Home » , » Pengertian Dan Ciri Ciri Tembang Gedhe Serta Ekistensi Dalam Dunia Seni Pertunjukan Jawa

Pengertian Dan Ciri Ciri Tembang Gedhe Serta Ekistensi Dalam Dunia Seni Pertunjukan Jawa

Ciri Ciri, Fungsi, Serta Eksistensi Tembang Gedhe Dan Tembang Tengahan - Dalam Artikel ini akan membahas tentang pengertian tembang gedhe dan tembang tengahan. Selain itu akan membahas ciri-ciri dan fungsinya (gunane) dalam pertunjukan seni di Jawa. Jenis-jenis Tembang Gedhe dan Tengahan lengkap dengan nama-nama metrum dengan lampah dan pedhotan.

Telah dibahas pada artikel lalu, yaitu tentang Tembang Kakawin, tentang arti dan beberapa contohnya. Tembang Jawa yang menjadi pinathok yakni Tembang Kakawin, Tembang Gedhe, Tembang Tengahan Dan Tembang Macapat

Tembang Gedhe

Tembang gedhe sering digunakan sebagai bawa dan suluk wayang kulit. Tembang gedhe adalah tembang yasan yang aturannya terkait dengan konvensi lampah, yakni kesamaan jumlah suku kata dalam setiap baris. Jumlah baris dalam semua tembang gedhe adalah sama, yakni selalu 4 (empat) baris. 

Aturan ini tampaknya mirip dengan patokan kakawin. Sedang aturan tentang guru lagu (dhong dhing) tidak ada dalam tembang tengahan ini. Nama-nama tembang gedhe ditengarai oleh lampah tembang yang bersangkutan, yakni antara lampah 1 (setiap baris terdiri satu suku kata) hingga lampah 28 (ada yang berpendapat hingga 32) (Padmopuspito, 1989: 87). 

Apabila bertolak dari puisi Jawa Kuna yakni kakawin, aturan yang dimiliki pada tembang gedhe tersebut hampir sama dengan tembang kakawin. Perbedaannya, dalam tembang gedhe tidak terdapat aturan tentang suku kata panjang dan suku kata pendek layaknya dalam kakawin. Jadi, tembang gedhe sebagian memang  merupakan pengembangan dari kakawin.

Baca Juga:

Tembang gedhe hingga masih eksis dan bahkan sering berfungsi dalam kesenian pada masyarakat. Ini terbukti tembang gedhe masih digunakan sebagai bawa (awal) gendhing. Pada gendhing yang memiliki nuansa panembrama, ketawang serta ladrang, umumnya memanfaatkan sastra pada tembang gedhe. 

Nama-nama metrum tembang gedhe dengan lampah dan pedhotan (penggalannya) sebagai berikut (Rejomulyo, 2001:4 14).


Pada rincian daftar tembang gedhe di atas belumlah sampai akhir, apabila dijumlah ada lampah hingga 99. Pada tiap bait tetap 4 baris, asal bertambah lampah maka akan bertambah pula pedhotan. Sebab itu semakin banyak lampah pedhotan semakin tambah, karena itu memang rasional atau nalar jika disebut tembang gedhe. Umumnya nada atau titilaras tiap wanda bertambah banyak pada Tembang Gedhe.

Contoh-contoh tembang gedhe yang disertai titilaras akan dibeberkan pada bagian belakang buku ini. Yang jelas tembang gedhe itu sudah mulai meninggalkan bahasa Jawa kuna. Bahasa Jawa baru yang agak arkais yang digunakan, sehingga membutuhkan penafsiran yang mendalam. 

Ciri tembang gedhe pasti banyak luk dan gregel, karena itu cocok digunakan sebagai bawa gendhing. Selanjutnya tembang gedhe banyak mewarnai dunia pedalangan. Seorang waranggana (sindhen) di paegelaran wayang, pada biasanya memanfaatkan tembang gedhe sebagai bowo gendhing. 
Bowo Gendhing adalah tembang sebelum masuk awal pada gendhing, bisa disebut intro tembang.
Ada pula dalam panembrama yang diberi bawa tembang gedhe. Hal ini tergantung kreativitas masing-masing seniman. Setiap seniman bebas memilih tembang gedhe mana saja, tergantung keperluan. Yang penting dalam dalam rangkaian bawa maupun gerong tetap harmoni.

Baca Selanjutnya Tembang Tengahan , Tembang Kakawin, Tembang Macapat