Home » , , , » Sejarah Dan Legenda Sendang Klangkapan

Sejarah Dan Legenda Sendang Klangkapan

Sejarah dan legenda Sendang Klangkapan mempunyai dua versi terkait. Legenda Dusun Klangkapan kaitannya sangat erat dengan tempat ini. Hingga saat ini tempat tersebut masih ada di tengah Dusun Klangkapan, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Sleman ini masih menyimpan banyak pertanyaan. Terutama terkait asal muasal mata air di bawah makam dan pohon besar ini. Pada beberapa tahun yang lalu selalu ramai untuk orang-orang belajar berenang. Bahkan dulu calon anggota prajurit pun menjalani tes renang di tempat ini. Tapi suasana itu tidak lagi dapat dilihat hari ini.

Versi pertama dari cerita yang berkembang dari mulut ke mulut, menurut cerita tempat tersebut muncul ketika Sunan Kalijaga mampir di sekitar Dusun tersebut, dan mencari air untuk bersuci. Karena beliau tidak menemukan air/sumber air, maka beliau mengelupas lapisan tanah, mengelupas dalam bahasa Jawa adalah "nglokop". Dari tanah tersebut maka muncul sumber air yang deras dan dapat digunakan untuk bersuci. Kata "nglokop" dari bahasa Jawa, dan ditambah imbuhan Ke+nglongko+an akhirnya menjadi Klangk4pan. 

Sedangkan cerita dari versi kedua cukup panjang. Dalam situs pariwisata Jogja, Drs. H. Pardi Suratno, M. Hum dalam bahasa Jawa menuliskan asal mula Dusun Tersebut. Bermula dari seorang budiman bernama Ki Tunggulwana yang menjadi pelopor desa membuka lahan yang dulunya berupa hutan menjadi pemukiman dan persawahan. Tempat tersebut menjadi semakin ramai. Menurut wahyu yang diterima Ki Tunggulwana, tempat ini akan tetap subur dan penuh damai sejahtera asalkan seluruh warga saling tolong menolong dan mensyukuri anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

Situs Peninggalan Sendang Klangkapan Sleman Jogjakarta menyimpan sejarah dan misteri

Dengan adanya rejeki yang berlimpah, beberapa warga mengusulkan untuk diadakan ritual bersih desa untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan. Rencana ini diterima baik oleh Ki Tunggulwana, sehingga acara bersih desa akan diselenggarakan pada hari Selasa Kliwon (Anggara Kasih) waktu itu. Ketika upacara tersebut dilangsungkan, muncul-lah dua orang, pria dan wanita berbusana compang-camping dan sakit kulit. Mereka berdua meminta makan di tengah-tengah acara tersebut. Merasa terganggu dengan aroma kedua orang tersebut, Jagal Kasusra dan temannya mengusir kedua orang itu. 

Namun kedua orang itu tidak mau pergi karena ingin meminta sedikit makanan. Semakin risih, Jagal Kasusra yang dipanas-panasi rekan-rekannya pun menganggu kedua orang itu hingga wafat. Wafatnya  kedua orang itu menimbulkan keributan, dan akhirnya Ki Tunggulwana pun turun tangan. Ki Tunggulwana kecewa dengan sikap Jagal Kasusra yang tidak mengindahkan perkataannya, yaitu harus menjaga sikap dan saling tolong menolong, malah sebaliknya -melenyapkan dua orang yang tak bersalah. 


Ki Tunggulwana memerintahkan beberapa warga untuk menguburkan dua orang tersebut dan diadakan ritual. Tanpa rasa bersalah, Jagal Kasusra dan rekannya mengambil kedua orang yang wafat tersebut dan dibuang di sungai. Melihat kejadian ini, Ki Tunggulwana mencari kedua orang yang dihanyutkan di sungai tersebut tetapi tidak ditemukan. Ki Tunggulwana dan warga desa pun menyesali kejadian ini.

Beberapa minggu terasa biasa-biasa saja, namun tidak lama kemudian bencana pun datang. Semua hewan ternak lumpuh dan terkena penyakit kulit. Seluruh warga pun panik. Seseorang di antaranya yang bernama Ki Sura meminta petunjuk dari Ki Tunggulwana. Menurut Ki Tunggulwana, kejadian ini terkait dengan wafatnya dua orang tak bersalah ketika acara bersih desa yang lalu. Ki Tunggulwana menyarankan seluruh warga desa untuk memandikan seluruh hewan ternaknya di sebuah sungai di tepi desa. Akan tetapi, sungai tersebut telah mengering. Ki Tunggulwana pun menyebutkan bahwa peristiwa yang sama pernah terjadi di Desa Tempel.

Di tengah kekacauan yang terjadi di desa, seorang bernama Ki Naya berkata bahwa ada orang yang sepertinya mampu mengatasi kekacauan ini, tapi Ki Tunggulwana meragukan hal ini, beliau pun pergi dan bertapa di suatu tempat berhari-hari tanpa diketahui oleh seluruh warga. Setelah beberapa hari, Ki Tunggulwana pun kembali. Warga yang tadinya kalang kabut menjadi senang kembali. Ki Tunggulwana menyampaikan beberapa penglihatannya kepada para warga. Yang pertama, mereka harus mengucapkan syukur kepada Tuhan melalui bersih desa yang harus diadakan setiap tahun. Yang kedua, mereka juga harus menjaga sikap serta tidak menyakiti orang lain. Yang ketiga, mereka harus beribadah kepada Tuhan. 

Dengan melakukan ketiga hal tersebut, niscaya Ngara-ara (nama wilayah tersebut waktu itu) dan Seyegan tidak akan terkena bencana serupa. satu lagi, para warga entah laki-laki atau perempuan, entah tua atau muda diharapkan pipis di bawah pohon beringin yang ditunjuk oleh Ki Tunggulwana.
Keesokan harinya, para warga yang mau pipis dikejutkan oleh munculnya dua sumber air di bawah pohon beringin tersebut, yang besar yang terletak di utara selanjutnya disebut sendang lanang (laki-laki) dan  kecil yang terletak di selatan selanjutnya disebut sendang wadon (perempuan). 

Para warga yang heran akan kejadian tersebut melaporkan kepada Ki Tunggulwana. Ki Tunggulwana pun hanya menjawab bahwa hal ini sudah ada di dalam wahyu yang ia terima. Ki Naya pun meminta Ki Tunggulwana untuk memberi nama kedua tempat tersebut. Karena terletak di bawah pohon beringin besar yang sudahnglingkap (terkelupas) karena sudah terlalu tua, maka diberi nama Sendang Kl4ngkapan yang mengalami pergeseran ucapan dari kata nglingkap.

Situs Peninggalan Klangkapan

Gambar Situs Peninggalan Klangkapan Sleman Jogja

Situs Kl4ngkapan terdiri dari sebuah yoni yang berada di area tersebut, Desa Margodadi, Sayegan, Sleman. Keberadaan suatu yoni menunjukkan bahwa di area Dusun Klangkap4n dahulunya pernah terdapat aktivitas yang berlatar belakang kepercayaan Hindu, sebab yoni merupakan simbol aspek wanita yang juga sebagai penggambaran istri Dewa Siwa (dewa Hindu). Yang kemungkinan di sekitar situs ini dahulu digunakan umat hindu kuno buat beribadat. dan bukan tidak mungkin juga tempat air Klangk4pan ini dahulu merupakan sebuah petirtaan.