Home » , » Macam, Watak, dan Kegunaan Macapat

Macam, Watak, dan Kegunaan Macapat

Macam, Watak, dan Kegunaan Macapat-Dalam postingan ini akan kita bahas tentang macam-macam, watak dan kegunaan macapat daam dunia seni. Pada postingan lainnya sudah kita bahas tentang pengertian tembang macapat, jenis dan strukturnnya. Dalam macapat ada Panca Grahita, dan juga Sasmita Macapat. Pada Postingan ini mari kita bahas sesuai judul diatas.

Persoalan jumlah tembang macapat masih menjadi simpang siur. Terdapat buku dan para ahli yang menyebutkan hanya 9 macam, 11 macam, 13, macam, dan 15 macam. Hal ini menunjukkan bahwa macam tembang macapat sampai hari ini belum menentu. Bila berpedoman pada cara melagukan, pada dasarnya cukup jelas, mana yang dapat digolongkan macm\apat dan mana yang bukan.
Persoalan jumlah tembang macapat masih menjadi simpang siur. Terdapat buku dan para ahli yang menyebutkan hanya 9 macam, 11 macam, 13, macam, dan 15 macam. Hal ini menunjukkan bahwa macam tembang macapat sampai hari ini belum menentu. Bila berpedoman pada cara melagukan, pada dasarnya cukup jelas, mana yang dapat digolongkan macm\apat dan mana yang bukan.

Dalam Karya buku berjudul Mbombong Manuh (Tedjohadisumarto, 1958) Tembang Macapat (Arintaka, 1981) diterangkan bahwa macapat hanya ada 11 macam. Buku Tembang Macapat Pilihan (Endraswara 2004) menyebutkan 14 buah; 39 cengkok. Pada buku kecil Kepekan Tembang Saha Lelagon Warni-Warni (Prawirodisastra; 1984) menyebutkan 15 buah. Benard Arps (1992:58-59) menyebutkan 9 buah   Yang lain, sebenarnya tembang tengahan, seperti gambuh, megatruh, wirangrong, jurudemung, balabak. Bahkan girisa dan salisir tergolong tembang gedhe. 

Pada tembang salisir yang memakai cengkok gendhing, contohnya pada bait parabe sang smara bangun dan seterusnya, tampaknya berasal dari modifikasi tembang gedhe, yang berubah menjadi tembang gedhing. Ini tidak masalah, yang jelas dalam praktek sehari-hari, macapat yang populer sebagai bahan macapatan dan lomba, ada 11 yaitu:
  • dhandhanggula, 
  • sinom, pangkur, 
  • asmaradana, 
  • durma, 
  • kinanthi, 
  • mijil, 
  • pocung, 
  • maskumambang, 
  • megatruh, dan 
  • gambuh 

Tembang tengahan dan gedhe yang tergolong dalam macapat, digunakan pada hal-hal tertentu saja. 

Bebrapa ahli dan penulis mengatakan ada jumlah macapat hingaa 15. Bilangan cacah ini pun masih bisa bertambah, jika dikemudian hari ada temuan lagi. Jadi bagi para guru yang sering membuat soal pilihan ganda, bahwa jumlah tembang macapat ada....(titik-titik), patut dipertimbangkan. 

Oleh karena nanti hanya akan membingungkan subjek didik. Saya tidak ingin terlalu bertele-tele membahas macam tembang macapat yang masih belum ada kesepakatan. Bgi say asalkan tembang itu dapat dilagukan dengan gaya macapat, jelas termasuk macapat. 

Setiap tembang juga mempunyai perwatakan yang jelas, walaupun terkadang watak tembang ini belakangan tidak begitu jelas pula, tiap orang perlu paham tiap-tiap watak. Maksudnya, seiring perkembangan jaman, hal ini telah melebar, sehingga sulit dibedakan secara deskrit dan tergolong karakteristik. 

Seorang pencipta tembang mestinya paham hal ini, sehingga dalam menulis cakepan bisa menyesuaikan diri. Sesungguhnya watak itu sudah baku, tetap menurut Prabowo (1992:66) sering dilanggar begitu saja.

Misalkan tembang Durma berwatak galak; kereng: dan kebak greget. Kegunaan dalam seni pertunjukan, misalnya seorang pemain ketoprak yang hendak menggandrung, mungkin dengan Asmaradana, yang sedang marah dengan Durma, yang sedang jengkel dengan Pangkur, dan seterusnya.

Selain watak, tembang macapat juga berkaitan kegunaan. Tiap tembang sebeanarnya ada kegunaan seiring dengan wataknya Namun belakangan watak dan kegunaan ini sudah amat cair Para penembang tidak lagi mempertahankan watak dalam menggunakan tembang. Hampir semua tembang macapat sebenarnya ada watak dan guna tersendiri. 

Watak dan guna itu jika ditaati akan bagus. Watak dan guna dapat dikelompokkan sebagai berikut.

1. Mijil
Watak: Asih, prihatin, pangajab (Kasih Sayang, Prihatin, Harapan)
Kegunaan : Mulang Tiyang ingkang nembe prihatin. (Menasehati/memberi pelajaran kepada orang yang sedang prihatin/mempunyai cita-cita).

2. Kinanthi
Watak: Seneng asih, kasmaran, rasa menanti ( Suka Bebagi Kasih Sayang, Percintaan)
Kegunaan: Mituturi, Pratelan tresna, Gandrung ( Nasehat, Sisa cinta, Jatuh Cinta)

3. Sinom
Watak: Ethes, kenes, susah, trenyuh, luruh ( Lincah, Cantik, Susah, Terharu, Kalem)
Kegunaan: Mulang, Nggambara kenkalimpatan ( Mengajar, Berkelana Mencari Ilmu)

4. Asmaradana
Watak: Tresna, sedhih, sengsem, ingat kekasih (Cinta, Sedih, Heran/Terkesima)
Kegunaan: Mahyaaken tresna kasmaran (Kasmaran)

5. Dhandhanggula
Watak: Luwes, gembira, endah
Kegunaan: Kangge menapa kemawon cocok (Untuk suasana apa saja Pantas)

6 Gambuh
Watak: Sumanak,sumedulur (Kekerabatan, Persaudaraan)
Kegunaan: Mulang mituturi ( Nasehat)

7. Maskumambang
Watak: Nelangsa, Ngeres-eresi, Sedih ( Merana, Menyayat Hati, Sedih)

Kegunaan: Mahyaaken raos sedhih (Menjelaskan Rasa Sedih)

8. Durma
Watak: Keras, nepsu, semangat (Keras, Ambisi, Semangat)
Kegunaan: Tiyang nesu, perang (Orang marah, Perang)

9. Pangkur
Watak: Sereng, Nepsu, Sereng (Greget, Ambisi, Garang)
Kegunaan: Pitutur radi srengen (Nasehat agak Greget dan semu menakutkan)

10. Megatruh
Watak: Prihatin, Getun, Keduwung, Sedhih ( Prihatin, Kecewa, Terluka Hati, Sedih)
Kegunaan: Cariyos Sedih, Prihatin, Nelangsa ( Cerita Sedih, Prihatin, Merana)

11. Pocung
Watak: Sembrana, Parikena (Sembrono, Pantun Ejekan)
Kegunaan: Cangkriman, Lelucon, Guyon (Pantun, Lelucon, Bercanda)

12. Wirangrong
Watak: Wibawa ( Wibawa/Berwibawa)
Kegunaan: Mahyaaken keagungan (Menjelaskan Kebesaran)

13. Balabak
Watak: Sembrana, Saenake, Lucu (Sembrono, Se-enaknya, Lucu)
Kegunaan: Sembrono, Bercanda 

14. Girisa
Watak: Gagah, wibawa, wanti-wanti ( Gagah, Wibawa, Pengingat)
Kegunaan: Piwulang (Pelajaran)

15.Jurudemung 
Watak: Kenes, Kasmaran (Genit, Kasmaran)
Kegunaan: Mancing Asmara (Memancing Cinta)
Watak dan kegunaan tersebut sengaja ditulis dengan bahasa Jawa dan Indonesia, agar rasa Jawa mudah ditangkap.Sayangnya sampai saat ini para pengguna macapat tidak begitu menggubris watak tembang. Akibatnya, nuansa seni dan rasa semakin tidak menentu. 

Jika ada yang hendak marah dengan tembang mestinya menggunakan tembang durma. Kebanyakan dan namun tidak semua berbagai cengkok tembang sekarang sudah tidak jelas wataknya. Misalkan, muncul Megatruh Amonglulut, mestinya berisi tentang kematian, ternyata berkisah cinta.

Kecermatan menggunakan watak dan cengkok perlu mendapat tekanan. Kegagalan memanfaatkan watak akan dicibiri oleh yang tahu tentang watak tembang. Jadi, mencipta cengkok tembang tidak asal menjejer titlaras dan menyusun cakepan, tetapi nuansanya harus tertangkap. 

Contoh penggunaan tembang yang cocok nuansa suatu karya ketika eorang penyair hendak mengungkapkan suatu kesedihan dan menakutkan dalam karyanya, tentu menggunakan tembang tembang Girisa, bukan Kinanthi.

Baca Juga:
Sekian Pembahasan tentang sasmita dalam macapat semoga bermanfaat dan menambah wawasan.