Halaqah 11 Mudzakarah Kanjeng Sunan Giri Prapen Al Jawi pada tahun 1999 silam di Maqam Kanjeng Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily di Pertapan Alas Rejenu, lembah Gunung Muria, Kudus. Sungguh pengalaman hidup serta pengalaman bathin yang takkan terlupakan.

Kawasan Wisata Alam Rejenu dengan ketinggian kurang lebih 1.150 M DPL, terletak dipegunungan Argo Jembangan Gunung Muria, berjarak kurang lebih 3 Km dari Pesanggrahan Colo. Masih banyak yang belum mengetahui kompleks ziarah ini, keadaan alamnya masih alami. Untuk mencapai lokasi, dari Desa Rejenu cukup jauh kurang lebih sekitar 3 km. Bisa ditempuh dengan jalan kaki atau kendaraan bermotor roda dua. Banyak dimanfaatkan oleh para Alim Ulama atau santri Pondok Pesantren setempat setempat untuk beruzlah, menyepi dan memperoleh ketenangan bathin.

Rejenu berlokasi di Pegunungan Argo Jambangan sekitar 3 km dari Pesanggrahan Gunung Muria. Menurut cerita rakyat dari desa Rejenu, Syech Hasan Sadzali adalah seorang Ulama, Guru Besar Spiritual dari Wali Songo. Beliau berasal dari Negeri Seberang, Timur Tengah. Berkelana untuk sampai ke Tanah Jawa untuk syiar agama Islam.

Sebuah makam di sebelah utara makam Sunan Muria, di atas objek air terjun Montel. Tepatnya di Japan Utara yang dikenal dengan Rejenu yang berdasarkan astronomi berada di koordinat 6° 39′ 6″ LS 110° 54′ 10″ BT. Di sini terdapat sebuah makam yang banyak diziarahi orang. Orang mengenalnya sebagai makam Syeh Sadzali. Salah satu murid Sunan Muria yang disegani.

Untuk mencapai makam ini memang tidak segampang bila ingin ziarah ke makam Sunan Muria. Kawasan ini boleh dikatakan belum tersentuh ”tangan” pembangunan yang menyediakan fasilitas kemudahan. Masih alami. Listrikpun belum tersedia. Walau sekarang jalan menuju tempat tersebut telah diperlebar dan dilapisi beton sehingga banyak tersedia jasa ojek (melalui rute desa Japan). Sedangkan bila melalui Air terjun Montel masih harus melewati jalan setapak.

Yang datang berziarah tidak hanya dari Kudus. Banyak yang berasal dari kota-kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Sebagian lagi dari Palembang dan Kalimantan. Bahkan, dari Singapura dan Irlandia. Selain itu, ternyata masih ada beberapa objek lain yang berdekatan dengan makam Syeh Sadzli dan Air Tiga Rasa ini.

Objek-objek itu antara lain :

[1] Air terjun Langgar Bubrah. Cukup tinggi, tak kalah dengan air terjun Montel di Colo. Namun, jalan ke arah sana baru jalan setapak atau lewat aliran Sungai Rejenu.

[2] Gua Jepang.

[3] Makam Syeh Subakir dan Ali Murtadho. Di sebelah atas melalui jalan setapak yang terjal.

[4] Sendang Anglingdarmo. Selain itu, Rejenu (Makam Syeh Sadzli dan Air Tiga Rasa) merupakan pos pendakian terakhir bagi yang ingin mendaki ke Puncak Argowiloso maupun Argojembangan. Dua diantara beberapa puncak tertinggi Gunung Muria.



Berjalan kaki dari Masjid Agung Demak Bintoro menuju Makam Kanjeng Sunan Kudus, kemudian melanjutkan perjalanan kaki hingga ke Alas Rejenu untuk berziarah ke Makam Kanjeng Syaikh Maulana Hasan asy-Syadzily dan beberapa tempat petilasan Wali Songo lainnya di sekitar Gunung Muria. Dan berlanjut ke atas Gunung Muria untuk berziarah ke Makam Kanjeng Sunan Muria melalui jalur Puncak Sanga Likur, sehingga kami sempat berziarah sebelumnya ke Makam Pangeran Kembar, serta beberapa Makam kerabat Kanjeng Sunan Muria lainnya.

Tuk Tiga Rasa, atau sumber mata air tiga rasa, konon kisahnya dahulu bermula dari kedatangan Syaikh Sadzali atau Mbah Kasan Sadali sebutan masyarakat Muria untuk Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily ke Pesantren Kanjeng Sunan Muria pada masa Wali Songo. Beliau adalah seorang musafir dari Baghdad Iraq yang ingin memuntut ilmu di tanah Jawa, hingga bermukim sampai akhir hayatnya di tengah Alas Rejenu yang terletak di utara lereng Gunung Muria.

Ketika Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily menghadap Kanjeng Sunan Muria, yakni Raden Umar Said untuk berguru. Dan selanjutnya, Kanjeng Sunan Muria meminta Syaikh Maulana Hasan Asy-Asyadzily untuk pergi ke sebelah utara, tepatnya di daerah Rejenu. Belakangan diketahui oleh masyarakat Japan di lembah Gunung Muria, bahwa Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily ternyata mempunyai banyak pemahaman tentang ilmu hikmah serta rahasia karomah. Sehingga, dari waktu ke waktu ada beberapa orang yang ingin berguru kepada beliau, lama-lama orang yang datang untuk mejadi santrinya pun semakin banyak. Melihat perkembangan itu, maka Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily bersama para santri dengan bantuan para penduduk sekitar Alas Rejenu kemudian membangun sebuah Langgar, atau mushola yang dibawahnya terdapat sebuah mata air yang digunakan para santri beliau untuk berwudhlu dan memenuhi kebutuhan hidup.

Namun, pada suatu ketika muncul berita bahwa air dari mata air tersebut mempunyai khasiat dapat menghidupkan orang yang sudah meninggal. Lama-kelamaan masyarakat Gunung Muria dan sekitarnya semakin banyak yang datang berbondong-bondong untuk melakukan persembahan atau ritual-ritual karena ingin mendapatkan berkah dari mata air tersebut. Ketika Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily melihat hal tersebut, maka beliau menjadi muraka dan langsung menutup sumber mata air tersebut, karena banyak hal yang dianggap musyrik telah dilakukan oleh penduduk setempat di daerah itu.

Beberapa waktu kemudian, di sebelah barat Langgar yang berjarak kurang lebih 100 meter, muncul tiga buah mata air yang kemungkinan besar dibuat oleh beliau untuk mengambil air wudhlu. Para santri pun menggunakan ketiga mata air tersebut sebagai tempat berwudhlu, mandi, mencuci dan lain-lain sebagai pengganti mata air telah yang di tutup oleh Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily. Setelah beliau wafat dipanggil untuk menghadap Allahu Rabbul Khaliq, jenazah beliau dimakamkan di sekitar tiga mata air yang lazim disebut Tuk Tiga Rasa tersebut.

Mengenai istilah air tiga rasa, menurut Mbah Abdullah kuncen makam yang pertama, istilah tersebut berasal dari lidah para musafir yang datang. Ketika pengunjung meminum ketiga sumber mata air tersebut, mereka merasakan rasa air yang berbeda-beda dari ketiga lubang mata air itu. Ada yang tawar, payau dan sedikit asin. Maka sejak saat itulah masyarakat sekitar gunung muria dan para musafir yang singgah menamakan mata air tersebut dengan sebutan “ Air Tiga Rasa”.

Adalah Mbah Alif, seorang pengembara rohani nan arif billah yang misterius dan susah banget ditemukan lagi! Jadi, sungguh beruntunglah diri saya bisa berjumpa dengan beliau bertepatan tanggal 9 September 1999, ketika sedang berziarah ke Makam Kanjeng Syaikh Syadzali yang tersembunyi di tengah kesunyian Alas Rejenu di lereng Gunung Muria wilayah Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Sejarah Syeh Sadzali masih penuh misteri. Pengurus Yayasan setempat sedang mengumpulkan data. Yang mereka yakini, Syeh itu salah satu murid Sunan Muria yang konon berasal dari negeri seberang, yang mengelana hingga ke tanah Jawa selepas menuntut ilmu Tasawwuf di Negeri Baghdad, Iraq.

Namun untuk selanjutnya akan saya luruskan kisah Beliau melalui hasil mudzakarah di Gunung Muria. Salah satu murid yang dikasihi karena pegang peranan penting ketika Sunan Muria mengadu kesaktian dengan Dampo Awang. Karena banyak yang iri kemudian tersisih atau disisihkan. Ada dugaan beliau menyingkir ke tempat dia dimakamkan sekarang ini di Rejenu.

Berdasarkan sanad silsilah yang terdapat dalam Kanzul Wasilah wa Sanads Silsilah Bani Maulana Al daly Asy-Syadzily Langkat di Pulau Sembilan, Langkat, Sumatera Utara, berikut adalah sanad silsilah daripada Kanjeng Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily yang dipusarakan di Pertapan Alas Rejenu, Kudus, antara lain sebagai berikut :

1)Syaikh Maulana Hasan Ali Nuruddin Asy-Syadzily Al Jawi

2)Syaikh Maulana Muhammad Shalih Asy-Syadzily Al Bantani

3)Syaikh Maulana Malik Abdurrahman Asy-Syadzily Al Malaka

4)Syaikh Maulana Malik Abdullah Asy-Syadzily Waliyul Qutubuddin Al Jawi

5)Syaikh Maulana Asy-Syarif Malik Ahmad Asy-Syadzily Al Jawi

6)Syaikh Maulana Asy-Syarif Abdul Malik Asy-Syadzily

7)Syaikh Maulana Asy-Syarif Abu Ahmad Awwaluddin Asy-Syadzily Al Quds

8)Syaikh Maulana Asy-Syarif Abu Hasan Ali Nurruddin Asy-Syadzily

9)Syaikhuna Maulana Al Quthub Asy-Syarif Abu Hasan Ali Asy-Syadzily

10)Maulana Asy-Syarif Abu Abdullah Al Maghribi Al Aqsha

11)Maulana Asy-Syarif Abdul Jabar

12)Maulana Asy-Syarif Abu Thamiim

13)Maulana Asy-Syarif Abu Hurmuz

14)Maulana Asy-Syarif Abu Qushaiy

15)Maulana Asy-Syarif Abu Yusuf

16)Maulana Asy-Syarif Abu Yushaqq

17)Maulana Asy-Syarif Abu Wardha

18)Maulana Asy-Syarif Abu Batthal

19)Maulana Asy-Syarif Abu Ali

20)Maulana Asy-Syarif Abu Ahmad

21)Maulana Asy-Syarif Abu Muhammad

22)Maulana Asy-Syarif Abu Issa

23)Maulana Asy-Syarif Abu Idhris

24)Maulana Asy-Syarif Abu Umar

25)Maulana Asy-Syarif Abu Idhris

26)Maulana Asy-Syarif Abu Abdullah

27)Asy-Syarif Hasan Al Mutsanna Radhiyallahu ‘anhu

28)Sayyiduna Asy-Syarif Al Imam Hasan As-Sabti Radhiyallahu ‘anhu

29)Sayyidina Al Imam Ali Al Haidar bin Abi Thalib Karamallahu wajhah

Ya Allah, tenggelamkan aku dalam Cinta-Mu,

hingga tak ada sesuatu pun yang menggangguku dalam jumpa-Mu.

Ya Allah, anegerahilah aku setetes Cinta,

agar aku bisa mencintai-Mu dengan Cinta yang sesungguhnya.

Ya Allah, limpahilah aku sekeranjang Rindu,

biar aku dapat mencumbu-Mu dengan seluruh jiwaku.





0 Response to "Kisah Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily Al Jawi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel