Home » , , » Kisah Nyata Kematian Ki Dalang Panjang Mas Dan Cinta Amangkurat I Kepada Nyi Panjang Mas Sumber Malapetaka Mataram

Kisah Nyata Kematian Ki Dalang Panjang Mas Dan Cinta Amangkurat I Kepada Nyi Panjang Mas Sumber Malapetaka Mataram

Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan, pada suatu ketika Sunan Amangkurat I (1746-1777) merasa jumlah selirnya yang sudah 43 orang itu masih dirasa kurang. Dia lalu memerintahkan abdi dalem untuk mencarikan wanita untuk dijadikan selir tambahan. Syahdan di Mataram ada seorang dalang Wayang Gedok terkenal yang bernama Ki Wayah. Dia memiliki putri yang sangat cantik yang berprofesi sebagai pesinden. Sayangnya, ia sudah jadi isteri Ki Dalem atau Ki Panjang Mas, seorang dalang ternama di Mataram. Ada catatan yang menyatakan bahwa Ki Panjang Mas adalah dalang keraton yang hidup sejak masa Panembahan Sedo Krapyak. 

Sekalipun putrid Ki Wayah itu sudah bersuami, Amangkurat I tetap bersikeras menginginkannya. Informasi berikutnya ternyata Nyi Dalem sedang hamil dua bulan, tetapi raja tetap akan menikahinya setelah ia melahirkan. Anak bawaan Nyi Dalem yang kemudian diberi nama Pangeran Natabrata atau Raden Resika itu diakui dan disayangi seperti anak sendiri oleh sang raja. Raja pun sangat mencintai Nyi Dalem, bahkan dia lalu diangkat sebagai Ratu Wetan yang kemudian dikenal dengan sebutan Ratu Mas Malang. 

Di kalangan kerabat kraton pun timbul kecurigaan bahwa sang raja akan mengalihkan putera mahkota ke Pangeran Natabrata, sekalipun dia bukan darah Mataram. Kecurigaan tersebut semakin menguat ketika terjadi dua kali percobaan pembunuhan terhadap putra mahkota dengan racun yang dilakukan oleh sang raja sendiri. Percobaan pembunuhan putera mahkota yang terjadi setidaknya dua kali itu menimbulkan perhatian besar sampai ke luar kerajaan. 

Masuknya Ratu Mas Malang ke dalam istana telah menimbulkan intrik politik yang luar biasa sehingga raja pun menjadi tega untuk melenyapkan putranya sendiri demi kepentingan istri kesayangan dan anak tirinya. Tindakan Amangkurat I itu sungguh sulit dipercaya oleh akal sehat. Maka sangat masuk akal bahwa peristiwa itu dicatat oleh pemerintah Belanda di Batavia dalam laporan umum tertanggal 21 Desember 1663. Salah satu bunyi laporan khusus tersebut adalah bahwa kejahatan yang mengerikan itu "akan melampaui segala kekejaman yang telah dilakukan terdahulu".

Tak lama setelah menikahi Ratu Mas Malang, raja memerintahkan untuk membunuh Ki Dalem. Ratu Mas Malang sangat bersedih atas kematian mantan suaminya itu, kemudian ia jatuh sakit semacam muntaber dan kemudian meninggal. Amangkurat I curiga bahwa kematian Ratu Mas Malang adalah akibat persekongkolan para selir yang lain. Konon perlakukan raja yang berlebihan terhadap Ratu Mas Malang, membuat iri para selir dan mereka bersekongkol untuk membunuh dengan racun atau dengan guna-guna. Yakin akan perkiraan tersebut, raja pun marah besar dan seluruh 43 orang selir yang dianggap bersekongkol itu dibunuh dengan cara di masukkan bersama-sama ke dalam kamar, dikunci dari luar dan tidak diberi makan berhari-hari. Tentu saja para abdi dalem yang lain tidak ada yang berani protes atas tindakan kejam sang raja tersebut. Akibatnya satu per satu para selir itu pun meninggal kelaparan di lingkungan istana yang berlimpah makanan dan minuman. 

Raja yang bersedih ditinggalkan Ratu Mas Malang, memerintahkan agar jasad permaisurinya itu dibawa ke puncak Gunung Kelir. Jasad itu oleh raja dilarang untuk dikuburkan. Selama berhari-hari raja menunggui jasad Ratu Mas Malang di Gunung Kelir dan juga anak bawaan sang permaisuri yang entah kenapa ikut meninggal juga. Selama berhari-hari itu pula, raja sering tidur disamping jasad Ratu Mas Malang. Beberapa pejabat istana telah membujuknya agar kembali ke kraton dan mereka akan menguburkan jasad sang puteri, tetapi raja menolaknya mentah-mentah. Hingga pada suatu malam raja bermimpi, di mana di dalam mimpinya ia melihat Ratu Mas Malang telah berkumpul kembali dengan suaminya Ki Dalem yang telah lebih dulu meninggal. Baru setelah ada mimpi itu, raja bersedia meninggalkan Gunung Kelir dan memerintahkan untuk mengubur jasad Ratu Mas Malang.

Menurut cerita tutur ada versi lain yang menceritakan kisah tentang Ratu Mas Malang dan Amangkurat I. Konon menurut kabar dari mulut ke mulut itu, sebenarnya sang raja mengalami masalah biologis, yaitu tidak mampu ereksi lagi. Atas nasehat Ibu Suri, keperkasaan sang raja itu bisa dipulihkan lagi jikalau ia memperistri Nyi Dalem yang dianggap memiliki keistimewaan. Mendengar anjuran Ibu Suri ini, raja pun segera ingin melihat Nyi Dalem. Lalu dia menyamar sebagai rakyat biasa, mendatangi pertunjukkan wayang yang dimainkan oleh Ki Dalem dengan istrinya sebagai pesinden. 

Singkat cerita, raja langsung tertarik pada kecantikan Nyi Dalem dan memerintahkan untuk segera membawanya ke kraton dengan segala cara. Saat pertunjukan Ki Dalem sedang seru-serunya, lampu blencong yang menerangi kelir wayang tiba-tiba padam. Dalam keadaan gelap-gulita, Nyi Dalem yang sedang nyinden itu diculik paksa. Pada saat yang sama, Ki Dalem berserta seluruh penabuh gamelan dibunuh. Pertunjukan pun berubah jadi gempar, tetapi mana ada yang berani bertanya apalagi protes.

ki panjang mas dan amangkurat 1
ilustrasi
Kini kompleks makam Ratu Mas Malang merupakan salah satu situs peninggalan Amangkurat I. Lokasinya pada koordinat S 07°52'13,0" E110°24'37,5", tepatnya di desa Plered, Kec.Plered, Kab. Bantul, Yogyakarta. Makam Ratu Mas Malang atau sering disebut sebagai Makam Gunung Kelir dibangun pada tahun 1665 dan selesai pada tanggal 11 Juni 1668. Bahan yang dipakai adalah batu putih untuk dinding dan tembok keliling, dan batu andesit untuk nisan. Kompleks makam ini terletak di puncak sebuah bukit yaitu bukit Gunung Kelir dengan ketinggian 99 meter di atas permukaan laut. 

Pada kompleks makam ini ada 28 buah nisan, terkelompok dalam 3 lokasi, yaitu 19 nisan ada di halaman depan, 1 nisan ada di halaman belakang dan 8 nisan berada di halaman inti. Satu nisan yang ada di halaman belakang adalah nisan Ki Dalang Panjang Mas dan salah satu nisan di halaman inti adalah nisan Ratu Mas Malang, permaisuri tercinta sang raja. Nisan-nisan yang lainnya adalah makam para pengrawit gamelan yang ikut terbunuh. Berdasar penelitian BP3 DIY tebal tembok keliling makam antara 120-155 cm dengan tinggi tembok sekitar 200 cm. Oleh Amangkurat I, makam Gunung Kelir diberi nama “Antaka Pura” - artinya “istana kematian”.

Untuk memulihkan suasana hatinya setelah ditinggal mati sang permaisuri, Amangkurat I memerintahkan punggawanya mencari pengganti Ratu Mas Malang. Dengan cepat diperoleh nama Rara Oyi yang kemudian "diperam" untuk dipetik nanti setelah masak. Jeda waktu penantian ini ternyat justru menimbulkan kekejaman-kekejaman baru. Itu terjadi karena Rara Oyi diam-diam bercinta dengan putra mahkota, Pangeran Adipati Anom. Lagi-lagi raja marah besar dan mengusir putra mahkota. Tidak cukup sampai di situ, sang putra mahkota diperintah untuk membunuh Rara Oyi dengan tangannya sendiri, kalau tidak dia yang akan dibunuh oleh sang raja. 

Orang-orang yang dianggap terlibat dalam percintaan Rara Oyi dengan Pangeran Adipati Anom pun semua dihabisi. Pangeran Pekik (kakek Pangeran Adipati Anom dari garis ibu) beserta seluruh keluarganya sejumlah 40 orang juga dihabisi akibat merestui hubungan Rara Oyi-Pangeran Adipati Anom. Demikian juga Ngabehi Wirareja beserta seluruh keluarga yang ditugasi untuk menjaga Rara Oyi pun dibunuh karena dianggap mengkhianati raja.

Demikianlah sang raja yang mempunyai keuasaan besar itu, tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Sayangnya di sekeliling sang raja juga tidak ada yang berani mengingatkan apalagi menentangnya. Seorang wanita yang mantan pesinden telah begitu merasuk ke dalam jiwanya dan menggerakkan seluruh isi hatinya untuk berbuat apa saja dengan tujuan hanya terpusat untuk kesenangan si wanita itu dan diri sendiri sang raja. 

Tidak peduli itu semua harus mengorbankan kewibawaan, kehormatan dan kekuasaannya sekalipun. Kekejaman yang dilakukan Amangkurat I tersebut tidak hanya ada dalam wacana cerita tutur, tetapi juga dicatat oleh Raffles, Valentijn, Laksamana Speelman, Jagapati dan Tumenggung Surawikrama. Dua yang terakhir adalah juru tulis keraton. Itulah akibatnya kalau kekuasaan mutlak jatuh ke tangan orang yang tidak tepat, sedangkan di luar kekuasaan tersebut tidak ada sistem kontrol yang tangguh yang mampu dan punya kewenangan penuh untuk mengingatkan sang penguasa.







Source:

Agung Sudarmawan & Ki Joko Sigit Pangarso,Ompong,Telo 
de Graaf, Runtuhnya Istana Mataram, hlm.21

0 komentar:

Post a Comment