Home » , » Sejarah Asta Tinggi dan Bindara Saud Keraton Sumenep

Sejarah Asta Tinggi dan Bindara Saud Keraton Sumenep

Dibawah ini adalah susunan Raja yang pernah memerintah di Sumenep, lengkap dengan sejarah yang berhubungan dengan Keraton Sumenep. Sejarah panjang tentang raja-raja ini merupakan moment yang harus kita ingat dan abadikan. Tentu saja sebagai salah satu harta Nusantara, sebagai pengingat kita akan leluhur. Sejarah Sumenep pada jaman dahulu diperintah oleh seorang Raja. Sekitar Ada 35 Raja yang telah memimpin kejayaan kerajaan Sumenep. 

Sekarang ini Sumenep dipimpin seorang Bupati, sekitar 14 Bupati yang memerintah Kabupaten Sumenep. Mengingat sangat sulit dan keringnya informasi atau data yang otentik seperti prasati, pararaton, dan sebagainya, serta mengenai Raja Sumenep maka tidak seluruh Raja-Raja tersebut kami ekspose/jelaskan satu persatu, kecuali hanya Raja-Raja yang tersohor atau menonjol popularitasnya.  Penilitian dan pendekatan, dalam artikel ini hanya historis dan cultural. Secara ekonomis, edukatif dan psikologis juga kami dekatkan semampunya.

Daftar Susunan Raja
  1. Aria Banyak Wedi (Aria Wiraraja) Batuputih 1269-1292 Otak pendiri Ker. Majapahit
  2. Ario Bangah (Wiraraja) Banasare 1292-1301
  3. Ario Danurwendo (Lembu Sarenggono) Aeng Anyar 1301-1311
  4. Ario Assrapati 1311-1319
  5. Panembahan Joharsari Bluto 1319-1331
  6. Panembahan Mandaraga (R. Piturut) Keles 1331-1339
  7. P. Bukabu Wotoprojo Bukabu 1339-1348
  8. P. Baragung Notoningrat Baragung 1348-1358
  9. R. Agung Rawit (Secodiningrat I) Banasare 1358-1366
  10. Tumenggung Gajah Pramono (Secodiningrat II) Banasare 1366-1386
  11. Panembahan Blongi (Aryo Pulang Jiwo) Bolingi / Poday 1386-1399
  12. Pangeran Adipoday (Ario Baribin) Nyamplong / Poday 1399-1415
  13. Pangeran Jokotole (P. Secodiningrat III) Banasare 1415-1460 Pendiri Benteng Kalimo'okmelawan orang-orang Bali . Awang pendiri pintuGerbang Ker. Majapahit>
  14. R. Wigonando (P. Secodiningrat IV) Gapura 1460-1502
  15. P. Siding Purih (P. Secodingrat V) Parsanga 1502-1559 Patoh Takundur
  16. RT. Kanduruwan Karang Sabu 1559-1562
  17. P. Wetan dan P Lor 1562-1567
  18. R. Keduk (P. Keduk II) 1567-1574
  19. R. Rajasa (P. Lor II) 1574-1589
  20. R. Abdullah (P. Cokronegoro I) Karang Toroy 1589-1626
  21. P. Anggadipa Karang Toroy 1626-1644
  22. Tumenggung JaingPatih dari Sampang Karang Toroy 1644-1648
  23. R. Bugan (Tumenggung Yudonegoro) Karang Toroy 1648-1672
  24.  P.T. Pulang Jiwo dan P. Sepuh Karang Toroy 1672-1678
  25. P. Romo (P. Cokronegoro II) Karang Toroy 1678-1709
  26. RT. Wiromenggolo (Purwonegoro) Karang Toroy 1709-1721
  27. R. Ahmat alias P. Jimat (T. Aryo Cokronegoro III) Karang Toroy 1721-1744
  28. R. Alza Alias P. Lolos Karang Toroy 1744-1749 Lolos dalam penyergapan K. Lesap
  29. K. Lesap Karang Toroy 1749-1750 Pimpinan sementara diserahkan T. Tirtonegoro
  30. R. Ayu Tirtonegoro, R. Rasmana & Bindara Saod Pajagalan 1750-1762 Pemerintahan diserahkanpada suaminya
  31.  Panembahan Sumolo Asiru Pajagalan 1762-1811 Pendiri Masjid Jamik
  32. Sri Sultan Abdurrahman (Pakunataningrat I) Pajagalan 1811-1854 Kerajaan Sumenep
  33. Panembahan Moh. Saleh (Notokusumo II) Pajagalan 1854-1879
  34. P. Mangkudiningrat (P. Pakunataningrat II) Pajagalan 1879-1901
  35. P. Ario Prataningkusumo Pajagalan 1901-1926
  36. RP. Ario Prabuwinoto Pajagalan 1926-1929
Pemerintahan Kerajaaan Arya Wiraraja
Arya Wiraja dilatik sebagai Adipati pertama Sumenep pada tanggal 31 Oktober 1269, yang sekaligus bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Sumenep. Selama dipimpin oleh Arya Wiraja, banyak kemajuan yang dialami kerajaan Sumenep. Pria yang berasal dari desa Nangka Jawa Timur ini memiliki pribadi dan kecakapan/kemampuan yang baik. Arya Wiraja secara umum dikenal sebagai seorang pakar dalam ilmu penasehat/pengatur strategi, analisanya cukup tajam dan terarah sehingga banyak yang mengira Arya Wiraja adalah seorang dukun. Adapun jasa-jasa Arya Wiraja :
  • Mendirikan Majapahit b ersama dengan Raden Wijaya.
  • Menlumpuhkan tentara Cina/Tartar serta mengusirnya dari tanah Jawa.
Dalam usia 35 Tahun, karier Arya Wiraja cepat menanjak. Mulai jabatan Demang Kerajaan Singosari kemudian dipromosikan oleh Kartanegara Raja Singosari menjadi Adipati Kerajaan Sumenep, kemudian dipromosikan oleh Raden Wijaya menjadi Rakyan Menteri di Kerajaan Majapahit dan bertugas di Lumajang. Setelah Arya Wiraja meninggalkan Sumenep, kerajaan di ujung timur Madura itu mengalami kemunduran. Kekuasaan diserahkan kepada saudaranya Arya Bangah dan keratonnya pindah dari Batuputih ke Banasare di wilayah Sumenep juga. 

Selanjutnya diganti oleh anaknya, yang bernama Arya Danurwendo, yang keratonnya pindah ke Desa Tanjung. Dan selanjutnya diganti oleh anaknya, yang bernama Arya asparati. Diganti pula oleh anaknya bernama Panembahan Djoharsari. Selanjutnya kekuasaan dipindahkan kepada anaknya bernama Panembahan Mandaraja, yang mempunyai 2 anak bernama Pangeran Bukabu yang kemudian menganti ayahnya dan pindah ke Keratonnya di Bukabu (Kecamatan Ambunten). Selanjutnya diganti oleh adiknya bernama Pangeran Baragung yang kemudian pindah ke Desa Baragung (Kecamatan Guluk-guluk).

Sejarah Asta Tinggi dan Bindara Saud Keraton Sumenep

Pangeran Secodiningrat III (Pangeran Jokotole)
Pangeran Jokotole menjadi raja Sumenep yang ke 13 selama 45 tahun (1415-1460). Jokotole da adiknya bernama Jokowedi lahir dari Raden Ayu Potre Koneng, cicit dari Pangeran Bukabu sebagai hasil dari perkawinan bathin (melalui mimpi) dengan Adipoday (Raja Sumenep ke 12). Karena hasil dari perkawinan Bathin itulah, maka banyak orang yang tidak percaya. Dan akhirnya, seolah-olah terkesan sebagai kehamilan diluar nikah. 

Akhirnya menimbulkan kemarahan kedua orang tuanya, sampai akan dihukum mati. Sejak kehamilannya, banyak terjadi hal-hal yang aneh dan diluar dugaan. Karena takut kepada orang tuanya maka kelahiran bayi RA Potre Koneng langsung diletakkan di hutan oleh dayangya. Dan, ditemukan oleh Empu Kelleng yang kemudian disusui oleh kerbau miliknya. Peristiwa kelahiran Jokotole, terulang lagi oleh adiknya yaitu Jokowedi. 

Kesaktian Jokotole mulai terlihat pada usia 6 tahun lebih, seperti membuat alat-alat perkakas dengan tanpa bantuan dari alat apapun hanya dari badanya sendiri, yang hasilnya lebih bagus ketimbang ayah angkatnya sendiri. Lewat kesaktiannya itulah maka ia membantu para pekerja pandai besi yang kelelahan dan sakit akibat kepanasan termasuk ayah angkatnya dalam pengelasan membuat pintu gerbang raksasa atas pehendak Brawijaya VII. 

Dengan cara membakar dirinya dan kemudian menjadi arang itulah kemudian lewat pusarnya keluar cairan putih. Cairan putih tersebut untuk keperluan pengelasan pintu raksasa. Dan, akhirnya ia diberi hadiah emas dan uang logam seberat badannya. Akhirnya ia mengabdi di kerajaan Majapahit untuk beberapa lama. Banyak kesuksessan yang ia raih selama mengadi di kerajaan Majapahit tersebut yang sekaligus menjadi mantu dari Patih Muda Majapahit. 

Setibanya dari Sumenep ia bersama istrinya bernama Dewi Ratnadi bersua ke Keraton yang akhirnya bertemu dengan ibunya RA Potre Koneng dan kemudian dilantik menjadi Raja Sumenep dengan Gelar Pangeran Secodiningrat III. Saat menjadi raja ia terlibat pertempuran besar melawan raja dari Bali yaitu Dampo Awang, yang akhirnya dimenangkan oleh Raja Jokotole dengan kesaktiannya mengalahkan Dampo Awang. Dan kemudian kekuasaannya berakhir pada tahun 1460 dan kemudian digantikan oleh Arya Wigananda putra pertama dari Jokotole.

Raden Ayu Tirtonegoro Dan Bindara Saod
Raden Ayu Tirtonegoro merupakan satu-satunya pemimpin wanita dalam sejarah kerajaan Sumenep sebagai Kepala Pemerintahan yang ke 30. Menurut hikayat RA Tirtonegoro pada suatu malam bermimipi supaya Ratu kawin dengan Bindara Saod. Setelah Bindara Saod dipanggil, diceritakanlah mimpi itu. Setelah ada kata sepakat perkawinan dilaksanakan, Bindara Saodmenjadi suami Ratu dengan gelar Tumenggung Tirtonegoro.

Terjadi peristiwa tragis pama masa pemerintahan Ratu Tirtonegoro. Raden Purwonegoro Patih Kerajaan Sumenep waktu mencintai Ratu Tirtonegoro, sehingga sangat membenci Bindara Saod, bahkan merencanakan melenyapkannya. Raden Purwonegoro datang ke keraton lalu mengayunkan pedang namun tidak mengenai sasaran dan pedang tertancap dalam ke tiang pendopo. Malah sebaliknya Raden Purwonegoro tewas di tangan Manteri Sawunggaling dan Kyai Sanggatarona. Seperti diketahui bahwa Ratu Tirtonegoro dan Purwonegoro sama-sama keturunan Tumenggung Yudonegoro Raja Sumenep ke 23.

Akibatnya keluarga kerajaan Sumenep menjadi dua golongan yang berpihak pada Ratu Tirtonegoro diperbolehkan tetap tinggal di Sumenep dan diwajibkan merubah gelarnya dengan sebutan Kyai serta berjanji untuk tidak akan menentang Bindara Saod sampai tujuh turunan. Sedang golongan yang tidak setuju pada ketentuan tersebut dianjurkan meninggalkan kerajaan Sumenep dan kembali ke Pamekasan, Sampang atau Bangkalan.

Panembahan Somala
Bandara Saod dengan isterinya yang pertama di Batu Ampar mempunyai 2 orang anak. Pada saat kedua anak Bindara Saod itu datang ke keraton memenuhi panggilan Ratu Tirtonegoro, anak yang kedua yang bernama Somala terlebih dahulu dalam menyungkem kepada Ratu sedangkan kakaknya mendahulukan menyungkem kepada ayahnya (Bindara Saod).

Saat itu pula keluar wasiat Sang Ratu yang dicatat oleh sektretaris kerajaan. Isi wasiat menyatakan bahwa di kelak kemudian hari apabila Bindara Saod meninggal maka yang diperkenankan untuk mengganti menjadi Raja Sumenep adalah Somala. Setelah Bindara Saod meninggal 8 hari kemudian Ratu Tirtonegoro ikut meninggal tahun 1762, sesuai dengan wasiat Ratu yang menjadi Raja Sumenep adalah Somala dengan gelar Panembahan Notokusumo I.

Beberapa peristiwa penting pada zaman pemerintahan Somala antara lain menyerang negeri Blambangan dan berhasil menang sehingga Blambangan dan Panarukan menjadi wilayah kekuasaan Panembangan Notokusumo I. Kemudian beliau membangun keraton Sumenep yang sekarang berfungsi sebagai Pendopo Kabupaten. Selanjutnya beliau membangun Masjid Jamik pada tahuhn 1763, Asta Tinggi (tempat pemakaman Raja-Raja Sumenep dan keluarganya) juga dibangun oleh beliau.

Sultan Abdurrachman Pakunataningrat
Sultan Abdurrachman Pakunataningrat bernama asli Notonegoro putra dari Raja Sumenep yaitu Panembahan Notokusumo I. Sultan Abdurrachman Pakunataningrat mendapat gelar Doktor Kesusastraan dari pemerintah Inggris, karena beliau pernah membantu Letnan Gubernur Jendral Raffles untuk menterjemahkan tulisan-tulisan kuno di batu kedalam bahasa Melayu.

Beliau memang meguasai berbagai bahasa, seperti bahasa Sansekerta, Bahasa Kawi, dan sebagainya. Dan, juga ilmu pengetahuan dan Agama. Disamping itu pandai membuat senjata Keris. Sultan Abdurrachman Pakunataningrat dikenal sangat bijaksana dan memperhatikan rakyat Sumenep, oleh karena itu ia sangat disegani dan dijunjung tinggi oleh rakyat Sumenep sampai sekarang.

Mengenal Lebih Daam Bendoro Saud
Bendoro Saud keturunan dari Pangeran Katandur. Pangeran ini cucu dari Sunan Kudus, Pangeran Katandur adalah pemimpin pertanian yang mula-mula memberi contoh bercocok tanam didesa Parsanga dan desa-desa disekitarnya dalam pertengahan abad ke- 17.

Waktu didaerah Sumenep ditimpa bencana kelaparan hujan lama tidak turun dan rakyat disibukkan oleh macam-macam peperangan tetapi berkat petunjuk-petunjuk dari Pangeran Katandur dibidang pertanian maka hasil produksi dapat dilipat gandakan dan kelaparan dapat segera diatasi.

Pangeran Katandur memang mempunyai darah keturunan Arab maka disamping memimpin pertanian ia juga menyebarkan Agama Islam, setelah beberapa keturunan sampailah pada Bendoro Saud, dengan demikian ia mempunyai keturunan Arab. Bendoro Saud diambil oleh pamannya ialah Kyai Pekke, Kyai ini mempunyai banyak santri termasuk pula Bendoro Saud.

Pada malam hari santri-santrinya tidur bersama-sama dilanggar, pada suatu malam Kyai Pekke melihat-lihat santrinya yang sedang tidur dalam malam yang gelap itu tampaklah sinar yang datang dari salah seorang santrinya.

Kyai Pekke menghampiri santri tersebut dan memberi tanda sarungnya dilobangi dengan api rokok, pada keesokan harinya Kyai Pekke memeriksa santri-santrinya dan ternyata sarung yang diberi tanda disarungnya berlobang ialah Bendoro Saud, Isteri Bendoro Saud ialah Nyai Isza dan mempunyai dua orang anak yang bernama Ario Pacinan dan Sumolo bergelar Panembahan Notokusumo I.

Diceritakan selanjutnya bahwa Ratu Tirtonegoro bermimpi supaya ia kawin dengan Bendoro Saud anak dari Bendoro Bungso yang tinggal di Batu Ampar oleh karena itu ia menyuruh menterinya untuk memberi tahu Bendoro Saud supaya menghadap kekeraton dan Bendoro Saud diberitahunya atas mimpinya. Setelah ada kata sepakat dari keduanya perkawinan dilaksanakan dengan mengambil gelar isterinya ialah Tumenggung Tirtonegorodan terus menetap di keraton.

Selanjutnya diceritakan bahwa Patih Sumenep ialah Purwonegoro mendengar adanya pelaksanaan perkawinan di keraton ia amat marah karena ia sendiri bermaksud mengawini Ratu Tirtonegoro, ia tidak sudi menghadap kekeraton meskipun berkali-kali dipanggil oleh Ratu, bahkan ia membalas panggilan itu dengan nada menantang Bendoro Saud untuk berperang.

Pada suatu waktu di Pendopo keraton diadakan pertemuan dan sekaligus untuk memperkenalkan R.T. Tirtonegoro (Bendoro Saud). Juga patih Purwonegoro diharuskan hadir oleh Ratu Tirtonegoro, pada saat itu seorang menteri yang bernama K. Sawunggaling disuruh berpakaian kerajaan dan didudukkan diatas kursi kerajaan sehingga jika orang kurang teliti akan mengira bahwa ia adalah Rajanya.

Sebelah belakang kanan berdiri pemegang tombak upacara keraton tidak antara lama patih Purwonegoro datang dengan kelihatan sangat marah dan terus menuju orang yang duduk disinggasana (dikiranya Bendoro Saud) dengan pedang terhenus serta terus memukulkan pedangnya dengan sangat keras, untunglah pedangnya tidak mengenai sasarannya akan tetapi tertancap ditiang pendopo sehingga tidak mudah ditarik kembali. Setelah Sawunggaling mengelakkan diri dari bacokan pedang terus ia menghunuskn pedangnya ditusukkan keperut patih Purwonegoro meninggal seketika itu juga, peristiwa yang tragis itu menimbulkan banyak akibat.

Sebagaimana telah diceritakan bahwa antar Ratu Tirtonegoro dan Purwonegoro ada hubungan famili ialah sama-sama keturunan Judonegoro karena peristiwa tersebut, maka kerajaan Sumenep pecah menjadi dua ialah golongan yang ada dipihak Tirtonegoro diperbolehkan tinggal di Sumenep dan diwajibkan berubah gelarnya dengan sebutan Kyai serta berjanji tidak akan menentang Bendoro Saud sampai tujuh keturunannya.

Bagi mereka yang tidak setuju terhadap ketentuan diatas dianjurkan lebih baik meninggalkan kerajaan Sumenep dan kembali ke Pamekasan, Sampang atau Bangkalan.diceritakan bahwa yang tinggal di Sumenep masih cukup banyak karena masih banyak yang cinta kepada Ratu Tirtonegoro.

Sebagaimana telah diceritakan bahwa Bendoro Saud dengan Isterinya yang pertama Nyai Isza mempunyai dua orang anak sedangkan dengan Ratu Tirtonegoro tidak mempunyai keturunan.

Pada suatu waktu Ratu Tirtonegoro memanggil dua orang anak dari Bendoro Saud dan disuruh untuk menghadap kekeraton, setelah mereka sampai kekeraton mereka menyembag dan duduk berjauhan dengan Bapak dan ibu tirinya karena itu satu persatu dipanggilnya dan yang datang pertama ialah yang tertua dengan menyungkem kepada ayahnya terlebih dulu, setelah itu datanglah yang putera yang kedua dan ialah Somala yang menyungkem terlebih dahulu pada ibu tirinya dan dilanjutkan pada Bapaknya.

Ratu Tirtonegoro lalu berkata sebagai wasiat yang diingat oleh sekretaris Kerajaan ialah sebagai berikut : "kelak kemudian hari apabila ayah dari kedua orang anak ini meninggal maka yang diperkenankan untuk mengganti menjadi Raja Sumenep adalah anaknya yang nomor dua yang bernama Somala".

Kedua anak itu atau diijinkan tinggal dikerajaan beberapa waktu lamanya setelah itu ia minta diri untuk kembali kerumah ibunya di Batu Ampar, setelah Tirtonegoro (Bendoro Saud) meninggal dunia dalam tahun 1762, maka sesuai wasiat Ratu Tirtonegoro yang menggantikannya ialah Somala dengan bergelar Panembahan Notokusumo I.

Beberapa kejadian selama pemerintahan Somala ialah sebagai berikut : pemisahan Kabupaten Panarukan dari daerah Sumenep, yang sebelumnya memang termasuk wilayah kerajaan Madura, pembikinan keraton Sumenep yang sekarang menjadi Rumah Kabupaten dan pembangunan Masjid Jamik dikota Sumenep tahun 1763.

Pada tahun 1810 Panembahan Somala diminta datang oleh Kompeni ke daerah Semarang untuk ikut serta menjaga daerah pesisiran berhubung dengan timbulnya perang antara Belanda dan Inggris, sewaktu Somala tidak ada di Sumenep inggris datang menyerang dari lautan dengan kapal perangnya yang mempergunakan meriam sampai di Pantai Soroka.

Berhubung pemerintahan tidak ada di Sumenep maka Patih Sumenep ialah Kyai Mangundi Rejo mengambil keputusan untuk menyerang Inggris dan bersama sama anaknya berangkat ke pantai Soraka yang diikuti pula oleh tentara Sumenep, dalam pertempuran itu Patih Mangundirejo beserta anak-anaknya Gugur demikian pula banyak anggota-anggota yang tewas dalam peperangan itu.

Sewaktu Somala datang dari Semarang dan mendengar kabar itu ia sangat terharu dan terus menyusul ke Saroka, sesampinya di Saroka ternyata tentara inggris sudah meninggalkan medan pertempuran dan mereka sudah naik keatas kapal dan terus berlayar meninggalkan perairan daerah Sumenep.

Sultan Abdurrachman Pakunataningrat
Setelah Panembahan Somala meninggal dunia maka putera yang tertua ialah Pangeran Panggung dengan gelar Kusumodiningrat yang menggantinya tetapi oleh Kompeni tidak lama ia dipindah menjadi Bupati Pasuruan karena itu pada ahirnya yang mengganti Somala ialah Abdurrachman yang semula bergelar Raden Ario Tirtodiningrat dan terakhir berubah lagi gelarnya ialah Sultan Abdurrachman Pakutaningrat I.

Sultan Abdurrachman pernah bertugas keluar Madura guna membasmi pemberontakan Japan, Cirebon, Bali dan Sulawesi. Dalam tahun 1811 sampai tahun 1816 Pulau Nusantara jatuh ketangan Inggris, Gubernur Jendral Lord Minto membagi bagi daerah taklukannya dalam 4 Gubernemen ialah :

  •  Malaka
  • Sumatera Barat
  • Maluku
  • Jawa
Pimpinan untuk Jawa-Madura dan sekitarnya (Palembang, Banjarmasin, Makassar dan Sunda kecil) diserahkan kepada Letnan Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles. Pada suatu waktu Raffles mengirimkan batu tertulis kepada Sultan Abdurrachman untuk dapat disalin kedalam Bahasa Melayu.

Pakutaningrat menerima tugas ini dengan baik asal saja batu itu beberapa lamanya ditinggalkan kekaraton Sumenep, menurut berita batu itu didapat di Pulau Bali dan tidak seorangpun orang yang dapat menterjemaahkan tulisan 2 kuno yang tersurat diatas batu itu, tugas tersebut dikerjakan olae Pakutaningrat dibantu oleh seorang Jaksa yang bernama Pratalikromo, setelah tulisan kuno itu selesai disalin kedalam Bahasa Melayu, terus batu itu beserta salinannya dikirim kembali kepada Raffles.

Setelah dua tahun lamanya baru Pakutaningrat menerima surat balasan bahwa penterjemahan dari Sumenep itu cocok dengan penterjemahan yang diusahakan di Hindustan. Oleh karena itu Sultan Pakutaningrat menerima gelar Doktor didalam kesastraan dari Pemerintahan Ingris, memang Sultan Pakutaningrat pandai sekali dalam macam2 bahasa dan ilmu pengetahuan ia pandai pula dalam ilmu agama, pandai Bahasa Sansakerta, Bahasa Kawi dan pandai pula membuat senjata2 semacam keris, dan lain sebagainya.

Di Museum Kota Sumenep ada kitab Suci Alquran yang berukuran besar hasil tulisan Sultan Abdurrachman Pakutaningrat. Dalam pemerintahannya Pakutaningrat masuk seorang pemimpin yang dihormati dan disegani oleh rakyatnya karena kebijaksanaanya, keamanan dan ketentraman dapat dibina sebaik-baiknya sehingga memberi kesempatan membangun dan meningkatkan hasil produksi yang dikerjakan oleh masyarakat.

Perekonomian dan perdagangan berjalan lancar sehingga dapat meningkatkan taraf hidu rakyat Madura, nama Sultan Pakutaningrat sampai sekarang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Sumenep karena mempunyai banyak jasa terhadap masyarakat ia meninggal usia dalam usia tinggi ialah setelah berumur 73 tahun jenazah dikuburkan di Asta Tinggi desa Kebonagung berkumpul dengan makam ayahnya Somala beserta Pembesar-Pembesar kerajaan Sumenep lainnya.