Home » » Manusia Makhluk Individu Sosial Etika Dan Religius

Manusia Makhluk Individu Sosial Etika Dan Religius

Ciri ciri hidup manusia sebagai makhluk religius, ciri-ciri manusia sebagai makhluk religius, contoh makhluk religius, manusia sebagai makhluk susila, manusia.sebagai makhluk berketuhanan manusia sebagai makhluk etika dan agama

Asal-mula Dan Inti Religius

Manusia sebagai makhluk sosial hakikat manusia sebagai makhluk individu sosial etika dan agama. Bangsa Indonesia, berdasarkan ideologi Pancasila mengakui beberapa agama.

Tetapi dengan adanya lebih dari 600 suku bangsa, maka suatu fakta bahwa ada sekian banyak kepercayaan pula yang tak dapat diabaikan begitu saja. 

Ilmu yang mempelajari agama yang murni adalah ilmu agama. Sementara melalui sudut andang antropologi dan etnografi lebih mengedepankan pada deskripsi religinya.

Dasar-dasar manusia memeluk suatu agama atau religius adalah karena:
  • Manusia mulai sadar akan konsep roh yang didasarkan pada perbedaan benda-benda yang hidup dengan benda-benda yang mati dan pengalaman yang didapat dari pengalaman bermimpi dimana manusia melihat dirinya berada ditempat lain sehinga dia membedakan antara tubuh jasmaninya yang berada ditempat tidur dan 'bagian lain dari dirinya yaitu jiwanya ( roh) yang pergi ketempat lain.
  • Manusia mengakui adanya berbagai gejala yang tak dapat dijelaskan dengan akal. Menurut J.G Frezer bahwa manusia memecahkan masalah-masalah hidupnya selalu dengan akal dan sistem pengetahuannya. Tetapi akal dan sistem pengetahuan manusia terbatas. Makin maju kebudayaannya, makin luas batas akal itu. Namun toh tetap manusia tidak dapat memecahkan seluruh persoalannya dengan akal sehingga manusia harus memecahkannnya dengan religi. 
  • Keinginan manusia untuk menghadapi berbagai krisis yang senantiasa dialamai manusia dalam daur hidupnya. M. Crawley berpendapat mengalami berbagai krisis yang sangat ditakutinya terutama terhadap bencana, sakit, maut dan harta benda. Pada saat-saat itu terjadi manusia membutuhkan sesuatu untuk memperteguh imannya, yang dilakukan dengan upacar-upacara.
  • Kejadian- kejadian luar biasa yang dialami manusia dialam sekelilingnya. R.R Marret berpendapat bahwa pangkal dari segala perilaku keagamaan ditimbulkan karena adanya perasaan tidak berdaya dalam menghadapi gejala-gejala dan  peristiwa-peristiwa yang dianggap luar biasa dalam kehidupan manusia. Peristiwa-peristiwa yang luar biasa itu dianggap sebagai akibat dari kekuatan supranatural.
  • Adanya getaran-getaran yaitu emosi berupa rasa kesatuan yang timbul dalam jiwa manusia sebagai warga dari masyarakat. Sosiolog Perancis E Durkheim menyatakan dalam teorinya bahwa pada awal keberadaan manusia mengembangkan religi karena adanya getaran, jiwa yaitu suatu emosi keagamaan yang berupa perasaan yang mencakup rasa keterikatan, bakti, cinta yang senantiasa berkobar-kobar setiap saat dalam dirinya yang harus senantiasa dirangsang melalui kontraksi dengan masyarakat. Emosi keagamaan yang muncul membutuhkan suatu obyek tujuan yang bersifat sacre (keramat) yang sebenarnnya merupakan lambang dari masyarakat.
  • Manusia menerima firman dari Tuhan. Pakar Antropologi Austria, W. Schmidt menganggap bahwa agama berasal dari titah Tuhan yang diturunkan pada awal keberadaan manusia di bumi. (Koentjaraningrat 1997: 195-200).

Unsur-Unsur Dasar Religi

Untuk mendeskripsikan religi diantara ribuan kebudayaan didunia, dan khususnya diantara suku-suku bangsa di Indonesia yang jumlahnya melebihi 600 suku bangsa, religi dibagi kedalam unsur-unsur dibawah ini:

  • Emosi keagamaan (getaran jiwa) yang menyebabkan manusia didorong untuk berperilaku agama.
  • Sistem kepercayaan atau bayangan-bayangan manusia tentang bentuk dunia, alam, alam gaib, hidup, maut, dan sebagainya.
  • Sistem ritus atau upacara keagamaan dengan dunia gaib berdasarkan sistem kepercayaan tersebut.
  • Kelompok keagamaan atau kesatuan-kesatuan sosial yang mengkonsepsikan dan mengaktifkan religi berikut sistem upacara-upacara keagamaannya.
  • Alat-alat fisik yang digunakan dalam ritual atau upacara keagamaan.

Wujud Agama dan Religi

Fetishisme 
Yaitu bentuk religi yang didasarkan pada kepercayaan akan adanya jiwa dan benda benda tertentu, dan terdiri dari berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan untuk memuja benda benda "berjiwa" itu.

Animisme 
Yaitu bentuk religi yang didasarkan pada kepercayaan bahwa alam sekeliling tempat tinggal manusia dihuni oleh berbagai macam roh, dan terdiri dari berbagai kegiatan keagamaan guna memuja roh-roh itu.

Animatisme
Tidak merupakan suatu bentuk religi, melainkan suatu sisem kepercayaan bahwa benda-benda serta tumbuh-tumbuhan memiliki jiwa dan dapat berpikir seperti manusia.

Prae-Animisme/Dinamisme
Yaitu bentuk religi yang didasarkan pada kepercayaan kekuatan sakti yang ada didalam segala hal yang luar biasa.

Totemisme
Yaitu bentuk religi dari masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok kekerabatan dengan menggunakan lambang-lambang (totem) dari kelompok mereka berupa hewan, tumbuhan, dan sebagainya.

Polytheisme
Yaitu bentuk religi yang didasarkan pada kepercayaan akan adanya suatu hierarki dewa-dewa, dan terdiri dari upacara untuk memuja para dewa.

Monotheisme
Yaitu bentuk religi yang didasarkan pada kepercayaan pada satu dewa, yaitu Tuhan, dan kegiatan-kegiatan upacaranya bertujuan untuk memuja Tuhan tersebut.

Mystic
Yaitu bentuk religi yang didasarkan pada kepercayaan kepada satu Tuhan yang dianggap menguasai seluruh alam semesta, dan terdiri dari upacara-upacara yang bertujuan mencapai kesatuan dengan Tuhan tersebut.
Baca Juga:
Penjelasan Manusia Makhluk Berpikir Lengkap Dengan Tujuan, Menurut Filsafat, Serta Apa Itu Animal Rational

Dewa-dewa, Makhluk Gaib, Tuhan

Dewa-dewa
Dewa adalah makhluk yang oleh manusia dibayangkan mempunyai nama, bentuk, ciri-ciri, sifat-sifat dan kepribadian yang tegas. Di antara dewa-dewa dalam suatu religi, biasanya satu dewa dianggap sebagai dewa tertinggi.

Di Indonesia, contoh dewa tertinggi ( yang terutama terdapat dalam religi suku-suku bangsa pemburu dan peramu) di Batak Toba misalnya dikenal dengan sebutan Ompu Tuan Mula Jadi Nan Bolon yang dianggap sebagai pencipta alam, menguasai musim-musim, dan kesuburan.

Di Bali dikenal dewa-dewa misalnya Batara Guru yang dianggap sebagai sebagai dewa pencipta alam, Batara Indra, Batara Wisnu, Batara Brahma. Masyarakat Bali juga mengenal Dewa Sang Nila Brahma (dewa matahari), Ida Sangiyang Sadakara (dewa bulan), Batari Lod (dewa laut selatan), dan dewa-dewa lainnya.

Makluk Gaib
Yaitu roh-roh leluhur, dan roh-roh lainnya, hantu, dan sejenisnya. Biasanya manusia tidak mempunyai gambaran yang tegas mengenai wujud, ciri, sifat, serta kepribadian mereka. Mereka dianggap menempati alam sekitar tempat manusia berada.

Makluk-makluk tersebut diyakini bisa masuk kedalam tubuh hewan dan manusia. Di Indonesia makuk-makluk halus atau gaib dikenal misalnya seperti jin, peri, kuntilanak, dan sebagainya.

Kekuatan Sakti
Kekuatan sakti merupakan obyelk kepercayaan yang menganggap gejala-gejala (misalnya gejala alam) benda-benda (misalnya benda-benda), atau peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Kepercayaan terhadap kekuatan sakti masih banuak dijumpai dari banyak suku di Indonesia.

Banyak orang Indonesia yang percaya terhadap halilintar, taufan, orang-orang aneh misalnya orang kerdil, hewan bule, dan sebagainya. Juga masih mempercayai adanya kekuatan sakti pada tumbuh- tumbuhan seperti beringin, padi, dan sebagainya.

Tuhan
Tuhan adalah: Personality. Yaitu kepribadiarn yang mencintai Actuality. Yaitu kehadirannya didunia ini secara paling intensif. Irreversibility absolute/mutlak, tidak bisa hancur. Transedency. Yaitu melebihi segala pengertian.
ciri ciri hidup manusia sebagaimakhluk religius, ciri-ciri manusia sebagai makhluk religius, contoh makhluk religius, manusia sebagai makhluk susila, manusia.sebagai makhluk berketuhanan manusia sebagai makhluk etika dan agama

Featured Post

Tembang Macapat Terlengkap Di Dunia Asal Usul, Jenis, Filosofi, Contoh, Makna Dan Arti

Tembang macapat adalah salah satu tembang atau lagu daerah yang sering digunakan, bisa dibilang terpopuler di Jawa. Tembang macapat adalah...