Home » , » Etika, Bentuk, Laras, Pathet Dan Macam Gaya Karawitan Nusantara

Etika, Bentuk, Laras, Pathet Dan Macam Gaya Karawitan Nusantara

Etika Karawitan

Karawitan merupakan seni musik yang adi luhung. Dapat digelar dalam pertunjukan dengan nuansa gembira, sedih, jenaka, marah, bahkan dapat disajikan secara istimewa dalam acara sakral dalam kegiatan ritual. Pertunjukan pada penyajian Karawitan sangat penting tentang etika dan tata krama yang berlaku.

Pada pagelaran atau penyajian karawitan, para pengrawit (orang yang memegang alat gamelan) tidak dibenarkan menabuh sesukanya, tanpa metode ataupun posisi menabuh yang tidak semestinya.

Pada penyajian Karawitan, para pengrawit harus berpedoman pada metode Karawitan dan cara menabuh Gamelan yang berlaku secara umum.

Etika dan tata krama dalam penyajian karawitan adalah sebagai berikut:
  1. Ketika akan masuk dan keluar tempat gamelan, tidak etis kalau melangkahi ricikan.
  2. Menabuh ricikan dengan cara/teori yang benar.
  3. Menabuh harus bersikap tenang, posisi duduk bersila, menghadap ke ricikan yang sedang ditabuh.
  4. Pada saat menabuh tidak boleh sambil merokok atau makan.
  5. Tidak melakukan pindah tempat pada ketika menabuh gemelan.
  6. Ketika menabuh tidak boleh sambil berbincang dan sendau guru dengan orang diluar tempat Karawitan.

Bentuk Lagu Dalam Karawitan

Lagu yang biasa disajikan dalam Karawitan terbagi menjadi beberapa bentuk lagu yaitu  :

  1. Lancaran >>> lancaran mlampah >>> lancaran tiban 
  2. Ketawang
  3. Ladrang
  4. Gending >>> ketawang gending >>> gending ageng
  5. Jineman (tenang)
  6. Srepegan (marah)

Laras Pada Gamelan Jawa

Laras merupakan satu satuan jenis nada pada Gamelan. Gamelan Jawa mempunyai 2 macam laras yang berbeda, dua laras tersebut adalah Laras Slendro Dan Laras Pelog.

Laras Slendro setiap oktaf dibagi menjadi 5 nada, yaitu 1, 2, 3, 5, 6, sedangkan laras Pelog dibagi menjadi 7 nada, yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7. Pada satu unit perangkat Gamelan bisa hanya mempunyai Slendro atau memiliki laras Pelog. Tetapi pada Gamelan yang komplit tersedia perangkat Gamelan yang memiliki kedua laras, Slendro dan Pelog.

Karena Gamelan laras Slendro tidak sama dengan yang berlaras Pelog, maka agar kedua laras tersebut dapat digunakan sebagai satu satuan musik yang saling melengkapi, maka salah satu nadanya dibuat sma.

Contohnya laras nada 6 slendro dibuat sama dengan 6 pelog. Pada perangkat, Gamelan seperti ini disebut Gamelan tumbuk 6. Ada pula Gamelan yang dibuat dengan tumbuk 5, tetapi yang umum dipakai sekarang adalah tumbuk 6.

Pathet adalah tingkatan tangga nada (tinggi-rendahnya) suatu lagu dalam Seni Karawitan. Pada tembang atau gendhing berlaras Slendro, biasanya dibagi menjadi 3 Pathet, yaitu Pathet 6, Pathet 9, Pathet Manyura. Pada lagu laras Slendro yang bernada Minir, biasanya disebut Barang Miring. Akan tetapi pada Karawitan gaya Jawa Timuran, terkadang mempunyai Pathet 8, Pathet 10 dsb.

Lalu gedhing atau lagu yang mempunyai laras Pelog, pada umumnya dibagi menjadi 3 Pathet, yaitu Pathet 6, Pathet 5, Patet Barang. Untuk gambaran perbandingan tinggi intonasi nada pada suatu Pathet lagu.

Macam Gaya Karawitan

Tidak berbeda dengan bahasa manusia, Karawitan mempunyai dialek dalam penyajian lagu-lagunya. Khas gaya penyajian lagu tersebut dapat digolongkan sebagai berikut :

Gaya Surakarta
Berasal dari Keraton Surakarta, berkembang pada daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan berbagai daerah Indonesia lainnya.

Gaya Yogyakarta (Mataraman)
Berasal dari Keraton Yogyakarta, pada umumnya berkembang lokal didaerah Yogyakarta, sebagian Jawa Tengah , Jawa Timur dan Jawa Barat.

Gaya Banyumasan
Berasal dari daerah Banyumas dan berkembang di Jawa Tengah sebelah barat.

Gaya Semarangan
Berasal dari daerah Semarang dan berkembang di daerah pantai utara Jawa Tengah.

Gaya Jawa Timuran
Berkembang didaerah Surabaya, Mojokerto, Jombang dan didaerah Malang.

Dari semua gaya penyajian karawitan yang disebutkan diatas, yang paling banyak berkembang dan banyak dipentaskan atau di pagelarkan adalah Gaya Surakarta. Dari karawitan Gaya Surakarta ini, berkembang menjadi karawitan yang memiliki karakter lokal dan khas, seperti gaya sragen, Ngawi Madiun, Tuban Tulungagung.