Home » , » Tiga Versi Legenda Jaka Tarub

Tiga Versi Legenda Jaka Tarub

Versi Pertama


Dalam kisah tentang raja-raja Mataram Yogyakarta  disebutkan bahwa salah satu nenek-moyang mereka ada yang dari golongan bidadari. 

Alkisah

Jaka Tarub adalah pemuda sederhana yang patuh terhadap ibu angkatnya dan mempunyai obsesi mempunyai istri seorang bidadari yang cantik dan berjiwa suci agar dia dapat mempunyai anak keturunan yang mulia. Pada suatu hari, dia pergi ke puncak gunung yang dianggap keramat oleh penduduk desa setempat. Ternyata di puncak gunung tersebut ada sebuah telaga kecil yang indah. Ketika dia mendekat ternyata ada tujuh bidadari sedang mandi bersenda-gurau di telaga tersebut. Jaka Tarub mendekat ke arah tumpukan pakaian bidadari dan mengambil salah satu selendang dari para bidadari tersebut. Selesai mandi ketujuh bidadari berpakaian mengambil selendang dan terbang, hanya salah seorang tetap tinggal karena kehilangan selendang dan tidak bisa terbang dengan bidadari lainnya.

Jaka Tarub datang dan menyarankan agar lebih baik tinggal di rumahnya, daripada berjalan kaki pergi sendirian yang berbahaya. Bidadari tersebut menurut, bahkan akhirnya bidadari yang bernama Dewi Nawangwulan tersebut bersedia menjadi isteri Jaka Tarub. Mereka dikaruniai putri cantik  bernama Retno Nawangsih. Konon sebagai seorang istri Dewi Nawangwulan cukup memasak dengan sebutir beras yang menghasilkan nasi sebakul. Dewi Nawangwulan berpesan agar tidak ada seorang pun yang membuka tutup penanak nasi tersebut. 

Pada suatu hari, Jaka Tarub melanggar pesannya dan membuka tutup penanak nasi. Akibatnya sejak saat itu, Dewi Nawangwulan menanak nasi seperti biasa. Pada suatu hari karena persediaan lumbung beras semakin sedikit, maka Dewi Nawangwulan menemukan selendang bidadarinya disembunyikan di bawah lumbung tersebut. Akhirnya Dewi Nawangwulan mengetahui kalau suaminya yang sengaja mengambil selendang bidadari agar dia tak bisa terbang. Akhirnya Dewi Nawangwulan pergi ke langit dan tak ada kabar beritanya lagi.

Hubungan jiwa dengan bidadari meningkatkan spiritualitas Jaka Tarub. Jaka Tarub menjadi seorang yang bijak dan berpengaruh di desanya, bahkan bersahabat dengan Prabu Brawijaya dari Majapahit. Ki Ageng Tarub juga memahami tentang seluk-beluk perawatan “keris”, dan pada suatu hari sang prabu mengutus Ki Buyut Mahasar dan putra angkatnya bernama Bondan Kejawan untuk belajar tentang “keris” pada Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Tarub mengetahui bahwa Bondan Kejawan sebenarnya adalah salah satu putra kandung dari Sang Prabu Brawijaya yang sengaja dijadikan anak angkat Ki Buyut Mahasar demi tujuan tertentu. Kini sang pangeran diminta belajar dari dirinya dan hidup di desa. Ki Ageng Tarub memahami, putrinya adalah sebuah wadah yang suci, sedangkan Raden Bondan Kejawan mempunyai darah penguasa Nusantara. 

Kombinasi keduanya akan menurunkan putra-putri yang perkasa. Ketika Retno Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan. Setelah Ki Ageng Tarub meninggal dunia, maka Raden Bondan Kejawan menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Retno Nawangsih melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa disebut  Ki Getas Pandawa. Ki Getas Pandawa kemudian mempunyai putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram.


Versi Kedua


Jaka Tarub adalah salah satu cerita rakyat dari Jawa Tengah yang mengisahkan tentang kehidupan Ki Jaka Tarub yang setelah tua bergelar Ki Ageng Tarub, tokoh legendaris yang dianggap sebagai leluhur raja-raja Kesultanan Mataram, dari pihak putrinya, yaitu yang bernama Retno Nawangsih.

Alur cerita

Suatu hari Jaka Tarub berangkat berburu di kawasan Gunung Keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga tempat tujuh bidadari mandi. Jaka Tarub mengambil selendang salah satu bidadari. Ketika 7 bidadari selesai mandi, enam dari tujuh bidadari tersebut kembali ke kahyangan. Sisanya yang satu orang bingung mencari selendangnya, karena tanpa itu ia tidak mampu terbang. Jaka Tarub muncul datang menolong. Bidadari yang bernama Dewi Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumahnya. Keduanya akhirnya menikah dan mendapatkan seorang putri bernama Dewi Nawangsih.

Selama hidup berumah tangga, Nawangwulan selalu memakai kesaktiannya. Sebutir beras bisa dimasaknya menjadi sebakul nasi. Suatu hari Jaka Tarub melanggar larangan Nawangwulan supaya tidak membuka tutup penanak nasi. Akibatnya kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa. Maka, persediaan beras menjadi cepat habis. Ketika beras tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendang pusakanya tersembunyi di dalam lumbung. Nawangwulan pun marah mengetahui kalau suaminya yang telah mencuri benda tersebut.

Jaka Tarub memohon istrinya untuk tidak kembali ke kahyangan. Namun tekad Nawangwulan sudah bulat. Hanya demi bayi Nawangsih ia rela turun ke bumi untuk menyusui saja.

Pernikahan Nawangsih

Jaka Tarub kemudian menjadi pemuka desa bergelar Ki Ageng Tarub, dan bersahabat dengan Brawijaya raja Majapahit. Pada suatu hari Brawijaya mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub. Utusan Brawijaya yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui kalau Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Brawijaya. Maka, pemuda itu pun diminta agar tinggal bersama di desa Tarub.

Sejak saat itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan. Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa.

Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.

Versi Ketiga


Pada kepercayaan lokal tradisional yang belum dipengaruhi oleh agama-agama pendatang, manusia adalah keturunan Dewa-Dewi. Dewa-Dewi dalam konteks ini adalah pancaran dari atribut-atribut Ilahi. Baru kemudian dewa-dewa tersebut diberi nama sesuai dengan mitologi para dewa. Oleh karena manusia adalah keturunan dewa, maka di dalam diri manusia ada energi dewa. Sejauh mana energi tersebut bisa dipancarkan, tergantung orang yang bersangkutan. Berkaitan dengan kepercayaan itu, setiap tokoh-tokoh terkenal seperti misalnya kepala suku, penguasa-penguasa setempat dan raja-raja, membuat cerita yang intinya mengisahkan bahwa dirinya adalah keturunan Dewa. Misalnya; Airlangga adalah keturunan Dewa Wisnu, Ken Arok adalah keturunan Dewa Brahma, Kertanegara adalah keturunan Dewa Siwa dan Budha, dan sebagainya.

Di dalam cerita tutur dan sebagian juga dituliskan di Babad Tanah Jawi. Upacara Midodareni bermula dari cerita Jaka Tarub. Jaka Tarub adalah seorang keturunan Raja Barwijaya dari Majapahit yang hidup di desa Tarub. Ia diasuh oleh Ki Ageng Tarub dan Nyi Ageng Tarub. Pada suatu hari Ki Ageng Tarub berpesan agar Jaka Tarub tidak bermain di sendang larangan, tanpa penjelasan mengapa tidak boleh pergi ke sendang larangan. Dengan larangan tersebut, Jaka Tarub justru menjadi semakin ingin tahu, ada apa di sendang larangan tersebut.

Alkisah

Pada sore hari yang cerah, dengan sembunyi-sembunyi, Jaka Tarub pergi ke sendang larangan. Sesampainya di sendang, matanya terbelalak penuh ketakjuban. Ada tujuh gadis yang luar biasa cantiknya sedang mandi di telaga. Badannya yang tanpa busanya sungguh amat sempurna. Siapakah gerangan ke tujuh gadis tersebut? Tentunya mereka bukan gadis sembarangan. Jaka Tarub sangat terpana dengan pemandangan tersebut, namun ia takut kalau kehadirannya diketahui oleh mereka. Oleh karenannya ia tidak berani keluar dari persembunyiannya. 

Dari balik persembunyiannya, Jaka Tarub melihat pakaian para gadis yang bertumpuk di atas batu. Maka timbulah niat nakalnya untuk mengambil pakaian tersebut. Dengan sangat hati-hati, Jaka Tarub mengambil pakaian yang bertumpuk tak beraturan itu dengan ‘tulup’nya. Setelah mendapatkan satu pakaian, Jaka Tarub segera meninggalkan Sendang larangan dengan langkah yang berusaha tidak menimbulkan suara.

Sesampainya di rumah, hari telah senja, Jaka Tarub cepat-cepat menyembunyikan pakaian yang dicurinya dari sendang larangan di tempat yang aman. Walaupun tidak ada orang yang tahu, dengan apa yang dilakukannya, termasuk Ki Ageng Tarub, Jaka Tarub tidak tenang hatinya. Pikirannya selalu terganggu oleh bayangan tujuh gadis yang mandi di Sendang larangan. Mumpung hari telah menjadi semakin gelap, Jaka Tarub ingin kembali lagi ke sendang larangan. Setelah mendekati sendang larangan, Jaka Tarub mulai memperlambat langkahnya. Tiba-tiba telinganya mendengar orang menangis. Jaka Tarub berhenti untuk memastikan pendengarannya. 

Benar suara tangis seorang wanita dari arah sendang larangan. Jaka Tarub yang memang pemberani, mendekati arah suara orang yang menangis. Dalam remang cahaya bulan paro tanggal, mata Jaka Tarub yang tajam seperti elang dapat melihat bahwa orang yang menangis tersebut adalah salah satu dari gadis yang mandi sore tadi di sendang larangan. Dengan desiran hati yang tak terkira, Jaka Tarub menyapa dengan lembut Gadis yang menangis terisak-isak, dengan menutupi bagian tubuhnya yang terlarang. Gadis tersebut terkejut tak terkira, mendapat sapaan Jaka Tarub. Ia memberikan isyarat agar Jaka Tarub tidak mendekat. Sebagai jejaka keturunan raja besar, Jaka Tarub cepat tanggap terhadap apa yang harus diperbuat. 

Kain selimut yang dibawa dilemparkan kepada Gadis sempurna itu. Dengan cekatan kain tersebut ditangkap dan kemudian dengan cepat dipakai untuk kembenan. Sambil mengucapkan terimakasih, tanpa ditanya gadis tersebut mengaku bernama Nawangwulan. Ia adalah salah satu dari tujuh bidadari yang bercengkerama di sendang ini. Sebelum senja tiba mereka harus segera bergegas kembali ke kahyangan. Namun malang bagi Nawangwulan, karena pakaiannya hilang, ia terpaksa ditinggal oleh keenam Bidadari yang lain kembali ke kahyangan. Karena tanpa Pakaian Bidadari, Nawangwulan tdak bisa terbang kembali ke kahyangan.

Tidak terlintas di benak Jaka Tarub, bahwa perbuatannya yang sekedar iseng tersebut mendatangkan malapetaka terhadap salah satu bidadari kahyangan yang bernama Nawangwulan. Namun jika mengembalikan pakaian itu, sama halnya dengan mengaku sebagai pencuri. Jaka Tarub tidak mau dianggap sebagai pencuri, ia ingin tampil dihadapan Nawangwulan sebagai penolong. Maka kemudian ia menawarkan Nawangwulan untuk singgah di rumahnya. Dan Jaka Tarub berjanji akan mencarikan pakaian Nawangwulan sampai ketemu. Tidak ada pilihan bagai Nawangwulan, selain mengiyakan apa yang ditawarkan Jaka Tarub.

Kabar mengenai keberadaan seorang Bidadari di rumah Ki Ageng Tarub cepat tersebar. Para penduduk Desa Tarub pada berdatangan untuk menyaksikan kecantikan dari seorang Bidadari. Nawangwulan sungguh terhibur dengan keramahan seluruh warga Desa Tarub. Di Kahyangan para Dewa-Dewi, Nawangwulan tidak pernah mendapat perlakuan semulia ini.









Source:

  • http://www.tembi.org/primbon/20100128.htm
  • http://sosbud.kompasiana.com/2011/07/22/renungan-bhagavatam-raja-pururawa-kehendak-kuat-dalam-menggapai-tujuan/
  • Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
  • Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
  • Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Jindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKIS
  • Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Jaka_Tarub





0 komentar:

Post a Comment