Home » , » Mengenal Tembang Kakawin Beserta Contoh Dan Artinya

Mengenal Tembang Kakawin Beserta Contoh Dan Artinya

Tembang Kakawin-Dalam artikel ini akan dibahas tentang pengertian kakawin, contoh kakawin beserta artinya. Selain itu fungsi materi tentang kakawin dan dalam penggunaanya dalam pagelaran wayang.

Tembang Kakawin tergolong tembang Jawa Kuno dan beberapa peneliti seni/seniman-seniwati mengatakan tembang kakawin adalah tembang pinathok. Pinathok, memiliki arti memiliki batas/dasar. jadi arti luasnya adalah tembang kawi adalah tembung jelas, baku dan asli. Pada dasarnya, kakawin juga dilagukan, sehingga layak dinamakan tembang. 

Banyak kakawin yang ditembangkan oleh ki dalang. Bahkan ada pula yang menganggap kakawin itu tembang mantra, silahkan saja. Pendapat Subalidinata (1994:18-20) kata kakawin diambil dari asal kata dasar kawi, yang memiliki arti puisi atau sanjak. Piyayi/Orang yang ahli membuat karya dalam bahasa kawi disebut kawya. Mulanya istilah tersebut berasal dari metrum-metrum di India. 

Kata kawi juga bermakna seorang yang mempunyai pengertian yang luar biasa, seorang yang bisa melihat hari depan, seorang bijak. Karya dalam sastra Jawa adalah kakawin Baratayuda karya Empu Sedah dan Panuluh, sebagai representasi karya yang bagus dan bijak.


Orang yang melahirkan kakwin juga disebut empu, mirip dengan pujangga atau penyair. Yang perlu dipahami, kakawin itu puisi Jawa kuna yang bercirikan sebagai berikut: 
  • (1) tiap bait terdiri atas empat baris, 
  • (2) masing-masing baris meliputi jumlah suku kata yang sama, disusun menurut pola metris yang sama, 
  • (3) menggunakan aturan guru artinya berat, dan lagu berarti ringan. 
Dalam pemahaman simbol, lagu diberi tanda melengkung dan guru garis lurus. Kakawin juga sangat eksis digunakan dalam kehidupan pertunjukan seni pedalangan, khususnya untuk suluk ki dalang maupun oleh pengrawit untuk garab gendhing/musik kontemporer. Walau begitu, tidak semua oeang yang berkecimpung menjadiseorang dalang mampu menyuarakan sulukan dengan kakawin. Pada gilirannya, kakawin yang dipakai dalam suluk juga berubah-ubah tergantung resepsi dalang. 

Jika demikian berarti kakawin itu sejenis tembang pula. Era kerajaan masa Kediri dan Kahuripan, tentu banyak aktivitas membaca kakawin seperti melagukan tembang. Di bawah ini diberikan contoh kutipan kakawin:

Baratayuda

Leng-leng ranyanikang cacangka kumenyar mangrengga ruming puri
Mangkin tan siring halep ikang umah mas lwir murub ring langit
Tekwan sarwa manik tawingnya sinawung saksat sekar sinuji
Unggwan Bhanuwati yana mrenalangi mwang natha Duryudana
(Sardula Wikridita)

Leng-leng gatiningkang hawan sabha-sabha nikeng Hastina
Samantara tekeng tegakl kurunarya ywa kresna laku
Sireng para cura ma kanwa janaka dulur narada
Kepanggih irikang tegal miluri karya Sang Bupati
(Sikarini)

Mulat mara sang Arjunäsênu kamanusan kasrêpan
ri tingkah i musuh nira n pada kadang taya wwang waneh
hana pwa ng anak ing yayah mwang ibu len uwanggêh paman
makädi nrpa Salya Bhisma sira sang dwijanggêh guru
(Perthiwitala)

Sebagai contoh terjemahan, kakawin bait Pertiwitala di atas diterjemahkan bermakna bahwa ketika Arjuna melihat sekelilingnya ia nampak terharu sekali, iba dan sedih, karena semua musuh itu termasuk kaum kerabatnya, tak ada satu orang asing di antara mereka. Ada saudara sepupu, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu, lagi pula paman-pamannya, terutama Salya, kemudian Bhisma (dan Drona), sang brahmin, yang pernah menjadi gurunya).

Biarpun satu bait saja dapat disebut kakawin, misalnya sajak cinta yang hanya satu bait saja, namun kebanyakan kakawin terdiri atas beberapa bait yang berturut-turut memakai metrum yang sama sehingga membentuk sebuah pupuh tertentu. Setiap pupuh mempunyai perbedaan menurut modif/varian  dalam metrumnya.

Tidak ada ketentuan berapa jumlah bait dalam satu pupuh. Juga tidak ada ketentuan yang menghubungkan antara tema tertentu dengan sifat metrum tertentu (Zoetmulder, 1983: 121-122). 
Dalam buku Kalangwan karya Zoetmuler (1983) yang berisi keindahan kakawin, telah dikupas secara dalam dan jelas, tentang Kakawin.
Kakawin di atas biasanya masih terdengar dalam sulukan dalang. Namun tidak semua dalang mampu menggunakan bahasa Jawa kuna. Akibatnya dalam berbagai bait kadangkala berubah menurut versi dalang itu sendiri. Perjalanan waktu ada juga terjadi perubahan saat melafalkan Jawa kuna, ini wajar karena perkembangan jaman, Pelafalan tersebut adalah menurut kelegaan dalam suara nada.

Misalnya dalam tembang kakawin:
"Leng-leng gatiningkang hawan sabha-sabha nikeng Hastina"
hingga perjalanan waktu menjadi:

"Leng-leng gatiningkang Awan Sobo-Sobo nikeng Ngastino"
pegucapan a menjadi o, ini lah yang saya maksud unsur dalam Jawa suara lego (lega). Bagi yang tidak tahu, hal tersebut sudah biasa dan lazim. Aneka sulukan dalang tidak semua bergeser jauh dari kakawin ke tembang gedhe, dan juga macapat. Semua tergantung dalang dan merupakan khasanah dalam seni, beragam dan banyak variasi, asal tidak keluar dari makna.

Sebagian besar kakawin merupakan karya persembahan kepada raja. Kakawin itu dicipta sebagai upaya penghormatan pada raja. Terkadang karya tersebut sebagai gambaran abadi sifat atau tingkah raja. Kakawin Arjunawiwaha saja contohnya, makna dari tembang tersebut jelas menggambarkan raja Erlangga. 

Selain itu, ada pula kakawin yeng menjadi kitab besar, yang dianut oleh kepercayaan Budha. Ciptaan berupa karya yang terkenal dan berpengaruh bagi kepercayaan Hindu misalnya Sangywang Kamayanikan, Wertasancaya, Gatotkacasraya adalah kitab persembahan untuk  raja, dan terkadang menjadi panutan (ditaati) oleh pemiliknya.

Sampai detik ini, kekawin menjadi "sastra simpanan", sastra museum. Hanya orang tertentu, yang paham bahasa Kawi, yang mau membuka. Bahkan di beberapa museum telah dilarang mengkopi ataupun memperbayak kakawin.

Baca Juga:
Umumnya belajar kakawin selalu terkendala oleh bahasanya. Sebenarnya tidaklah sulit untuk mempelajari tembang kakawin karena ada master atau dosen yang bisa menelaah arti dan maknanya. Kandungan nilai moral memang tinggi, tetapi bahasanya sering dianggap sulit. Kebanyakan Tembang kakawin memang penuh dengan sasmita, sandi dan pralambang.

Selanjutnya:

pengertian kakawin dalam bahasa bali perbedaan kidung dan kakawin contoh kekawin beserta artinya wujud kakawin contoh kakawin bahasa bali pengertian kidung materi tentang kakawin jenis jenis kakawin