Home » , » Sultan Hamengkubuwana II Berkuasa Sebanyak Tiga Kali

Sultan Hamengkubuwana II Berkuasa Sebanyak Tiga Kali

Sultan yang Berkuasa Tiga Kali adalah Hamengkubuwana II

Sultan HB II kerap menentang bangsa penjajah Belanda maupun Inggris

Sultan Hamengkubuwana II sudah tiga kali bertakhta di Kesultanan Yogyakarta akibat campur tangan penjajah. Putra mahkota itu bernama Raden Mas Sundara, putra ke-5 Pangeran Mangkubumi atau Hamengkubuwana (HB) I, pendiri Kasultanan Yogyakarta yang merupakan sempalan dari Kesunanan Surakarta sesuai Perjanjian Giyanti 1755. Pada 24 Maret 1792, HB I wafat. Sebagai penerusnya, dinobatkanlah Raden Mas Sundara dengan gelar Hamengkubuwana II.

Penobatan Raden Mas Sundara sebagai penguasa baru Kesultanan Yogyakarta dilakukan beberapa hari setelah sang ayah meninggal dunia. Pada 1792 itulah untuk pertama kalinya ia menjadi raja. Kelak, HB II naik-turun takhta akibat campur tangan penjajah. Ia adalah raja Yogyakarta yang berkuasa dalam tiga masa yang berbeda.

Dilengserkan Gara-gara Menentang Belanda

Sejak mula, Hamengkubuwana II sangat antipati terhadap Belanda. Pada era pemerintahannya, ia menyaksikan keruntuhan VOC yang bobrok dan korup pada 1799. Pendudukan Belanda di Jawa pun mengalami masa transisi menuju pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Herman Willem Daendels datang pada awal Januari 1808. Ia mengemban misi untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris yang tengah berkonflik dengan Belanda. Daendels kemudian menempati posisi sebagai gubernur jenderal. Dari sinilah polemik dengan Sultan Hamengkubuwana II dimulai.

Daendels menerapkan sejumlah aturan baru, termasuk terkait sikap raja-raja lokal yang seharusnya lebih menghormati orang-orang Belanda. Raja Surakarta, Pakubuwana IV, menerima dengan harapan Daendels membantunya untuk merebut kembali wilayah Yogyakarta. Namun, tidak dengan HB II yang menolak mentah-mentah. Baginya, aturan tersebut sama saja pelecehan.

Baca Juga: Sejarah Dan Asal Usul Danan Sutawijaya

Seperti dikutip dari M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 (2008:244), Sultan HB II "menentang semua yang diwakili oleh Daendels", yaitu suatu zaman baru dalam sikap Eropa, di mana pelaksanaan kedaulatan serta pembaruan atas penduduk Jawa dianggap tepat dan benar oleh pemerintah kolonial.

Daendels tentu saja tidak senang melihat sikap HB II yang membangkang. Namun, ia tidak bisa begitu saja mengerahkan pasukan tanpa membuktikan kesalahan sang sultan. Maka, Daendels menunggu saat yang tepat, sembari tetap mencari cara agar HB II bisa disingkirkan.

Kesempatan itu datang satu dasawarsa berselang. Pada 1810, terjadi “pemberontakan” Raden Rangga Prawiradirja, Bupati Madiun sekaligus penasihat politik Sultan HB II, seperti ditulis oleh Peter Carey, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855, 2014). Atas kaitan itu, Belanda menuding bahwa HB II mendukung perlawanan Raden Rangga sehingga akhirnya sang sultan pun diturunkan paksa dari takhtanya.

Sebagai gantinya, Belanda menaikkan putra HB II, Raden Mas Suraja, sebagai raja baru dengan gelar Hamengkubuwana III. Selain itu, Belanda juga mengembalikan posisi Patih Danureja II selaku penasihat utama raja atau semacam perdana menteri, yang sebelumnya dipecat HB II karena cenderung memihak Belanda, dalam tulisan Djoko Marihandono & Harto Juwono, Sultan Hamengku Buwono 2 (2008: 83). 

Dibuang Inggris ke Seberang

Tak lama setelah memakzulkan Sultan HB II, pemerintahan Daendels ternyata usai pada 1811. Dalam Perang Napoleon di Jawa 1811, Kekalahan Memalukan Gubernur Jenderal Janssens (2011:12), Jean Rocher membeberkan bagaimana Inggris berhasil merebut dan menduduki wilayah kekuasaan Belanda di Nusantara, terutama Jawa.

Situasi huru-hara ini dimanfaatkan HB II untuk menduduki singgasananya lagi, dan menurunkan putranya dari takhta. Tak hanya itu, menurut Peter Carey dalam Sisi Lain Diponegoro (2017), Sultan juga kembali mendepak Patih Danureja II yang akhirnya mati dibunuh.

Inggris di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles berusaha berbuat baik supaya HB II bisa diajak bekerjasama. Raffles, misalnya, membantu pemberian gaji untuk pejabat lokal, juga mengizinkan rakyat menanam apapun dan menjual hasil panennya, kebijakan yang tidak dilakukan oleh Daendels sebelumnya, seperti ditulis G. Simons, Indonesia: The Long Oppression (2000: 115).

Namun, Belanda maupun Inggris sama saja bagi Sultan HB II. Mereka sama-sama bangsa asing yang ingin menguasai dan menginjak-injak Bumi Mataram. Maka itu, Sultan memasang sikap menentang terhadap regulasi apapun yang diterapkan pemerintah pendudukan Inggris.

Sempat nyaris terjadi insiden saling bunuh antara utusan Raffles dengan kerabat istana. Wakil pemerintah kolonial Inggris itu tidak terima karena kursi Raffles ditempatkan lebih rendah dari singgasana Sultan HB II. Beruntung, pertikaian tersebut bisa dilerai sebelum terjadi pertumpahan darah.

Sikap HB II itu lama-lama membuat Raffles kesal. Ia pun mempersiapkan kekuatan untuk menyerang Keraton Yogyakarta sewaktu-waktu. Inggris tak sendiri, mereka mendapat dukungan pasukan dari Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta, kerajaan pecahan ke-3 Dinasti Mataram, seperti ditulis Suwaji Bastomi, dalam Karya Budaya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara I-VIII (1996: 36).

Penguasa Surakarta lainnya, Pakubuwana IV yang dulu mendukung Belanda era Daendels, justru bersikap sebaliknya. Barangkali demi merajut hubungan baik dengan Kesultanan Yogyakarta, juga sebagai antitesis terhadap sikap Mangkunegaran, Pakubuwana IV menyokong rencana perlawanan HB II terhadap Inggris.

Selain dari Mangkunegaran, Inggris juga mendapat dukungan dari Pangeran Natakusuma. Orang dalam Kesultanan Yogyakarta ini adalah salah satu anak lelaki almarhum Sultan Hamengkubuwana I alias paman HB II (Soekanto, Perdjandjian Gianti: Perang Pahlawan Dipanegara (1952:89).

Hingga akhirnya, Inggris dengan bantuan Mangkunegaran, juga berkat peran Pangeran Natakusuma, menyerbu Yogyakarta. Peperangan pun terjadi yang berakhir dengan kekalahan HB II. 

Raffles lantas menunjuk Natakusuma sebagai raja ke-4 di Jawa, kendati kewenangannya tidak sebesar Kesultanan Yogyakarta atau Kesunanan Surakarta. Ia bergelar Paku Alam I, memimpin Praja Pakualaman. Inggris mengakuinya sebagai pangeran merdeka, diberikan tanah, tunjangan, pasukan, hak memungut pajak, serta hak takhta turun-temurun, dalam tulisan Soedarisman Poerwokoesoemo, Kadipaten Pakualaman (1985: 148). 

Kekalahan Sultan HB II membuatnya lengser lagi, kali ini dimakzulkan oleh Inggris. Raden Mas Suraja alias HB III naik kembali menjadi raja Yogyakarta. Inggris kemudian mengasingkan Sultan HB II jauh ke seberang, yakni ke Pulau Pinang, yang kini termasuk wilayah Malaysia, sebelum dipindahkan ke Maluku.
Sultan Sepuh yang Akhirnya Rapuh
Hamengkubuwana II lama menjalani masa-masa di tanah buangan dan melewatkan beberapa momen penting yang terjadi di Kesultanan Yogyakarta, termasuk berkuasanya kembali Belanda di Nusantara sejak 1816.

Dua warsa sebelumnya, tahun 1814, Sultan HB III wafat. Ia digantikan putranya, Raden Mas Ibnu Jarot yang bergelar Hamengkubuwana IV. Sultan HB IV ternyata tewas misterius dalam usia muda pada 1823. Penggantinya adalah sang putra mahkota, Raden Mas Gathot Menol yang naik takhta dengan gelar Sultan Hamengkubuwana V.

Tahun 1826, Belanda menurunkan paksa HB V yang masih sangat belia. Belanda membutuhkan keputusan sultan untuk meladeni perlawanan Pangeran Diponegoro yang sebenarnya masih kerabat dekat istana, yakni salah satu putra HB III alias cucu HB II.

Lantas, siapakah orang yang bisa diangkat sebagai raja Yogyakarta selanjutnya mengingat Sultan HB V masih belum cukup umur dan tentu saja belum punya penerus?

Pilihan Belanda jatuh kepada HB II yang masih melakoni masa pengasingan. Belanda ingin HB II menjadi raja lagi karena dikenal dekat dengan rakyat. Pengaruh HB II sangat diperlukan untuk memecah dukungan rakyat yang sebagian besar berpihak kepada Diponegoro, dalam karya Purwadi, Perjuangan Kraton Yogyakarta (2003: 54).


Hamengkubuwana II: Sultan yang Berkuasa Tiga Kalishare infografik

Pada 18 Agustus 1826, Sultan HB II naik takhta untuk yang ketiga kalinya. Prediksi Belanda tepat. Kembalinya HB II disambut gembira oleh rakyat Yogyakarta dan sedikit banyak melemahkan kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro.

Sultan HB II berada dalam situasi yang dilematis. Ia berusaha menertibkan keadaan dan mengembalikan keamanan Yogyakarta di tengah himpitan Belanda dalam rangka memadamkan Perang Jawa, dalam Djoko Marihandono & ‎Harto Juwono (2008: 224).

Namun, Sultan HB II sebenarnya memberikan dukungan kepada Pangeran Diponegoro. HB II selalu mencari alasan agar bisa menolak keinginan Belanda setiap kali diminta membujuk cucunya itu agar menyerah. Nantinya, lewat taktik licik, Belanda memperdaya Pangeran Diponegoro sekaligus menghentikan Perang Jawa pada 1830.


Dua tahun sebelum Perang Jawa usai, Sultan Hamengkubuwana II wafat pada 3 Januari 1828, tepat hari ini 190 tahun lalu, karena sakit dan usia yang renta. Raja Yogyakarta tiga masa berjuluk Sinuhun Sepuh (Raja Tua) ini meninggal dunia dalam usia 77. Penerusnya adalah cicitnya yang sempat diturunkan Belanda dan digantikannya, Sultan HB V.





Source:




  • Djoko Marihandono & Harto Juwono, Sultan Hamengku Buwono 2 (2008: 83)
  • Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 (2008:244)
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwana_II

0 komentar:

Post a Comment