Home » , » Keunikan Dan Nilai Estetis Dari Tari Bedhaya Ketawang

Keunikan Dan Nilai Estetis Dari Tari Bedhaya Ketawang

Keunikan Serta Nilai Estetis Tari Bedaya Ketawang - Tari dari Jawa ini konon mempunyai kemistisan dan sangat sakral. Dalam artikel ini akan dibahas tentang sejarah, keunikan, dan nilai estetis dari Tari Bedhaya Ketawang. Selain itu ada sedikit pembahasan tentang kostum tari Bedaya Ketawang.

Tari tersebut merupakan jenis tari bedaya istana-istana Surakarta dan Yogyakarta, yang dibawakan oleh sembilan penari wanita, yang konon dianggap sakral. Kesakralan ini terletak paca jumlah sembilan, karena melambangkan sembilan arah mata angin.

Seperti yang terjadi di Bali bagi beragama Hindu Darma pedanda (roakhaniman) yang selalu mempersembahkan sesaji kepada Nawa Sanga, atau dewa-dewa sembilan mata angin diantaranya Wisnu (Utara), Sambu (Timur Laut), Mahesora (Tenggara), Brahma (Selatan), Rudra (Barat Daya), Mahadewa (Barat), Sengkara (Barat Laut), dan Siwa (Tengah). 

Penyelengaraan tari bedaya ini untuk keseimbangan antara mikro kosmos, dan selalu dikaitkan dengan faham kejawen. Dalam pengertianya di tubuh manusia terdapat sembilan lubang, yaitu satu mulut, dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu dubur, dan satu alat kelamin. Yang beranggapan bahwa seorang bisa dikatakan sempurna bila dapat nutupi babahan nawa sanga.

Gambaran ini kita dapatkan dalam ceritra Arjunawiwaha, yang berhasil mengekang babahan nawa sanga dalam pertapannya di gunung Indrakila, dengan tujuan dapat melindungi seluruh keluarga nanti dalam Brathayuda dengan Kurawa yang tidak lain merupakan Saudara dari Pendawa itu sendiri. 


Dalam melewati cobaanya hampir saja Batara Guru dilumatkan olea Arjuna. Ketika dewa Indra menanyakan tetang keadaan Junggringsalaka berapa jumlah para dewa yang sedang menghadap Batara Guru ia juga bisa menebaknya.

Diantara bedaya ada tari yang dianggap sakral yaitu Bedaya Ketawang. Merupakan gambaran pertemuan Sultan Agung atau susuhunan yang sedang memerintah dengan Kangjeng Ratu Kencanasari atau Kanjeng Ratu Kidul. Tema percintaan antara raja jawa Jawa dengan Penguasa Laut memiliki latar belakang politik. 

R. Von Heine-geldren dalam karyanya yang berjudul Conceptions of State And Kingship of Southeast Asia mengatakan seorang raja harus melengkapi kekuatan supra natural, memiliki senjata pusaka dan juga wahyu, dan yang harus diperhatikan adalah kekuatan alam yang berarti mencakup Laut Selatan. 

Awal pertemuan antara raja Jawa Dan Kangieng Ratu Kidul ini didalam Babad Tanah Jawi digambarkan Kiyai juru Martani, ayah angkat Senapati, Menasehati agar Senapati tidak sombong karena telah mendapat wahyu. Dan mengamanatkan agar Senapati pergi kelaut Selatan, dan memberitahukan bahwa Laut Selatan di pimpin oleh Raja putri Kangjeng Ratu Kidul dengan bala tak kasat mata, dalam meditasi Senapati, badai taufan mengembuskan dengan dahsyatnya sampai-sampai air laut mendidih. 

Mengetahui Senapati sedang meditasi Kangjeng Ratu Kidul yang akhirnya Takhluk dan meminta agar menghentikan keprihatinannya, Ratu Laut Selatan yang kemudian mengakui bahwa doa Senapati telah dikabulkan dan akhirnya mengatakan bahwa Senopati akan naik tahta (Metaram), memerintah seluruh Tanah Jawa tanpa tanding.

Baca Juga:

Jin dan kasat mata yang akan menjadi abdi Senapati dan siap membantu dikala menghadapi musuh pada masa yang akan datang. Senapati yang menjadi bapak dari semua raja di Tanah Jawa. Kangjeng Ratu Kidul Jatuh Cinta Kepada Senapati, dan menikahlah mereka. 

Masyarakat Jawa percaya bahwa hubungan antara raja Metaram dengan Ratu Laut Selatan dapat mempertahankan keabsahan kedudukan raja-raja Mataram. Tradisi ini sampai sekarang masih dilakukan, baik istana Surakarta ataupun Yogyakarta. Namun dalam upacaranya, Surakarta dan Yogyakarta memiliki perbedaan. 

Di Surakarta Susuhunan Paku Buwana dengan Ratu kidul di selengarakan dengan pertunjukan Bedaya Ketawang, sedangkan Sultan  Hamengku Buwana dari Yogyakarta dengan upacara labuhan. Yaitu pengiriman berbagai busana putri kelaut Selatan (Samudra Indonesia). 

Dalam tradisi Surakarta penari Bedaya Ketawang ini terdiri dari delapan anak prempuan pilihan merupakan anak dari delapan Bupati Nayka, seorang putri Patih kerajaan atau bila tidak bisa diganti dengan cucu Patih. Dengan cara ini diharapkan tidak terjadi pemberontakan dari Bupati Nayaka. Karena Bedaya Ketawang ini dianggap sangat sakral maka dilakukan dengan bersih, dalam arti mereka tidak dalam keadaan haid. 

Dahulu pagelaran ini dilakukan sekali yaitu sehari setelah penobatan susuhunan, tapi sejak susuhunan Paku Buwana X (1893-1939) Selalu diulang setiap tahun tepat pada hari penobatan Susuhunan, Bedaya Ketawang bukan lagi sarana legitimasi kehadirannya sekarang lebih ke budaya yang adiluhung.

Dalam setiap latihan dipilih hari yang tepat yaitu malam menjelang Selasa Kliwon. Pagelaran dilakukan pada siang hari di pendapa Sasana Sewaka. Pendapa Sasna Sewaka. Pendana adalah bangsal tanpa dinding, bisanya digunakan para pejabat untuk melakukan penghadapan (sewaka) pada hari tertentu, misalnya Lebaran, ketika para pejabat tinggi negara menghaturkan sugkem. Pernikahan putera-putri raja juga dilakukan disini. 

Susuhunan Paku Buwana duduk ditengah agak ke barat Pandapa Sasana Sewaka Menghadap ke timur. Ia dihadapi oleh para petinggi negara. Para abdi putri duduk di belakang Susuhunan dengan  membawa perlengkapan upacara. 

Judith Becker dalam penelitianya terhadap beberapa kebudayaan di Jawa Tengah berkesimpulan bahwa seni pertunjukan terutama gamelan merupakan prasana untuk bermeditasi. Hal ini dapat dilihat Susuhunan yang duduk ditengah Pendapa bermeditasi dan di hadiri para petinggi negara yang tidak lain jemaat, dan dikelilingi bendera upacara. 

Bukti yang menguatkan bahwa ini merupakan sarana meditasi adalah terjadi suatu kejadian yang tidak lazim, Susuhunan melihat penari Bedaya Ketawang menjadi sepuluh padahal anggotanya terdiri dari sembilan. Konon itu adalah Ratu Pantai Selatan yang masuk kedalam tubuh Batak. 

Batak adalah pemimpin dalam Bedaya. Bisa keluar apa bila sudah melakukan hubungan suci dengan Susuhunan. Tapi tradisi macam ini sudah di hilang kan sejak tahun 1945 Karena Susubahan Paku Buwana XII sudah bukan raja dalam arti luas.

Kostum dari Tari Bedaya Ketawang condong ke warna hijau, penari memakai paes wajah dan memakai konde bercunduk mentul, sampur dan kemben serta jarik sampai kebawah yang disambung dengan jarik dan cinde.

Bedaya Ketawang selain memiliki nilai politik, kultural dan mistis Bedaya Ketawang terdapat campuran budaya Hindu, adanya keterkaitan penari dengan devadasi. Pengukuhan maharasitama (setingkat guru besar) pada Universitas Saraswati Surakarta 1971 berjudul Bedaya Ketawang Sakral di Candi-candi.apa bila penari di katakan pilihan raja maka devadasi adalah "kekasih dewa" di Barat di samakan dengan Harem.

Demikian artikel ini semoga bermanfaat terimakasih.

kostum tari bedhaya ketawang pola lantai tari bedhaya ketawang keunikan tari bedhaya ketawang nilai estetis tari bedhaya ketawang tari bedaya yogyakarta lirik lagu bedhaya ketawang jenis tari bedhaya ekspresi tari bedhaya