Home » » Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi Alias Nyi Ageng Serang

Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi Alias Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Beliau lahir di Serang, Perbatasan Purwodadi - Sragen, Jawa Tengah pada tahun 1762. Beliau adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. yang penetapanya dikukuhkan dengan surat keputusan presiden RI NO. 084/TK/1974 pada tanggal 13 desember 1974 Di Istana Negara Jakarta.

Beliau adalah putri bungsu dari , Panembahan Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Purwodadi - Sragen. Setelah ayahnya wafat, Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya.

Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga dari trah Panembahan Hadi yang berkedudukan di Kadilangu Demak, ia juga mempunyai keturunan seorang pahlawan nasional yaitu Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara.

Beliau dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Beliau pahlawan nasional yang hampir terlupakan, mungkin karena namanya tak sepopuler RA Kartini atau Cut Nyak Dien, tetapi beliau sangat berjasa bagi negeri ini. Warga Kulonprogo mengabadikan monumen beliau di tengah kota Wates berupa patung beliau sedang menaiki kuda dengan gagah berani membawa tombak.

Meski merupakan putri bangsawan, namun sejak kecil Nyi Ageng Serang dikenal dekat dengan rakyat. Setelah dewasa dia juga tampil sebagai salah satu panglima perang melawan penjajah. Semangatnya untuk bangkit selain untuk membela rakyat, juga dipicu kematian kakaknya saat membela Pangeran Mangkubumi melawan Paku Buwana I yang dibantu Belanda.

Yang sangat menonjol dari sejarah perilaku dan perjuangan Pahlawan Wanita ini antara lain ialah kemahirannya dalam krida perang, kepemimpinan yang arif bijaksana sehingga menjadi suri tauladan bagi penganut-penganutnya. Tekadnya keras untuk lebih maju dalam berbagai bidang, dengan jiwa patriotisme dan anti penjajahan yang kuat dan konsekuen. Imannya teguh terhadap Allah SWT dan terampil dalam menjalankan peran gandanya sebagai pejuang sekalligus istri/ibu rumah tangga dan pendidik utama putra-putranya.

Sebutan Nyi Ageng Serang dikaitkan dengan kota tempat kelahirannya yaitu kota Serang yang terletak perbatasan Purwodadi - Sragen Jawa Tengah (bukan kota Serang, Banten). Bumi Serang menjadi terkenal, semula karena menjadi Markas Besar perjuangan Natapraja atau Penembahan Natapraja, yaitu rekan perjuangan Mangkubumi dalam Perang Giyanti .

Nyi Ageng Serang mewarisi jiwa dan sifat ayahandanya yang sangat benci kepada penjajahan Belanda (VOC) dan memiliki patriotisme yang tinggi. Menyimpang dari adat kebiasaan yang masih kuat mengingat kaum wanita masa itu,

Nyi Ageng Serang mengikuti latihan-latihan kemiliteran dan siasat perang bersama-bersama dengan para prajurit pria. Keberaniannya sangat mengagumkan, dalam kehidupannya sehari-hari beliau sangat berdisiplin dan pandai mengatur serta memanfaatkan waktu untuk kegiatan-kegatan yang bermanfaat. Pandangannya sangat tajam dan menjangkau jauh ke depan. Menurut keyakinannya, selama ada penjajahan di bumi pertiwi, selama itu pula rakyat harus siap tempur untuk melawan dan mengusir penjajah. Karena itu rakyat terutama pemudanya dilatih terus-menerus dalam hal kemahiran berperang.

Hal itu rupanya dapat diketahui oleh penjajah Belanda. Karenanya pada suatu ketika mereka mengadakan penyerbuan secara mendadak terhadap kubu pertahanan Pangeran Natapraja bersama putra-putrinya itu, dengan kekuatan tentara yang besar. Karena usianya sudah lanjut, pemimpin pertahanan Serang di serahkan kepada nyi Ageng Serang bersama putranya laki-laki.

Walaupun diserang dengan mendadak dan dengan jumlah dan kekuatan tentara besar, pasukan Serang tetap berjuang dengan gigih dan melakukan perlawanan mati-matian. Dalam suatu pertempuran yang sangat sengit putra Penembahan Natapraja, saudara laki-laki nyi Ageng Serang, gugur. Pimpinan dipegang langsung sendiri oleh Nyi Ageng Serang dan berjuang terus dengan gagah berani.

Namun demikian, karena jumlah dan kekuatan musuh memang jauh lebih besar, sedangkan rekan seperjuangannya yaitu Pangeran Mangkubumi tidak membantu lagi karena mengadakan perdamaian dengan Belanda berdasarkan perjanjian Giyanti. (13 Februari 1755), maka akhirnya pasukan Serang terdesak, dan banyak yang gugur sehingga tidak mungkin melanjutkan perlawan lagi.

Walaupun Nyi Ageng Serang tidak mau menyerahkan diri, akhirnya tertangkap juga dan menjadi tawanan Belanda. Panembahan Natapraja sudah makin lanjut usia dan menderita batin yang mendalam dengan terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut. Akhirnya beliau jatuh sakit dan wafat.

Selama Nyi Ageng Serang dalam tahanan Belanda, terjadi perubahan-perubahan penting di Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I telah diganti Sultan Hamengkubuwono II. Bertepatan dengan Upacara Penobatan Sultan Hamengkubuwono II itu, Nyi Ageng Serang dibebaskan dari tahanan Belanda dan bahkan diantarkan ke Yogyakarta untuk diserahkan kepada Sri Sultan.



Entah apa latar belakang yang sesungguhnya sehingga hal itu terjadi. Yang dapat diketahui dengan jelas ialah bahwa kedatangan Nyi Ageng Serang di Yogyakarta disambut secara besar-besaran dengan tata cara penghormatan yang tinggi sesuai adat keraton. Upacara itu dilakukan mengingat jasa dan patriotisme almarhum Panembahan Natapraja dan Nyi Ageng Serang serta keharuman nama Pahlawan Nasional Wanita itu sendiri.

Tetapi kehormatan dan kemuliaan yang diterimanya di Keraton Yogyakarta itu tidak dapat mengurangi prinsip pendiriannya yang anti penjajahan. Jiwa patriotisme tetap berkembang subur. Cita-citanya untuk mengusir penjajahan Belanda tetap menggelora.

Namun beliau sebagai ahli krida dan siasat perang tahu benar bahwa saatnya masih belum tepat untuk  melanjutkan lagi perjuangannya. Dan selama waktu menunggu saat yang baik itu, beliau memanfaatkan waktunya untuk memperkuat potensi rohaniah/spiritualnya dengan cara samadi/tirakat mendekatkan diri lahir-batin kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Maka timbullah kemudian keinginannya untuk kembali ke Serang yaitu kota tumpah darahnya dan yang mempunyai arti khusus baginya. Permohonannya untuk kembali ke kota tersebut dikabulkan oleh Sultan Hamengkubuwono II dan kepergiannya bahkan diantarkan dengan penghormatan dan kebesaran.

Nyi Ageng kemudian menikah dengan seorang pangeran bernama Kusumawijaya yang ternyata sangat membahagiakannya. Bukan karena pangeran itu membawakan harta-kekayaan yang banyak, tetapi justru karena suaminya itu memiliki jiwa cinta tanah air yang tidak kalah kuatnya. Dari perkawinan ini Nyi Ageng dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

Dalam perkembangan waktu berikutnya makin terungkap bahwa Sultan Hamengkubuwono II itu ternyata adalah juga patriot tangguh. Melihat sikap dan tingkah laku penjajah Belanda yang makin hari makin menyinggung perasaan dan menyakitkan hati itu, makin menigkatkan rasa bencinya terhadap Belanda.

Di samping itu makin meningkatnya pula rasa kagum dan penghargaannya terhadap sikap dan pendirian serta perjuangan almarhum Panembahan Natapraja dan Nyi Ageng Serang. Timbullah hasrat Sri Sultan untuk mempererat tali persahabatan dengan anak keturunan Natapraja itu. Atas kesepakatan kedua pihak maka putra laki-laki Sultan Hamengkubuwono II B.R.M mangkudiningrat ,dinikahkan dengan putri Nyi Ageng Serang dan Pangeran Kusumawijaya. Dari perkawinan itu Nyi Ageng memperoleh cucu laki-laki yang diberi nama raden Mas Papak (disebut pula Pangeran Aria Papak).

Hubungan yang tidak selaras-serasi antara pihak Sultan dengan pihak Belanda itu makin memuncak dan gawat setelah diangkatnya Daendels menjadi Gubernur Jendral Pemerintah Belanda di Indonesia. Daendels watak dan tingkah lakunya keras dan congkak, juga terhadap Kesultanan. Dia antara lain tidak mau mengikuti adat tata cara yang berlaku bagi tamu-tamu di Keraton bahkan melancarkan intrik-intrik memecah belah persatuan di lingkungan keraton. Kemurkaan Sri Sultan Hamengkubuwono II tak dapat tertahan lagi dan timbullah bentrokan terbuka antara Sultan dan Belanda.

Rupanyan “jarum-jarum” pemecah belah yang disusupkan oleh pihak Belanda menemui sasarannya juga, sehingga timbullah pengkhianat-pengkhianat dalam lingkungan keraton, dengan akibat Sultan Hamengkubuwono II dapat dipaksa turun takhta oleh Belanda dan Sekutu dalamnya dan digantikan oleh Pangeran Adipati Anom (Pangeran Makhkota yang masih muda dan lemah pendiriannya) yang diangkat oleh Daendels menjadi Sultan Hamengkubuwono III.

Kekacauan timbul yang makin menjadi berlarut-larut dan tak terkendalikan, hingga akhirnya terjadilah peristiwa bersejarah yang menyebabkan pecahnya perang Diponegoro yang terkenal itu.

Semangat patriot dan rasa bencinya Nyi Ageng Serang terhadap Belanda yang sangat mendalam selama waktu itu terpendam dengan terjadinya peristiwa tersebut. Bagaikan bara api yang tersiram minyak, sehingga kembali berkobar lagi. Nyi Ageng Serang bangkit serentak bersama suami dan pengikut-pengikutnya langsung mengambil sikap nyata memihak kepada Pangeran Diponegoro dan melancarkan perlawanan terhadap Belanda. Suaminya gugur dalam pertempuran, besannya yaitu (bekas) Sultan Hamengkubuwono II dibuang oleh Belanda ke Penang, anak menantunya ialah Pangeran Aria Mangkudiningrat (putra Sultan Hamengkubuwono II) juga dibuang ke Penang. Sebelum itu Nyi Ageng Serang telah kehilangan ayahandanya, saudara laki-lakinya dan suaminya yang semuanya gugur di medan perang.

Sungguh berat pengorbanan dan derita batin yang harus dipikul oleh Nyi Ageng Serang. Namun semuanya itu beliau hadapi dengan tabah. Semangat dan tekadnya untuk melawan penjajah tidak kendor seujung rambut pun. Harapannya tercurah pada cucunya yaitu Raden Mas Papak. Nyi Ageng Serang mendidik dan menggemblengnya dengan semangat patriot sejati, serta melatihnya dalam hal ketrampilan serta siasat dan taktik keprajuritan dengan penuh disiplin.

Kemudian sang nenek beserta cucu terjun kembali ke medan perang bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro. Karena usianya sudah lanjut (73 tahun) Nyi Ageng Serang diangkat Pangeran Diponegoro menjadi penasihat bersama paman Pangeran Diponegoro sendiri, yaitu Pangeran Mangkubumi. Namun demikian Nyi Ageng Serang selalu ada di tengah-tengah para prajurit di garis depan. Berkat petunjuk dan nasihat Nyi Ageng Serang, pasukan Belanda selalu dapat dikalahkan dan diporak-porandakan.

Disamping itu Pangeran Papak juga telah membuktikan kemahirannya sebagai komandan pasukan. Sebagai hasil didikan dan gemblengan sang nenek, pasukan yang dipimpinnya selalu memperoleh kemenangan-kemenangan dalam berbagai peperangan.

Perlu diketahui bahwa Nyi Ageng Serang bersama Pangeran Papak pada waktu itu sudah menggunakan panji-panji yang berwarna merah putih yang disebut Panji Gula Kelapa(Gula yang dibuat dari buah kelapa berwarna merah, sedangkan daging kelapanya sendiri berwarna putih).

Panji merah putih dililitkan pada senjata tombak warisan almarhum Panembahan Natapraja. Disamping panji merah putih dililitkan pula Slendang Pusaka yang merupakan lambang patriotisme Nyi Ageng Serang. Pasukan Papak terkenal juga sebagai Pasukan Natapraja, dan mempunyai daerah pertempuran meliputi wilayah Serang Purwodadi, Gundih, Demak, Semarang, Kudus, Salatiga, Boyolali, Klaten, dan Magelang.

Walaupun terpaksa harus dipikul memakau tandu, dalam pertempuran-pertempuran besar Nyi Ageng Serang selalu ada di tengah-tengah prajurit untuk menggugah dan tetap menyalakan semangat, dan dimana perlu langsung memberkan komando.

Nyi Ageng Serang juga terkenal dengan siasat Daun Lumbu-nya (rumpun dioscorea, berwarna hijau, lebar, agak tebal tetapi lemas). Kegunaan daun itu yaitu, untuk menutup/pelindung diri sehingga tidak nampak dari jarak yang agak jauh oleh musuh, sebagai payung kalau hujan, dan sebagai pelindung terhadap panas terik matahari.

Siasat Daun Lumbu ini sering mengacaubalaukan musuh dengan serangan-serangannya yang tak terduga dan mendadak, karena tentera musuh tidak dapat mengetahui sebelumnya bahwa di sekitarnya ada pasukan Nyi Ageng Serang, karena tidak nampak sebab terlindung oleh daun-daun lumbu itu.

Berhubung dengan itu maka pasukan Nyi Ageng Serang atau Pasukan Natapraja ini terkenal dengan sebutan Pasukan Hantu, dan sangat ditakuti oleh tentara Belanda.

Sebagaimana kita telah mengetahui, Perang Diponegoro ini berlangsung berlarut-larut untuk waktu yang cukup lama, sedangkan Nyi Ageng Serang makin hari makin mendekati titik akhir dari hayatnya. Menjelang usia 76 tahun, karena beban tugas bercampur derita lahir-batin yang berat dan bertubi-tubi datangnya, kesehatan Nyi Ageng Serang makin mundur, walaupun semangat juangnya masih tetap tinggi. Akhirnya beliau jatuh sakit dan kemudian wafat ditahun 1828. Beliau dimakamkan di Dusun Beku, Pagerarjo, Kalibawang, Kulonprogo. Makam ini terletak di atas bukit kurang lebih 6 km dari jalan Dekso-Muntilan. Jarak dari Yogyakarta ± 32 km, dari kota Wates ± 30 km.

Makam ini dipugar pada 1983 dengan bangunan berbentuk joglo. Pada saat dipugar, makam suami, ibu, cucu dan yang telah dimakamkan di desa Nglorong, Kabupaten Sragen di pindahkan di tempat ini.

Sumber:

S. Soetomo dan Wongso, Honggo. Perjuangan wanita sejagat menuntut hak politik. 1990. Jakarta: Balai Pustaka.

KISAH LAIN NYI AGENG SERANG

Warga Kulon Progo mengabadikan monumen beliau di proliman jalan raya Wates-Jogja berupa patung beliau yang sedang menaiki kuda dengan gagah berani serta membawa tombak.

Nyi Ageng Serang (1752-1828) bersama ayah (Panembahan Serang) dan kakaknya (Kyai Ageng Serang) termasuk pemberontak-pemberontak yang merobek-robek Perjanjian Gianti (13-02-1755) dan meneruskan perlawanan bersenjata terhadap Belanda. Belanda menyergap pasukannya di Semarang. Ayah dan saudaranya gugur dalam pertempuran.

Ketika pecah perang Diponegoro pada tahun 1825, Nyi Ageng Serang kehilangan suaminya yang tewas dalam pertempuran. Nyi Ageng Serang kemudian meneruskan perjuangan, dan meskipun sudah lanjut usianya, ketika itu berumur 73 tahun, mendapat kepercayaan memimpin pasukan. Pasukannya membawa Panji "Gula Kelapa" (warna Merah Putih) di daerah Jawa Tengah bagian timur-laut.

Nyi Ageng Serang dalam pertempuran itu memprakarsai penggunaan daun Talas sebagai taktik penyamaran. Dua tahun sebelum Perang Diponegoro berakhir Nyi Ageng Serang wafat karena jatuh sakit, kemungkinan serangan wabah penyakit malaria sebagaimana penyakit yang banyak merenggut nyawa para prajuritnya, juga para prajurit opas Belanda di sepanjang pegunungan Menoreh.

Selanjutnya, perjuangan Nyi Ageng Serang dipimpin oleh cucunya yang bernama Raden Mas Papak yang bergabung dengan laskar Menoreh yang dipimpin oleh Raden Mas Singlon, salah satu putra Pangeran Diponegoro yang bergelar Pangeran Menoreh.

Nyi Ageng Serang, Pangeran Adi Suryo dan Pangeran Somo Negoro memimpin perlawanan di daerah pegunungan Menoreh, Kadipaten Adi Karto serta daerah Kadipaten Kulon Progo. Pangeran Joyo Kusumo memimpin perlawanan di daerah Kokap pegunungan Menoreh bersama Raden Mas Leksono Dewo (Ki Sodewo) di daerah mata air Sendang Clereng dan sekitar wilayah Serang Pengasih yang merupakan wilayah Kadipaten Adi Karto.

Sementara setelah terjadi geger di Gua Selarong, Pangeran Diponegoro dan Tumenggung Danu Kusumo serta para Kenthol Bagelen selanjutnya bergerak ke arah barat dan memimpin perlawanan di daerah Bagelen dan Alas Abang Somongari, wilayah purworejo dan kutoarjo kini.

Pangeran Adi Winoto dan Tumenggung Mangundipuro memimpin perlawanan di daerah Kedu. Pangeran Sayid Abu Bakar dan Tumenggung Joyo Mustopo memimpin perlawanan di daerah Lowano. Pangeran Joyo Kusumo memimpin perlawanan di daerah Ngayogyakarto bagian utara. Pangeran Suryo Negoro, Tumenggung Somodiningrat dan Tumenggung Suro Negoro memimpin perlawanan di daerah kuta negara Mataram dan wilayah timur Kraton Ngayogyakarto.

Pangeran Singosari dan Tumenggung Warso Kusumo memimpin perlawanan di daerah Gunung Kidul  hingga daerah Wonogiri. Tumenggung Karto Pengalasan bersama Raden Mas Wirono Rejo dengan Laskar Prambanan memimpin perlawanan di daerah Plered. Dan Tumenggung Mertoloyo memimpin perlawanan di daerah Pajang, serta Tumenggung Kartodirjo memimpin perlawanan di daerah Sukowati hingga daerah Sragen dan Sukoharjo kini.

Jejak Nyi Ageng Serang

Jalur itu tidak saja menawarkan pemandangan asri lahan pertanian dengan latar Perbukitan Menoreh, tetapi juga menawarkan kekayaan wisata budaya dan sejarah, mulai dari candi-candi, Bendungan Karang Talun, hingga makam Pahlawan Nasional Nyi Ageng Serang.

Dari arah Kota Magelang, Jawa Tengah, jalan samping ini diawali dari ibu kota Kabupaten Magelang, Mungkid, yang terletak sekitar 10 kilometer (km) ke arah selatan melalui jalan menuju kompleks wisata Candi Borobudur. Selepas kompleks kantor Bupati Magelang di Mungkid, akan ditemukan pertigaan besar. Jika membelok ke kanan akan menuju Candi Borobudur. Adapun jalur lurus akan menuju Candi Mendut.

Sekitar 900 meter dari pertigaan tersebut akan ditemukan Jembatan Kali Elo dengan pertigaan lain di ujungnya. Jalur utama ke kiri akan membawa pada Candi Mendut, sementara jalur ke kanan akan masuk ke jalur alternatif Kalibawang-Godean. Tepat di perbatasan provinsi ini, terdapat pintu air Karang Talun, yang juga dikenal dengan sebutan Ancol. Selain karena pemandangan unik, pintu air ini sarat dengan kisah sejarah Yogyakarta.

Pintu air, yang mampu mengairi 3.000 hektar lahan sawah itu, pertama kali dibangun pemerintah kolonial Belanda tahun 1909, kemudian dipugar Pemerintah RI pada tahun 1980.

Pintu air Karangtalun merupakan hulu Selokan Mataram yang sangat dikenal warga Yogyakarta. Selokan, yang menghubungkan Sungai Progo dan Opak itu, dinormalisasi oleh Sultan Hamengku Buwono IX pada masa penjajahan Jepang dengan metode padat karya sebagai strategi melindungi rakyat Yogyakarta dari pengiriman kerja paksa ke luar Jawa.

Di sebuah perbukitan tak jauh dari bendungan, tersembunyi kisah kepahlawanan lain, yaitu makam perempuan pahlawan nasional Nyi Ageng Serang. Makam salah satu panglima perang kepercayaan Pangeran Diponegoro itu terletak di Dusun Beku, Pagerarjo, Kalibawang, Kulon Progo. Jalan Dekso-Muntilan berakhir pada perempatan Dekso, sekitar 32 km barat Kota Yogyakarta. Untuk mencapai Kota Yogyakarta, ambil jalan ke kiri menuju jalan lingkar barat.

Nyi Ageng Serang putri Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Setelah ayahnya wafat Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya.

Meski merupakan putra bangsawan, namun sejak kecil Nyi Ageng Serang dikenal dekat dengan rakyat. Setelah dewasa dia juga tampil sebagai salah satu panglima perang melawan penjajah. Semangatnya untuk bangkit selain untuk membela rakyat, juga dipicu kematian kakaknya saat membela Pangeran Mangkubumi melawan Paku Buwana I yang dibantu Belanda.

Setelah Perjanjian Giyanti, Nyi Ageng Serang pindah ke Jogja bersama Pangeran Mangkubumi. Namun perjuangan melawan pasukan penjajah terus dia lanjutkan. Saat itu Nyi Ageng Serang memimpin pasukan yang bernama Pasukan Siluman Gula Kelapa dengan keahlian Serang yang cepat hingga membuat pasukan musuh kerap kocar-kacir. Pasukan ini juga menjadi salah satu pasukan yang sangat diperhitungan Belanda waktu itu.

Ketika Perang Diponegoro berkobar pada 1825, Nyi Ageng Serang juga menjadi salah satu panglima perangnya. Pasukannya semakin besar karena dibantu oleh kalangan bawah, khususnya petani yang banyak bergabung dengan pasukannya. Nyi Ageng Serang juga dikenal sebagai ahli siasat dan negosiasi.

Nyi Ageng Serang meninggal karena usia yang sudah lanjut dan dimakamkan di Dusun Beku, Pager harjo, Kalibawang, Kulon Progo. Makam ini terletak di atas bukit di desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, kurang lebih 6 kilometer dari jalan Dekso Muntilan. Jarak dari Yogyakarta kurang lebih 32 kilometer, dari kota Wates kurang lebih 30 kilometer.

Makam ini dipugar pada tahun 1983 dengan bangunan berbentuk joglo dan telah dimakamkan disini Nyi Ageng Serang beserta abdi dalemnya. Garwo ibu dan wayah dalem yang telah dimakmkan didesa  Nglorong, kabupaten Sragen pada waktu pemugaran makam dipindahkan ke makam ini. Makam ini terletak di atas bukit kurang lebih 6 km dari jalan Dekso-Muntilan. Jarak dari Yogyakarta ± 32 km, dari kota Wates ± 30 km.

Makam ini dipugar pada 1983 dengan bangunan berbentuk joglo. Pada saat dipugar, makam suami, ibu, cucu dan yang telah dimakamkan di desa Nglorong, Kabupaten Sragen di pindahkan di tempat ini.

Nyi Ageng Serang memang telah lama wafat, namun semangatnya masih dapat terlihat pada bagaimana semangat serta prestasi para pewaris semangat cita-cita perjuangan Nyi Ageng Serang di Kota Wates, Kulon Progo. [Kawan Indonesia]

Petilasan Nyi Ageng Serang

Sendang Suruh Giri Tengah Magelang

Pada masa perang, Pangeran Diponegoro bergerilya dan singgah di Kalitengah selama 7 bulan di rumah Nyi Ageng Serang. Pangeran Diponegoro adalah seorang yang taat beragama. Saat beliau mencari sumber air untuk bersuci, akhirnya menemukan Sendang Suruh dan beliau beribadah disitu. Dahulu ada sebuah surau didekat sendang tersebut.

Hingga saat ini sendang tersebut masih ada, airnya tak pernah habis meskipun musim kemarau. Di dekat sendang terdapat peninggalan berupa batu yang konon ada cap kakinya. Kini batu tersebut sudah dibalik dan dikelilingi oleh tembok setinggi 1 meter. Di sekeliling sendang terdapat hutan kecil  bernama Hutan Suruh. Banyak tumbuh pepohonan rindang, serta beberapa pohon yang sudah sangat tua berumur ratusan tahun seperti pohon Kecik, Wadang, dan Bendo, terletak di sebelah sendang.

Pos Mati merupakan nama sebuah puncak bukit yang terletak di sisi barat laut Desa Giritengah, berbatasan dengan Desa Ngadiharjo. Menurut sejarah, pada jaman perang digunakan oleh Pangeran Dipinegoro sebagai tempat pengintaian musuh serta tempat penyimpanan benda-benda pusaka seperti  pedang, keris, tombak, dll. Di atas puncaknya terdapat 2 pohon pinus yang hidup sampai sekarang. Dari tempat ini kita bisa melihat sunrisedi atas Candi Borobudur dan Gunung Merbabu.

Bukit Limasan

Bukit Limasan merupakan bagian dari perbukitan Menoreh yang menonjol keluar. Bukit ini juga erat kaitannya dengan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Di salah satu bagian bukit Limasan terdapat sebuah batu yang dipercaya sebagai batu keramat. Batu tersebut bentuknya menyerupai babi/celeng sehingga disebut Watu Celeng.

Bale Kambang/Bale Gedhe

Bale Kambang adalah sebuah bangunan kecil yang dulu digunakan sebagai pos istirahat oleh Nyi Ageng Serang pada zaman Perang Diponegoro. Dulunya bangunan ini berupa pondok bambu, kemudian dibuat permanen pada masa kepemimpinan Bapak Lurah Sochib. Bale Kambang sampai saat ini masih dianggap keramat oleh masyarakat sekitar.

Wasiat Nyi Ageng Serang :

" Untuk keamanan dan kesentausaan jiwa,

kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa,

Orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan,

Tidak akan terperosok hidupnya,

Dan tidak akan takut menghadapi cobaan hidup,

Karena Tuhan akan selalu menuntun

Dan melimpahkan anugrahNya

yang tiada ternilai harganya"

Rumongso melu handarbeni (merasa ikut memiliki), Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan), dan Mulat Saliro hangroso wani (mawas diri dan berani bertanggung jawab).

Wasiat tersebut disampaikan Nyi Ageng Serang pada saat beliau mendengarkan keluhan keprihatinan para pengikutnya dan rakyat, akibat perlakuan kejam kaum penjajah, yakni Belanda.


Sumber:

0 komentar:

Post a Comment