Sejarah Kabupaten Magetan Lengkap

Konten [Tampil]

Sejarah Berdirinya Kabupaten Magetan



Dalam kehidupan sosial tradisi, ternyata melalui tulisannya banyak para pakar sejarah menyebut-nyebut Magetan. Hingga pula dalam kenyataanya, di Magetan tidak sedikit dijumpai peninggalan-peninggalan pada jaman dulu kala, umpamanya di desa Kepolorejo Kecamatan Kota Magetan, di desa Cepoko Kecamatan Panekan. Di makam Sonokeling desa Kepolorejo Kecamatan Kota Magetan terdapat sebuah makam yang membujur kearah utara selatan. Batu nisan sebelah berukuran lebar 34 cm, tebal 26 cm, tinggi 66 cm yang bahannya terbuat dari batu andezit dimana wujud tulisannya diperkirakan berasal dari sekitar abad 9.



Di dukuh Sadon desa Cepoko kecamatan Panekan terdapat Kalamakara dengan reruntuhan batu lainnya yang bahannya juga dari batu andezit. Berdasarkan hal tersebut terdapat kemungkinan dipersiapkannya pendirian bangunan candi. Pada reruntuhan batu yang terletak dibawah makara terdapat artikel yang tidak terbaca sebab telah rusak, dari wujud tulisannya bisa diperkirakan bahwa peninggalan tersebut dari jaman Erlangga (Kediri). Reruntuhan tersebut oleh masyarakat sekitar dikenal dengan nama Dadung Awuk.



Ditempat lain juga terdapat peninggalan-peninggalan yang lain seperti di puncak gunung Lawu kawasan kabupaten Magetan ialah peninggalan yang berbentuk Pawon Sewu (candi pawon) atau punden berundak yang diperkirakan sebagai hasil tradisi jaman Majapahit. Demikia juga di lereng gunung Lawu terdapat peninggalan candi Sukuh dan candi Ceto. Adanya peninggalan-peninggalan tersebut sesuai dengan perkembangan di akhir kerajaan Majapahit, dimana waktu itu banyak rakyat dan kalangan keraton yang meninggalkan sentra kerajaan dan pergi ke gunung-gunung dalam usaha mempertahankan kebudayaan dan agama Hindu termasuk gunung Lawu kabupaten Magetan.



Imbas ini telah disebut pula dalam babad Demak antara lain sebagai berikut : bahwa pangeran Gugur putera Brawijaya Pamungkas yang oleh masyarakat Magetan disebut sunan Lawu, berdomisili diwilayah gunung Lawu yang batasnya sebelah selatan Pacitan, sebelah timur bengawan Magetan dan sebelah utara bengawan (Solo, Ngawi, Bojonegoro).

Dalam babad Tanah Jawi terdapat bait-bait sebagai berikut :



Pupuh 3 :

Anging arine raneki

Sang dipati tan purun ngalihno

Dene patedan Sang Raji

Pandji sureng raneku

Duk sang nata aneng samawis

Mangkana Kartojudo

Ing raka tinuduh

Anggetjah mantjanegoro ponorogo, madiun lan saesragi

Kaduwang ka magetan



Pupuh 5 :

Saking nagari ing Surawesti

Wus sijaga sedja magut ing prang

Mring demang Kartojudone

Ing pranaraga ngumpul

Ka Magetan kaduwung sami

Tuwin ing Jagaraga

Pepak neng Madiun

Sampun ageng barisira

Sira demang Kartojudo budal saking

Caruban saha bala



Pupuh 8 :

Sira demang Kartojudo aglis

Budal saking Madiun negara

Mring Jagaraga kersane

Dene ingkang tinuduh

Mring kaduwang mantri kekalih

Ngabehi Tambakbojo

Lawan Wirantanu

Angirid prajurit samas

Mantri kalih ing kaduwang sampun prapti

Mandek barisira



Pupuh 9 :

Nahan gantija kawuwusa

Sri Narendra gja wagunen ing galih

Denja mijarsa warta



Pupuh 10 :

Pambalike wong Mantjanegoro

Geger tepis iring Kartosuro





Dari artikel tersebut diatas yang teruntai dalam wujud tembang dandang gulo bisa diambil rumusan bahwa :

Pertama : Magetan benar-benar ialah tempat Mancanegoro Mataram (tempat takluk kerajaan Mataram)

Kedua : Magetan ialah tempat berkumpulnya prajurit Mancanegoro untuk menyerang sentra pemerintahan Mataram yang pada dikala itu berada dibawah akibat kekuasaan kompeni belanda

Ketiga : Kekacauan terus menerus yang dialami oleh sentra pemerintahan



Kerajaan Mataram yang lazim disebut sebagai perang mahkota (didalangi oleh kompeni belanda) karenanya Magetan sebagai tempat mancanegoro mendapatkan akibat seketika dari perang mahkota itu. Kerja perang tersebut banyak leluhur Mataram yang wafat dan dimakamkan di tempat Magetan.



Dengan data-data tersebut diatas penting sekali bahwa warisan-warisan leluhur dan latar belakang sejarah Kabupaten Magetan itu terus dipepetri sehingga tetap mempunyai poin, arti dan jiwa pendorong motivasi demi suksesnya pembangunan yang semakin berkembang.

Kumpulan Sejarah http://juragansejarah.blogspot.com

Sebagian Berdirinya Kabupaten Magetan

Show

Kabupaten Magetan Pada zaman Belanda

Kabupaten Magetan dibawah pimpinan Bupati Yoso Negoro mengalami kehidupan yang hening, semakin lama semakin ramai dan berkembang. Beliau benar-benar arif dan berpandangan jauh. Mataram sebagai tanah kelahirannya tidak rela dijajah oleh kompeni Belanda. Beliau banyak mencurahkan perhatiannya pada kesejahteraan rakyat dan keamanan tempat Magetan. Tidak tahun kemudian Magetan dilanda bencana alam kekurangan bahan makanan. Sehingga banyak timbul perampokan-perampokan. Kerena meluasnya preman yang sulit diatasi, karenanya beliau memberanikan diri mohon bantuan ke sentra pemerintahan Mataram. Dari bantuan Mataram ini walhasil situasi bisa diatasi dan keamanan tempat pulih kembali. Sesudah lama kemudian beliau wafat, beliau beserta istrinya dimakamkan di makam Setono Gedong di desa Tambran Kecamatan Magetan.



Sesudah Bupati Yosonegoro wafat pada tahun 1703, beliau digantikan oleh Raden Ronggo Galih Tirtokusumo. Sesudah wafat beliau dimakamkan di Durenan Kecamatan Plaosan. Sesudah Ronggo Galih karenanya bupati selanjutnya ialah Raden Tumenggung Mangunrana. Beliau menjadi Bupati dan usai pada tahun 1730. Dan setelah wafat dimakamkan di Pacalan. Bupati selanjutnya ialah Raden Tumenggung Citradiwirya. Beliau menjabat Bupati di Magetan selama 13 tahun dan usai pada tahun 1743. Sesudah R.T. Citradiwirya sebagai Bupati, substitusinya ialah Raden Arya Sumaningrat. Beliau menjabat Bupati di magetan selama 12 tahun, ialah dari tahun 1743 sampai 1755.



Segala diuraikan di muka, bahwa dengan semakin berkobarnya pemberontakan Trunojoyo yang ditunjang oleh orang-orang Makasar dan pengikut Sunan Gir. Satu demi satu tempat Mataram jatuh ketangan Trunojoyo, mulai dari Madura, Suropringgo (Surabaya) dan seterusnya seluruh pesisir utara pulau Jawa. Dalam waktu singkat sentra pemerintahan Mataram di Pleret (sebelah selatan Yogyakarta) jatuh ke tangan Trunojoyo pada tanggal 2 Juli 1677. Sultan Amangkurat I melarikan diri dan wafat di Tegalwangi (Kabupaten Tegal Jawa Tengah).



Sentra benda-benda penting (alat upacara kerajaan) diboyong ke Jawa Timur. Selanjutnya kerajaan Mataram dipindahkan ke Kediri dibawah kekuasaan Trunojoyo. Sentra Sultan Amangkurat I digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat II. Dengan bantuan kompeni Belanda beliau sukses memadamkan pemberontakan Trunojoyo.Trunojoyo sukses ditangkap dan dibunuh. Selanjutnya keraton Mataram pindah ke Kartosuro pada tahun 1681. Sentra dalam negeri Mataram dan sentra pemerintahan Mataram belum benar-benar tentram. Pada situasi ini terjadilah pemberontakan Untung Suropati terhadap Mataram (tahun 1684) yang memfokuskan tentaranya di Pasuruan.



Pemberontakan terhadap Mataram tersebut disebabkan oleh sikap Sunan Mas (Sultan Amangkurat III) yang benar-benar radikal anti terhadap kompeni Belanda yang pada waktu itu benar-benar besar kekuasaannya di pemerintahan Mataram. Sikap Sunan Mas yang demikian menyebabkan beberapa ningrat keraton Mataram lebih sepakat untuk mengangkat Pangeran Puger (Paman Sunan Mas) sebagai raja Mataram. Niat ini dilaksanakan dengan minta bantuan Belanda di Semarang. Belanda menyanggupkan bantuan asal Cilacap dan Madura sebelah Timur (tempat mancanegara Mataram) diserahkan terhadap Belanda. Selanjutnya pemerintahan Mataram diserang oleh Belanda bersama tentara Pangeran Puger. Sunan Mas (Amangkurat III) melarikan diri dari Kartosuro ke Pasuruan Jawa Timur dan bergabung dengan Untung Suropati.



Pada dikala-dikala transisi di pemerintahan Mataram inilah, Magetan sebagai tempat mancanegara Mataram yang terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, berada dibawah perintah seorang penguasa tempat yang bergelar Adipati, ialah Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat. Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat ialah putra dari Raden Tumenggung Sasrawinata ialah bupati Pasuruan yang wafat di Pasuruan dan keturunan dari Panembahan Cakraningrat I yang wafat pada tahun 1630 di Kamal yang kemudian dimakamkan di Astana Hermata Madura. Tugas beliau yang pertama ialah mengamankan tempat perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, lebih tepatnya tempat Magetan jangan sampai terkena kekacauan akibat perang saudara di sentra pemerintahan Mataram. Sebelum menjabat Bupati Magetan beliau ialah seorang Tumenggung yang menjabat Bupati di Kertosono.



Pemerintahan Kabupaten Magetan dibawah Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat menjadi tentram dan kawasan pemerintahan menjadi tempat mancanegara dari Mataram. Beliau berkesimpulan bahwa para raja Mataram didalam batinnya tidak senang terhadap Belanda, tapi tidak bisa berperilaku banyak. Kebencian terhadap kompeni dikaitkan dengan pemberontakan terus menerus terhadap sentra pemerintahan yang berada dibawah akibat Belanda. Beliau anti terhadap Belanda, tapi mengingat kemempuan yang ada dan mengamati kejadian-kejadian yang dialami pemerintahan Mataram, karenanya beliau lebih memfokuskan perhatian terhadap kesejahteraan rakyat Magetan. Meskipun beliau wafat, Magetan dalam situasi aman. Kehidupan rakyat tentram meski Mataram mengalami kekisruhan akibat perang saudara yang disebut sebagai suksesi oorlog oleh para pakar sejarah. Jenazah Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat dimakamkan di tanah bekas perdikan desa Pacalan Kecamatan Plaosan. Ketentuan makam Nyai Mas Purwodiningrat terletak di bekas perdikan desa Pakuncen kawasan Kertosono. Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat menurunkan dua orang putri ialah :



Pertama, Putri Sepuh Gusti Kanjeng Ratu Kedaton garwo dalem Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II.
Kedua, Putri Anom Gusti Kanjeng Ratu Anom, garwo dalem Pangeran Paku Alam yang kemudian disebut Gusti Kanjeng Paku Alam I.


Bupati Magetan selanjutnya setelah wafatnya Bupati Kanjeng Kyai Purwodiningrat ialah Bupati Raden Tumenggung Sasradipura. Beliau wafat pada tahun 1825. Bupati selanjutnya ialah Raden Tumenggung Sasrawinata. Pada masa pemerintahan Bupati Raden Tumenggung Sasrawinata ini terdapat momen-momen penting, ialah :

·         Pada tanggal 4 Juli 1830 atau 3 Sura tahun Je 1758, Belanda mengadakan konferensi di desa Sepreh (Ngawi), dengan mengundang seluruh Bupati Mancanegara wetan. Semenjak konferensi itu bahwa seluruh Bupati Mancanegara wetan harus menolak kekuasaan Sultan Yogyakarta dan Susuhunan Surakarta dan mulai dikala itu harus patuh terhadap Belanda di Batavia.



Sesudah tahun 1830 Kabupaten Magetan menjadi tempat jajahan Belanda. Pada masa itu yang menjabat Bupati Magetan ialah R.T. Sasrawinata (wafat tahun 1837). Kabupaten Magetan dipecah menjadi 7 tempat Kabupaten , ialah :

Kabupaten Magetan I (kota) dengan Bupati R.T. Sasrawinata
Kabupaten Magetan II (Plaosan) dengan Bupati R.T. Purwawinata
Kabupaten Magetan III (Panekan) dengan Bupati R.T. Sastradipura
Kabupaten Magetan IV (Goranggareng Genengan) dengan Bupati R.T. Sasraprawiro yang berasal dari Madura.
Kabupaten Magetan V (Goranggareng Ngadirejo) dengan Bupati R.T. Sastradirya
Kabupaten Maospati (setelah ditinggalkan oleh Bupati wedana R. Ronggo Prawiradirja), Bupatinya R.T. Yudaprawiro.
Kabupaten Purwodadi, Bupatinya R. Ngabehi Mangunprawiro (sejak tahun 1825 disebut R. Ngabehi Mangunnagara).




Pada tahun 1837 Kabupaten Magetan II dan Magetan III ditiadakan dan dijadikan satu dengan Kabupaten Magetan I. Pada tahun 1866 Kabupaten Goranggareng ditiadakan. Pada tahun 1870 kabupaten Purwodadi ditiadakan. Berturut-ikut serta yang menjabat Bupati di Purwodadi ialah :

R. Ng. Mangunprawiro alias R. Ng. Mangunnagara
R. T. Ranadirja
R. T. Sumodilaga
R. T. Surakusumo
R. M. T. Sasranegara (1856-1870)


Pada tahun 1880 Kabupaten Maospati ditiadakan.

Tempat Kanjeng Kyai Adipati Purwodiningrat, yang menjabat Bupati Magetan di antaranya ialah Raden Tumenggung Sasradipura, masih kerabat Sultan Hamengkubuwono II dan ketentraman Magetan semakin terganggu akibat perang saudara di sentra pemerintahan Mataram. Dan pada tahun 1742 Raden Mas Garendi (cucu Sunan Mas) menyerbu keraton Kartosuro sehingga Paku Buwono II meloloskan diri ke Magetan melalui Tawangmangu dan menuju Ponorogo (Jawa Timur).



Pada masa pangeran Mangku Bumi (saudara dari Paku Buwono II) memberontak pemerintahan Mataram di bawah Paku Buwono II, karenanya dengan campur tangan kompeni Belanda, perselisihan ini diakhiri dengan diadakannya perjanjian Gianti pada tanggal 13 Desember 1755. Adapun hasil dari perjanjian Gianti ialah Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua bagian ialah :

·         Mataram dengan ibu kota Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Pangeran Mangkubumi, mengucapkan diri sebagai Susuhunan Ing Mataram, bergelar Sultan Hamengku Buwono I pada tanggal 11 Desember 1749. Dan selanjutnya tempat ini disebut Kasultanan.

·         Mataram dengan ibu kota Surakarta di bawah Paku Buwono III (putra Paku Buwono II). Dan selanjutnya tempat ini disebut Kasunanan.



Sebagai akibat perpecahan kawasan kerajaan Mataram tersebut perlu diuraikan tentang pembagian dan susunan Mataram. Kerajaan atau negara terdiri atas tiga bagian ialah :

Nagara ialah kota atau tempat kedudukan raja.
Nagara Agung ialah tempat-tempat disekitar kota tempat kedudukan raja.
Mancanegara ialah tempat-tempat diluar Nagara dan Nagara Agung.


Bupati Mancanegara tersebut dikepalai oleh seorang Bupati Wedana (Bupati Kepala). Separo-tempat Mancanegara Yogyakarta dan Surakarta mencakup tempat-tempat berikut :

Mancanegara Yogyakarta: Maduin, Magetan, Caruban, separuh Pacitan, Kertosono, Kalangbret, Ngrawa (Tulungagung), Japan (Mojokerto), Bojonegoro, Gerobogan.

Mancanegara Surakarta : Jogorogo, Ponorogo, Mengkudu Pacitan, Kediri, Blitar, tambah Srengat dan Lodoso, Adalah (Nganjuk-Brebek), Wirosobo (Mojoagung), Blora, Banyumas dan Keduwang.



Sejas itu Bupati yang menyuruh Kabupaten Magetan berturut-ikut serta sebagai berikut :

·         Tahun 1837 : Raden Mas Arja Kertonegoro



Sebelumnya menjabat Bupati Mojokerto. Tugas utamanya menentramkan masyarakat Magetan dari insiden-insiden yang terjadi. Beliau hanya menurunkan seorang putri yang menikah dengan Raden Mas Arya Surohadiningrat II Bupati Ponorogo yang dimakamkan di Gondoloyo (Ponorogo).

·         Tahun 1862 : Raden Mas Arja Hadipati Surohadiningrat



Sebagai Bupati Magetan menggantikan Raden Mas Arja Kertonagara

·         Tahun 1887 : Raden Mas Arja Kerto Hadinegoro



Sesudah putra laki-laki dari Raden Mas Arya Surohadiningrat, oleh masyarakat Magetan dikenal dengan sebutan Gusti Ridder.

·         Tahun 1912 : Raden Mas Arya Hadiwinoto



Beliau ialah putra dari Raden Mas Arja Kerto Hadinegoro.

·         Tahun 1938 : Raden Mas Tumenggung Surjo



Beliau ialah putra menantu Raden Mas Arja Hadiwinoto. Sesudah menjabat Bupati Magetan beliau menjabat Su Cho Kan Bojonegoro pada tahun 1943 dan Gubernur Republik Indonesia pertama Jawa Timur mulai tahun 1945 sampai dengan tahun 1948. Beliau gugur pada tanggal 13 Nopember 1948 waktu berkobarnya pemberontakan PKI Madiun dimana dalam perjalanan beliau dari Yogyakarta ke Surabaya, ditengah perjalanan di hutan jati Peleng Kecamatan Kedunggalar Kab. Ngawi dihadang dan dibunuh oleh pemberontak PKI. Para Bupati tersebut diatas dimakamkan di makam Sasono Mulyo Sawahan Magetan.

·         Tahun 1943 : Raden Mas Arja Tjokrodiprojo





Kabupaten Magetan Pada zaman Penjajahan Jepang



Pada tanggal 18 September 1948 meletuslah pemberontakan PKI Muso di Madiun. Pada malam harinya Magetan diserbu oleh PKI Muso dengan mengadakan penangkapan dan penghilangan nyawa orang lain terhadap pimpinan pemerintah dan tokoh-tokoh lawan partainya. Antara lain yang tercatat sebagai korban keganasan PKI ialah Bupati kepala tempat : Soedibjo, Wakil ketua BPRD : Moh. Wijono, Patih Magetan : Soekardono, Kepala Polisi Magetan : Ismiadi beserta member kepolisian Magetan, Kepala Japen Magetan : Umardanus, Ketua PDR Magetan : Judikusumo, Komandan KDM Magetan : Kapten Imam Hadi, Komandan Depo Magetan : Kapten Soebirin, Kepala Kecuali masyarakat Magetan : Sumardi, pegawai KUA Magetan : Kyai Samsoeri, pegawai Pengadilan negeri Magetan : Murti dan lain sebagainya. Seketika itu gedung-gedung pemerintah diambil alih oleh PKI, diantaranya gedung Arentnest, sentra pendidikan militer akademi di Sarangan, gedung tempat para siswa latihan Opsir Polisi Militer (LOPM) di Sarangan, gedung-gedung sentra Akademi Angkatan Laut (bekas hotel lawu) di Sarangan. Selama kurang lebih seminggu PKI berkuasa di Magetan. Sementara itu pemerintah Indonesia yang pada waktu itu berada di Yogyakarta, merespons pemberontakan PKI Madiun dengan tegas. Pemerintah mengirimkan satuan dari divisi Siliwangi ke Madiun untuk menindak pemberontakan. Pada akhir September 1948 pasukan Siliwangi dibawah pimpinan Letkol Sadikin dan Mayor Achmad Wiranatakusumah sampai di Sarangan melalui Cemorosewu. Tempat dimulai penangkapan terhadap orang-orang PKI, orang-orang yang ditawan PKI dibebaskan. Penyerangan pasukan Siliwangi diteruskan ke Plaosan, kemudian pasukan Siliwangi tidak seketika ke Magetan tapi ke Madiun melalui Ngariboyo Goranggareng. Dan pada tanggal 26 September 1948 Magetan bisa direbut oleh TNI. Separo-tempat yang telah dibebaskan dibentuk Pemerintahan Militer KODM (Komando Onder Distrik Militer) di tingkat Kecamatan dan KDM (Komando Distrik Militer) di tingkat Kabupaten.



Agresi Belanda



Persetujuan Linggarjati tanggal 19 Maret 1947 yang antara lain menceritakan bahwa Belanda mengakui kekuasaan de fakto dari Republik Indonesia di Pulau Jawa, Madura dan Sumatra. Tapi oleh Belanda bahwa sebelum Negara Indonesia Serikat terwujud, Belanda yang berdaulat di Indonesia. Persetujuan Linggarjati dilanggar dengan jelas-terangan oleh Belanda, dengan jalan mengadakan serangan sporadis disana-sini yang mengakibatkan melemahnya Republik Indonesia dan mulai membentuk negara boneka dimana-mana serta melakukan politik devide et impera. Pada tanggal 19 Desember 1948 ibukota Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta diduduki oleh Belanda. Presiden, Wakil Presiden dan beberapa mentri dan pejabat negara ditawan dan diasingkan. Belanda menyangka dengan metode ini Republik Indonesia akan usai. Sesudah perlawanan terhadap Belanda tidak usai, perang gerilya yang dipimpin panglima besar Sudirman terus dilaksanakan. Hingga pula di Magetan, TNI dan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) bersama-sama rakyat membuat rintangan jalan dengan metode menebang pohon untuk dirintangkan ditengah jalan, membuat lubang-lubang di jalan penting dan menghancurkan jembatan-jembatan. Gedung-gedung yang diperkirakan akan bisa diterapkan sebagai markas Belanda dibumi hanguskan.



Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda menyerbu Magetan. Belanda masuk Magetan dari arah barat melalui Tawangmangu Jawa Tengah. Sekalipun jembatan besar di Cemorosewu telah dihancurkan oleh TRIP, tapi bisa dibenarkan kembali oleh Belanda. Sesudah 7 hari berada di Sarangan dan bermarkas di hotel Bergzinct, kemudian menuju ke Magetan. Di Plaosan pasukan Belanda dipecah manjadi dua jurusan ialah melalui Pacalan dan nDele terus Nitikan. Pasukan kompeni yang melalui Pacalan menjumpai kesusahan, sebab jembatan Gemah yang telah dihancurkan dan mendapatkan perlawanan sengit dari TNI dan TRIP. Terjalin kerjasama yang kuat antara TNI dan rakyat, ternyata dengan dibuatnya dapur lazim yang bertempat dirumah Kepala Desa Slagreng. Dari arah timur, Belanda datang melalui Madiun – Goranggareng – Sundul – Krajan – Ngariboyo. Meskipun di Ngariboyo mendapatkan perlawanan dari TNI dibawah pimpinan Lettu Tatang Soetrisno. Dari arah sebelah utara Belanda datang dari jurusan Simo – Kendal – Panekan – Magetan. Samapi di kota, Belanda tidak mengamati adanya kantor Kabupaten sebab sebelumnya telah dihancurkan oleh gerilyawan, dan Pemerintahan Magetan pindah ke luar kota Magetan. Bupati beserta staf hijrah ke dukuh Ngelang Baleasri kemudian ke dukuh Geger Sambirobyong. Disini Bupati Magetan Kodrat Samadikoen dengan staf termasuk Patih Soehardjo ditangkap Belanda waktu tengah malam.



Sekalipun pejabat-pejabat penting tertangkap Belanda, tapi tidak melemahkan motivasi perlawanan terhadap Belanda. Perang gerilya masih terus dilancarkan pasukan TNI dan rakyat. Pasukan Batalion Sukowati menyebar kekuatannya menjadi pasukan-pasukan kecil untuk mengadakan perlawanan secara gerilya.Pemerintahan Militer (KDM) dibagi menjadi dua, yang pertama di selatan sungai Gandong dibawah pimpinan Mayor Soebiantoro dan satunya berada di utara sungai Gandong dibawah pimpinan Letkol Anwar Santosa. Dengan tertangkapnya Mayor Soebiantoro dan pindahnya Letkol Anwar Santosa dari Magetan karenanya KDM dipimpin oleh Lettu Soedijono. Pimpinan gerilya yang tidak terlupakan oleh masyarakat Magetan antara lain Letnan Paimin, Iskak dan Harjono. Pada awal Nopember 1949 pasukan Belanda yang ada di Parang disergap oleh kompi Letnan Soebandono, kompi Niti Hadisekar dan kompi Kresno yang mengakibatkan banyak korban di kedua belah pihak. Desa Sumberdodol kec. Panekan menjadi tempat berkumpulnya para pimpinan sipil dan militer. Antara lain Bupati Magetan dan Residen Madiun. Rumah Sakit Sesudah Magetan dipindahkan pula kesana. Pasukan Batalion TNI dibawah pimpinan Komandan Kompi Moch. Jasin pernah berada di desa Jabung.



Demikianlah selama Magetan diduduki Belanda, rakyat dan TNI saling bahu membahu melawan musuh. Pemerintahan Kabupaten yang berada di luar kota, demikian pula pemerintahan Kecamatan tetap berjalan dengan lancar sekalipun harus berpindah-pindah tempat menghindari incaran Belanda. Gerilyawan memblokade bahan makanan terpenting beras dan telor dilarang dibawa masuk ke kota. Untuk memperlancar sirkulasi ekonomi dan perdagangan karenanya dikeluarkan uang kertas yang tenar dengan nama uang check. Belanda makin terdesak dimana-mana, di kota-kota Belanda tidak merasa aman. Belanda tidak bisa bergerak secara leluasa sebab pasukan gerilya bisa menyerang sewaktu-waktu. Serangan paling berani yang dilaksanakan besar-besaran ialah pada tanggal 1 Maret 1949 ke dalam kota Yogyakarta dan sukses mendudukinya selama 6 jam oleh TNI. Sesudah Belanda terpaksa mengambil langkah menuju meja perundingan dengan pihak Indonesia. Tanggal 14 April 1949 diadakan perundingan. Delegasi RI dipimpin oleh Mr. Mohammad Rum sedang Belanda dipimpin oleh Dr. Van Royen. Hasil perundingan antara lain diadakan penghentian tembak menembak dan pengembalian pemerintahan RI ke Yogyakarta. Kemudian disusul konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tanggal 23 Agustus sampai 2 Nopember 1949. Delegasi RI dipimpin oleh Dr. Moh. Hatta. Keputusan meja bundar berisi bahwa Belanda mengakui kedaulatan RI sepenuhnya tanpa sarat selain Irian Barat. Di Magetan perundingan antara Belanda dan RI berlangsung di Desa Cepoko kecamatan Panekan, perwakilan RI dipimpin oleh Letnan Soebandono. Pada tanggal 26 Oktober 1949 tentara belanda meninggalkan kota Magetan dan pada tanggal 1 Januari 1950 pemerintahan yang berada di pedalaman kembali ke dalam kota.



Sesudah kurang lebih dua bulan Kepala Pemerintahan Magetan dijabat dikala itu oleh Kodrat Samadikun. Pada pertengahan Pebruari 1949 Bapak Kodrat Samadikun ditangkap oleh Belanda di desa Sambirobyong dan kemudian Belanda mendirikan pemerintahan federal di Magetan tapi ruang geraknya hanya terbatas di kota Magetan dan Maospati saja. Dengan adanya penangkapan ini Pemerintah Kab. Magetan terjadi kevakuman terpenting lagi setelah tanggal 21 April 1949, Mayor Subiyantoro selaku komandan KDM bersama para staf ditangkap juga oleh Belanda. Dengan adanya kevakuman itu karenanya Komandan STM (Sub Teritorium Militer) Madiun yang dikala itu dipimpin oleh Letkol Marjadi pada tanggal 25 April 1949 menunjuk Lettu Sudijono sebagai komandan KDM dan beberapa perwira lainnya sebagai staf yang semuanya berasal dari Batalion Yudo. Pada dikala itu mulailah Komandan KDM Lettu Sudijono membentuk kembali Pemerintahan Darurat Sipil RI dengan memerintahkan saudara R. Ismail, Soewarno dan Suwito yang masih berada di kota Magetan untuk menghadap ke markas. Sesudah menghadap, pada tanggal 23 Mei 1949, terhadap mereka diberi tugas sebagai berikut : M. Doellah sebagai Sekretaris Kabupaten, R. Ismail sebagai Semenjak Wedono di Kab. Magetan, Soewarno dan Soewito sebagai staf. Tugas utama ialah membentuk kembali Pemerintahan Sipil dan kemudian tersusunlah Pemerintahan Sipil sbb :

1.      M. Ilham sebagai Wakil Bupati

2.      M. Doellah sebagai Sekretaris

3.      R. Ismail sebagai Ass. Wedono

4.      M. Prawoto sebagai Kepala PDK

5.      Soewandi sebagai Kepala Japen

6.      Soemardi sebagai Ka Din Perindustrian

7.      Sarbini sebagai Camat Magetan

8.      Moestajab sebagai Camat Panekan

9.      Harsono sebagai Camat Plaosan

10.  Hardjosoewignjo sebagai Mantri Polisi

11.  Saekon sebagai A W Parang

12.  Ledoeng sebagai A W Lembeyan

13.  Sanoesi sebagai A W Kawedanan

14.  Imam Soefaat sebagai A W Bendo

15.  Sarman sebagai A W Takeran

16.  Benoe sebagai A W Maospati

17.  Koesoemo Hadiprodjo sebagai A W Karangrejo

18.  R. Abdollah sebagai A W Karangmojo

19.  Soerat sebagai A W Sukomoro

20.  Koesman sebagai A W Poncol



Dan seluruh bisa sukses sekiranya ditunjang oleh :

·         Dukungan penuh dari rakyat

·         Kerjasama yang erat antara sesama instansi terpenting antara sipil dan militer, pemerintah dengan rakyat

·         Jiwa dan motivasi persatuan dan kesatuan serta gotong-royong yang tinggi

·         Kejujuran, keuletan tenaga juang yang tinggi dari para petugas Negara RI



Sehingga lahir motto :

·         Lebih bagus hancur lebur dari pada dijajah kembali

·         Merdeka atau mati

·         Jer Basuki Mawa Bea

·         Rawe-rawe rantas malang-malang putung



Sebuah momen yang perlu dicatat ialah pada dikala akan diadakan ulan tahun kemerdekaan RI yang ke IV, guna melumpuhkan pemerintah Federal di kota oleh Komandan KDM dikeluarkan perintah agar para pegawai yang berada di kota Magetan seluruh keluar sebab kota Magetan akan digempur. Sesudah tersebut ditaati oleh para pegawai Federal dan mereka keluar menggabungkan diri pada pemerintah RI. Untuk menjamin kelangsungan hidup aparat pemerintah RI dan untuk mengelola jalannya pemerintahan karenanya pemerintah mengadakan pungutan-pungutan yang berupa pajak innatura, retribusi pasar, dana atas ijin perusahaan yang bisa dipertanggung jawabkan. Pada dikala KDM membutuhkan keuangan karenanya kebutuhan tersebut dicukupi oleh KDM yang mempunyai persediaan cukup. Dengan mencontoh taktik dan taktik militer yang diatur oleh KDM karenanya kantor Pemerintahan RI Kab. Magetan senantiasa berpindah-pindah tempat, seperti :

·         Dari Gemawang ke Bogang desa Ngunut

·         Dari Bogang ke Blimbing desa Ngunut

·         Dari Blimbing ke Wadung Parang

·         Dari Wadung ke Ngariboyo Kec. Magetan pada akhir Oktober 1949



Masa Sebelum Orde Baru



Sesudah tahun 1950 smpai tahun 1955 usaha pembangunan yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Magetan di dalam usaha mengisi cita-cita kemerdekaan tidak banyak dijadikan. Imbas ini disebabkan oleh akibat situasi negara yang sedang menghadapi gangguan keamanan. Gangguan yang merintangi pembangunan di negara ini antara lain seperti gerakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) dibawah pimpinan Westerling yang meletus di Bandung tahun 1950, gerakan RMS (Republik Maluku Selatan) dibawah pimpinan Soumokil, pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat dan lain-lain. Sesudah pulihnya keamanan, Pemerintah Separo Kab. Magetan karenanya sebagai Bupati ditunjuk M. Soehardjo dan sekretarisnya R. Soemardjo. Kantor Kabupaten yang bertempat di kantor Distrik Magetan (kini kantor Berdasarkan Bupati di jalan A. Yani No.88) dipindah dan dipecah menjadi dua ialah kantor Otonom di desa Tambran (kini jl. Jendral Soedirman No. 2 Magetan) dan kantor Pamong Praja yang bertempat di desa Tambran pula. Sementara itu pemerintah sentra telah mengamati perlu untuk membentuk tempat-tempat Kabupaten yang mempunyai hak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri seperti dalam Undang-Undang No. 22 tahun 1948 tentang pemerintah tempat. Dengan Undang-Undang No. 12 tahun 1950 tentang pembentukan tempat-tempat Kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Timur, di Propinsi Jawa Timur diatur 29 Kabupaten termasuk Kabupaten Magetan.



Berdasarkan hasil sidang pleno BPRD (Badan Perwakilan Rakyat Separo) tanggal 27 Desember 1950 keanggotaan Badan Eksekutif yang hanya tinggal dua orang dilengkapi lagi menjadi lima orang. Berdasarkan Tempat Pemerintah No. 39 tahun 1950 tentang Pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat Separo Sementara (DPRD-S), karenanya walhasil di Magetan jumlah member 22 orang. Pembangunan di Magetan yang bisa dilaksanakan sejak tahun 1950 antara lain pembenaran jembatan dan gedung-gedung penting yang dibumi hanguskan pada dikala agresi Belanda. Pasar kota Magetan selesai dibangun pada tahun 1951. Pada awal tahun 1952 dimulai pembangunan Kantor Pemerintah Separo Kabupaten Magetan yang mencakup kantor Otonom, PUK, Kantor Pamong Praja, dilengkapi dengan ruang sidang DPRD, kantor Bupati Kepala Separo dan kantor DPD.



Sesudah momen G30S/PKI pada tahun 1965, Pemerintah Kabupaten Magetan seketika melakukan penyuluhan dan penerangan terhadap seluruh penduduk sampai ke pelosok desa. Ini bertujuan untuk menjadikan stabilitas dan rehabilitas pasca pemberontakan. Rencana dalam usaha untuk merombak dan meninggalkan pola pikir yang lama diganti dengan pengamalan Pancasila. Dibidang stabilitas politik, keamanan dan ketertiban ternyata berjalan dengan bagus. Meskipun pada Pemilu tahun 1971 situasi Magetan benar-benar menggembirakan. Disamping itu hasil nyata bidang pembangunan bisa dijadikan dengan bagus sebab tanpa adanya gangguan stabilitas keamanan.



Sebab Tahun 1966 – 1998 (Orde Baru)



Lahirnya ORDE BARU sebagai pembenaran terhadap seluruh wujud penyelewengan Orde Lama yang di dominasi PKI, memulai lembaran baru dan menumbuhkan harapan untuk mengenyam kehidupan yang lebih bagus di alam Kemerdekaan



Tatanan kehidupan dikembalikan pada Tempat Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekwen. Tempat nyata hal ini ditandai oleh 2 pokok tonggak bersejarah:

Pertama : Pencanangan Tempat Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) tahap Pertama oleh Presiden Soeharto, yang dilaksanakan mulai tanggal 1 April 1969

Kedua : Penyelenggaraan Pemilihan Sesudah menurut Pancasila dan UUD 1945 yang dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 1971 di seluruh kawasan Negara Kesatuan Republik Indonesia.



Keadaan itu pula penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan di Kabupaten Separo Tingkat II Magetan yang waktu itu (1968-1972) dipimpin oleh Boediman sebagai Bupati Kepala Separo lebih di titik beratkan pada stabilitas Separo dan perapihan administrasi pemerintahan



Dalam hal ini Boediman memberi tahu SANTIAJI SAPTA “P” ialah :



· PAGAR, maksudnya keamanan
· PENGERTIAN PAMONG, Maksudnya agar aparat pemerintah lebih bersifat melayani rakyat, bukan lagi PANGREH yang hanya ngereh atau main kuasa
· PENERTIBAN ADMINISTRASI menuju Panca Paralel
· PENDIDIKAN
· PRODUKSI (Pertanian, Peternakan dan Pengairan)
· PKK (waktu itu Kecuali Kesejahteraan Keluarga), sebagai ganti PENTERAGA
· PAJAK (untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat ikut serta mensukseskan pembangunan)




Pohon PAGAR atau keamanan pada waktu itu menjadi perhatian utama, mengingat Kabupatem Magetan waktu itu diduga masih menjadi basis pergerakan PKI bawah tanah sebagai Separo COMPRO LAWU.



Kehidupan politik secara berangsur-cicil bisa dikuasai. Imbas ini ditandai dengan lancarnya perubahan KOKARMINDAGRI dan organisasi Karyawan Instansi lainnya menjadi KORPRI sebagai satu-satunya wadah pembinaan Pegawai Negeri Sipil diluar kedinasan, serta suksesnya penyelenggaraan Pemilu pertama di zama Orde Baru tanggal 3 Juli 1971.



Hasil pemilu 1971 dikukuhkan dengan Keputusan Gubernur Kepala Separo Tingkat I Jawa Timur tanggal 1 Oktober 1971 No. Pem./618/G/80/Des. Jangka Keanggotaan DPRD Tingkat II Magetan yang berjumlah 40 orang, terdiri dari wakil GOLKAR 29 orang, PNI 5 orang, NU 4 orang, PARMUSI 1 orang, dan PSII 1 orangPelantikan dilaksanakan pada tanggal 7 oktober 1971, dengan susunan pimpinan: Ketua NGABDAN MARGOPRAJITNO, Wakil Ketua: LETKOL.MOERJIDAN dan TRIMO.



Sektor ekonomi juga mulai membaik, antara lain dengan cara kerja BIMAS GOTONG ROYONG yang kemudian ditingkatkan menjadi BIMA YANG DISEMPURNAKAN. Meskipun dengan itu upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani melalui PANCA USAHA TANI di Kabupaten Magetan oleh Ketua Satpel Bimas R. SOEBOWO (waktu itu Patih Magetan) dipopulerkan dengan istilah RABI GABAH (Rabuk cukup, Kecuali unggul, Garapane apik, Banyune cukup, Hamane di berantas.



Sektor ketenaga kerjaan mulai mendapatkan perhatian melalui Proyek Padat Karya dan Proyek PKDI (Pemberian Karenanya Darurat Istimewa), demikian pula usaha konservasi tanah mulai digerakkan melalui Tempat, yang serempak pertama kali dilaksanakan di Gunung Bungkuk dan Gunung Bancak (Desa Garon dan Desa Tladan) menempuh luas penghijauan 3,031 Ha dan Pengawetan tanah seluas 800 Ha.



Pada tahun 1971 telah dibangun Bronkaptering dan perpipaan air bersih sepanjang 11 km dari Sumber Jabung kecamatan Panekan ke desa Ginuk, kecamatan Sukomoro yang benar-benar kekurangan air. Tempat demikian, akibat pola kehidupan pada masa Orla yang lebih banyak berorientasi pada politik, kemampuan ekonomi masyarakat memang masih lemah. Pada awal Pelita (1969) ternyata masih ada penduduk Magetan terpenting di desa-desa yang menderita busung lapar. Sentra demikian mensupport Pemerintah Kabupaten Magetan bersama instansi yang berkaitan terpenting Dinas Sosial. Seketika itu industri gamelan Kauman kecamatan Karangrejo juga mulai melebarkan sayap pemasaran. Dan mulai menjual sampai ke luar negeri.



Sebab 1974– 1979



Tempat dari cara kerja Pelita tahap I telah menampilkan adanya perubahan kemajuan di beberapa segi kehidupan, tapi masih belum menempuh akselerasi dan modernisasi pembangunan. Seketika itu situasi dan situasi tempat dilihat belum sepenuhnya aman dari gangguan sisa-sisa G30S/PKI. Kecuali dalam rangka pembersihan lingkungan aparat Pemerintah sesuai dengan Panca Krida Kabinet Pembangunan II, melalui Sub Direktorat Tradisi dibentuk regu Sreening Separo yang menjangkau sampai tingkat desa. Dalam rangka usaha mengakselerasikan pembangunan dinas, jawatan dan instansi di koordinasikan sehingga bisa dirumuskan skala prioritas pembangunan. Dalam relasi ini target pembangunan di Separo Magetan didasarkan pada 4 unsur, ialah :

1.      Sebab air yang tidak merata di tempat.

2.      Tempat tempat Sarangan beserta telaga pasirnya sebagai objek liburan.

3.      Kerusakan hutan lindung di tempat pegunungan.

4.      Penanggulangan gangguan keamanan.



Dalam pelaksanaannya, pembangunan diberi arahan pada usaha pemeliharaan, pembenaran dan pengadaan sarana dan prasarana di bidang pertanian, perhubungan, pendidikan, agama dan pemerintahan. Seketika itu prasarana perhubungan dan fasilitas lazim juga mendapatkan perhatian lebih, seperti pembangunan terminal bis Maospati, pasar sayur magetan, pemugaran pasar baru, peningkatan jalan dalam kota dan jembatan. Di bidang ekonomi penyaluran sarana produksi dilihat. Peserta BIMAS dikembangkan untuk menjadi INMAS. Sementara itu amalgamasi Koperasi Tani menjadi KUD (Koperasi Unit Desa) ialah peningkatan BUUD. Meskipun dengan itu potensi perkebunan tanaman tebu ditingkatkan melalui program Tebu Rakyat Intensifikasi. Tempat cukup bagus, dimana pabrik gula Rejosari Gorang Gareng menjadi produsen gula terbaik.



Seketika itu gerakan Tabungan Nasional dan Tabungan Asuransi Berjangka (TABANAS/TASKA) ternyata juga berkembang dengan cepat, sehingga pertama kali diadakan penilaian, Kabupaten Magetan pada tahun 1974 diungkapkan sebagai juara Nasional dan meraih plakat TABANAS / TASKA tingkat Nasional. Sementara itu, situasi sosial politik telah terkendali dan stabil. KORPRI mulai berfungsi membina Pegawai Negeri Sipil dari seluruh jajaran dan unit, sehingga semakin memperkuat persatuan dan kesatuan pegawai negeri sipil. Hingga pula organisasi-organisasi istri karyawan yang semula bermacam-ragam digabung menjadi satu nama dalam Dharmawanita sebagai wadah pembinaan istri pegawai negeri sipil.



Dibidang Sosial Wilayah perkembangannya juga cukup menggembirakan. Program Kelurga Berencana yang pada mulanya menghadapi bunyi-bunyi sumbang terpenting sekiranya dikaitkan dengan poin agama dan etika tradisionil (banyak anak banyak rejeki, makan tidak makan asal kumpul), berkat adanya penyuluhan pada setiap peluang telah membuka pengertian dan kesadaran masyarakat. Wilayah lagi setelah BKKBN Kabupaten Magetan mengadakan penyuluhan keliling dengan peralatan yang komplit dan memadai, sehingga jumlah akseptor KB pun meningkat. Perkembangan lebih lanjut dari program KB di Kab. Magetan semakin bagus dengan terbentuknya PKBI (Paguyuban Keluarga Berencana Indonesia) cabang Magetan. Ditambah lagi suasana kehidupan keagamaan berkembang dengan bagus. Pembangunan sarana dan prasarana peribadatan semakin banyak dibangun di desa-desa.



Sebab 1979– 1984



Dengan hasil-hasil pembangunan yang semakin banyak dirasakan oleh masyarakat, stabilitas tempat menjadi semakin mantap dan pertumbuhan perekonomian masyarakat menampilkan peningkatan. Keadaan Kabupaten Magetan bisa dikatakan ”Separo Kantong” masih banyak yang belum mengetahui Magetan. Keadaan itu Bupati Magetan pada dikala itu ialah Drs. Bambang Koesbandono kerap mengadakan ekspose atau release aktivitas pembanguna di Kabupaten Magetan melalui media massa bagus press, melalui RRI maupun TVRI. Kecuali nama Magetan akan dikenal luas. Pada periode ini target pembangunan di titik beratkan pada pemerataan pembanguan. Sementara itu terbentuknya BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Separo) mengadakan perencanaan pembangunan bagus di tempat maupun sektoral bisa terkoordinasikan dengan bagus. Pada dikala itu Drs. Bambang Koesbandono merumuskan adanya 6 topologi kawasan Kabupaten Magetan yang selanjutnay diatur adanya 4 kawasan pengembangan utama ditambah dengan satu kawasan pengembangan khusus ialah Magetan Selatan. Ke empat kawasan pengembangan utama tersebut masing-masing :



1. Wilayah pengembangan I dengan ditekankan pada pengembangan pemerintahan,                pendidikan, industri, perdagangan dan transit pariwisata. Selanjutnya pengembangan di kota Magetan, didukug kawasan kecamatan Sukomoro, Panekan, Parang.
2. Wilayah pengembangan II dengan sentra pengembangan Kawedanan dan mencakup Kec. Takeran, Lembeyan dan Bendo. Arah pengembangan ditekankan pada pertanian, perdagangan dan industri.
3. Wilayah pengembangan III dengan sentra Kec. Karangmojo ditunjang Kec. Maospati, Karangrejo dan beberapa Sukomoro dengan pengembangan pada perdagangan, pertanian, industri dan pendidikan.
4.  Wilayah pengembangan IV dengan sentra di Kec. Plaosan ditunjang Kec.Poncol.  berat ditekankan pengembangan pariwisata, pertanian dan ternak potong.
5.   Satu kawasan khusus yang kerap disebut Magetan Selatan mencakup kawasan Kecamatan Parang, Poncol dan Lembeyan. Pengembangan lebih dipusatkan pada usaha konservasi dan rehabilitasi tanah kritis melalui penghijauan.




Dalam relasi ini didasarkan pada potensi industri kerajinan kulit dan bambu yang cukup besar karenanya untuk pembinaan pengrajin kategori ekonomi lemah sekaligus upaya pemasaran karenanya pada tahun 1981 didirikan Lingkungan Industri  (LIK) yang terletak di Ringinagung.



Sebab 1984– 1988



Nama Magetan yang semakin dikenal dirasakan sebagai tantangan oleh drg. H.M. Sihabudin dikala menjabat sebagi Bupati Kepala Separo Tingkat II Magetan. Magetan harus dikenal bukan sekadar nama akan tapi juga isinya, dalam arti cara kerja pembangunan dan kwalitas hasil prestasinya. Seketika itu juga pentingnya pemerataan pembangunan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian konsep pembangunan pada dikala itu ialah :



1.      Pembangunan Wilayah

2.      Pembangunan berwawasan Lingkungan

3.      Wilayah Pembangunan yang merata



Dan dengan program utama yang disebut TRIPANDITA yang mempunyai maksud :

1.      Merupaka akronim dari IndusTRI pertaniAN penDIdikan dan pariwisaTA

2.      Juga mempunyai pengertian tiga sikap / metode untuk menjadikan cita-cita luhur :



Pemantapan sikap mental spiritual
Meningkatkan pendapatan
Pengembangan sarana dan prasarana




Tidak proyek pembangunan yang terlaksana dengan bagus pada dikala itu :



Pembukaan tempat terisolir dusun Njeblok desa Genilangit Kec. Poncol
Pengeprasan tebing dan pelebaran jalan dari Sarangan ke Cemorosewu sejauh 5 km.
Pembangunan stadion kota Magetan




Dengan pembangunan yang semakin cepat dari tahun ke tahun Magetan pun semakin hidup dan semarak dan juga dikenal diluar tempat. Bergairah menyongsong hari esok yang lebih bagus, bisa menggapai cita-cita yang gemilang melalui pembangunan di seluruh bidang dan merata.







Source: 

0 Response to "Sejarah Kabupaten Magetan Lengkap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel