Home » , » Wisata Sejarah Masjid Tua Indrapuri Aceh

Wisata Sejarah Masjid Tua Indrapuri Aceh

Islam pertama kali masuk ke Nusantara dan sejarah berdirinya Kerajaan Islam adalah di Wilayah Aceh. Kerajaan Islam tersebut bernama Kerajaan Samudera pasai yang berada di akhir era tahun 1200. Aceh juga mempunyai masjid tua dengan nama Masjid Tua Indrapuri. Pada awal dibangun, masjid ini dulunya adalah sebuah candi Hindu peninggalan Kerajaan Hindu Indrapuri. Berdirinya candi tersebut pada abad 12 Masehi. Lokasi tepatnya masjid tua ini di Desa Pasar Indra puri, Kabupaten Aceh Besar.

Sejarah besar, Kerajaan Indrapuri ditaklukan oleh Sultan Iskandar Muda, beliau adalah Sultan yang memiliki kekuasaan di Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1607 sampai 1636. Pendiri kerajaan ini adalah adik perempuan dari Putra Harsa dari India. Amarda Harsa kalah ketika melawan Huna pada tahun 604 Masehi, kemudian mereka melarikan diri ke Aceh dan mendirikan kerajaan disana hingga kemudian takluk oleh Sultan Iskandar Muda.

Tempat peribadatan yang berupa bangunan candi kemudian diubah menjadi masjid oleh Sultan Iskandar Muda. Walau sudah tidak utuh, tilas candi masih sangat terlihat di sekitar masjid ini. Mantan Gubernur Aceh, yang mempunyai title Prof. Ali Hasjmy (sudah Alamarhum), beliau merupakan sejarawan menyebutkan bahwa bekas tapak candi tersebut mirip dan bahkan sama luasnya dengan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

Susunan bagunan Masjid Tua Indrapuri hingga saat ini masih belum banyak yang berubah. Kayu yang berumur tua menjadi dominasi masjid ini. Arsitektur dan bentuk atap masjid sangat berbeda dan lebih mirip dengan masjid tua di Jawa yang mengambil bentuk candi, yaitu berbentuk segi empat yang mempunyai 3 susun.

Selain tapak candi/bekas candi, wilayah tersebut pernah menjadi center atau pusat Kesultanan Aceh Darussalam beberapa bulan, akibat misi menghindar dari agresi Belanda. Karena tekanan oleh Belanda, pusat kerajaan dipindah kemali ke Keumala yang mana saat ini berada di Kabupaten Pidie.

Wisata Sejarah Masjid Tua Indrapuri Aceh Foto Pada Tahun 1880 Kuno

Masjid ini menempati bekas candi, dan mempunyai areal luas yaitu 33.878 meter persegi, walau begitu untuk sampai ke tempat ini mudah dan tidak begitu jauh dari poros jalan Banda Aceh-Medan.

Termasuk bangunan kuno dan mempesona, karena dikelilingi oleh rerumputan hijau, berbagai macam tanaman buah seperti, pohon mangga, kelapa dan buah rambutan. Sungai Krueang Aceh mengapit dan sisi ebelah barat dan sebelah timur adalah akses jalan raya. Bangunan yang memilki empat undakan dan berselimut lumut. Disebelah kanan area dasar, terdapat sebuah sumur tua yang diapit oleh dua kolam, dan memiiki diameter 1, 5meter. Dinding sumur yang terhias oleh batu bagai cincin mempesona. Memiliki bentuk persegi dan tembok menjulangdengan panjang 9 meter, masjid tua itu berada di puncaknya.

Dilihat dari luar benteng, masjid ini berada di undak yang keempat, dan untuk mencapai ke masjid wisatawan dan pengunjung akan melewati 16 anak tangga yang berada di sisi kanan benteng.Tempat untuk bersuci/wudhu berada di halaman depan dan keindahan bunga asoka, kembang sepatu, pohon asam menambah indahnya Masjid Tua ini.

Di dalam masjid ada sebanyak 36 tiang kayu dengan bentuk segi delapan dan menopang tiga undakan atap. Mimbar menyatu dengan tembok setinggi 1,5 meter dan memiliki uiran relief sederhana. Ada Tiga Lemari Kayu berisi Al-Quran dan kitab berjumlah ratusan menempel pada dinding bagian kiri mimbar.

Penguat fakta sejarah terdapat dalam sejumlah cerita dari beberapa penulis. Di antaranya, penulis Arab, Ibnu Khordadhbeh (844-848), menuliskan Lamuri dengan nama Ramni. Dia menyebut Lamuri tempat kapur barus serta hasil bumi. Penulis China, Chau-Yu-Kwa dalam bukunya Chu Fan-Shi yang terbit pada 1225 Masehi, menyebut Lamuri (Lan-wu-li) sebagai jajahan Sriwijaya (San-fo-ts’i).  Ia juga menyebutkan Lan-wu-li belum menganut Islam.

Beberapa penulis menjadi penguat fakta sejarah, di antaranya adalah:
  • Ibnu Khordadhbeh (844-848), beliau adalah penulis dari Arab, menulis yang isinya Lamuri dengan nama Ramni. Penulis Arab tersebut menyebut Lamuri adalah tempat kapur barus serta hasil bumi.
  • Chau-Yu-Kwa, dia adalah penulis dari China, judul buku bernama Chu Fan-Shi yang diterbitkan pada tahun 1225 Masehi. Dalam bukunya beliau menyebut Lamuri atau Lan-Wu_li sebagai jajahan Sriwijaya/San-fo-ts'i. Dalam bukunya juga menerangkan bahwa Lamuri saat itu belum menganut Islam.
Pelaut bernama Marco Polo, juga pernah singgah ke Pulau Sumatera pada tahun 1292, Marco Polo menerangkan menemukan Kerajaan Lamuri yang saat itu tunduk kepada Kaisar China dan wajib membayar upeti. Dinasti Ming tercatat juga pernah mengirim sebuah suran dengan cap kepada Lam-bu-li pada tahun 1405 Masehi. Kemudian enam tahun setelahnya, Kerajaan Lamuri mengirim upeti ke China dibawa oleh utusannya. Cheng Ho seorang laksamana memeluk Islam juga pernah singgah di Kerajaan Lamuri guna memberikan hadiah dari negeri China sekitar pada tahun 1430.

Peneliti Eropa bernama M. J. C Lucardie juga menulis buku dengan judul Mevelies de Lindie yang diterbitkan Van Der Lith pada tahun 1836, yang isinya menuliskan Lamreh dan menerangkan tentang peninggalan Kerajaan Lamuri.

Bukti jayanya Kerajaan Hindu Doktor Husaini Direktur Pusat Penelitian Ilmu-Ilmu Soial dan Budaya Universitas Syiah Kuala-Banda Aceh, juga menerangkan serta menunjuk 3 artefak di Aceh Besar. Tiga peninggalan bersejarah itu adalah Indrapratra, Indrapurwa dan Indrapuri.

Baca Juga:
Wisata Sejarah Benteng Sultan Iskandar Muda Aceh
Candi Penataran Jawa Timur

Setelah runtuhnya Kerajaan Hindu, kemudian berganti Kerajaan Aceh yang mana saat itu Islam masuk ke Aceh. Sultan Ali Mughayat Syah Berkuasa pada tahun 1496 dan memulai Pertama Kerajaan Aceh, dan menundukan Kerajaan Lamuri.

Foto Sekarang Wisata Sejarah Masjid Tua Indrapuri Aceh

Perkembangan berikutnya, bangunan tiga Benteng tersebut menjadi Inti dan daerah pokok dari kerajaan Aceh selanjutnya. Alasan ini kenapa Aceh dikenal dengan tiga daerah, yakni inti, daerah takluk dan daerah asal. Kerajaan Aceh adalah pemeluk Islam, maka di atas bangunan benteng peninggalan Hindi menjadi kawasan daerah inti kemudian berdiri Maji bernama Masjid Indrapuri.

Letak Lokasi Wisata
Lokasi bertempat di Desa Pasar Indrapuri, perjalanan untuk menempuh lokasi menggunakan mobil berjarak sejauh 6 kilometer dari Kabupaten Aceh Besar, sekitar 13 menit untuk mencapai tempat wisata tersebut. Medan jalannya cukup mudah dan bisa dijangkau, menggunakan mobil dan  kendaraan bermotor.

Peta Lokasi
Peta Lokasi Wisata Sejarah Masjid Tua Indrapuri Aceh dari Kabupaten Aceh Besar
source: Google Maps