Home » , » Fakta Dan Sejarah Terkait Keberadaan Kadipaten Gendingan

Fakta Dan Sejarah Terkait Keberadaan Kadipaten Gendingan

Keberadaan Kadipaten Gendingan setidaknya diperkuat dengan bukti-bukti sebagai berikut :

1. Masih adanya tanah bekas berdirinya nDalem Kadipaten. Di wilayah Dusun Gendingan Lor, Desa Gendingan Kecamatan Widodaren, yang kemudian oleh penduduk sekitar di sebut dengan nDaleman.

2. Masih dapat ditemuinya skema tata kota yang mirip dengan struktur seperti yang ada di Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Jogjakarta Hayuningrat. Yakni adanya Desa Kauman yang berada di sisi barat Desa Gendingan. Dan letak bekas pasar yang berada di sisi timur yang sekarang menjadi bangunan SD.



( bandingkan dengan letak Kampung Kauman dan letak pasar gedhe).

3. Penamaan wilayah yang ada di sekitar Desa Gendingan yang memiliki hubungan erat dengan terjadinya satu peristiwa terkait Kadipaten Gendingan diantaranya adalah :

a. Penamaan Dukuh Punthuk

b. Penamaan Desa Kedunggudel

c. Penamaan Dusun Butuh

d. Penamaan Desa Pandean

e. Penamaan Dukuh Kajangan

f. Penamaan mBulak sawah Klithih

4. Sampai saat ini pun masih dapat dijumpai bekas saluran air yang konon dibuat oleh Adipati Kertonegoro untuk mengalirkan air dari sungai ke saluran air di sawah warga. Tempat itu kemudian di kenal dengan nama Talang Bubrah yang sekarang masuk di areal perhutani di dekat Dusun Nglongkeh Desa Gendingan.

5. Adanya makam Patih Ronggolono di Gunung Jabalkadas, Ngrambe

6. Adanya makam Adipati Kertonegoro di Dukuh Miridoyong Desa Kuniran Kecamatan Sine.

7. Masih dapat dijumpainya bekas bangunan pendopo Kadipaten yang saat ini berada di Dukuh Kedondong Desa Sekarjati Desa Mantingan. ( dahulunya setelah ditinggalkan oleh Adipati Kertonegoro, bekas pendopo Kadipaten Gendingan dibawa ke Desa Sekarjati untuk digunakan sebagai balai desa dan tempat Jumatan sebelum di desa tersebut didirikan masjid).


HAL-HAL YANG TERLANJUR MENJADI MITOS TERKAIT KADIPATEN GENDINGAN DAN ADIPATI KERTONEORO



Adipati Kertonegoro yang diceritakan mati murca ( mati dengan tubuh menghilang ) beserta nDalem Kadipaten.

Rumah Kadipaten diangkut oleh Adipati Kertonegoro dengan cara dibungkus menggunakan saputangan dan dibawanya terbang menggunakan kuda.

Tentang kuda Adipati Kertonegoro bernama Pagerwaja yang bisa terbang.

Janur yang selalu tumbuh berbentuk ikatan (simpul) yang katanya sebagai tanda saat kuda pagerwaja hendak mendarat.

Goresan berbentuk gambar lapak kuda di pucuk batang pohon jati di daerah Pitu yang konon bekas pijakan kuda Pagerwaja.

Tidak boleh mementaskan lakon kethoprak yang menceritakan Babad Gendingan di Desa Gendingan.

0 komentar:

Post a Comment