Home » , » Pengertian Dan Definisi Tembang Tengahan Lengkap Dengan Ciri-Ciri Serta Jenisnya

Pengertian Dan Definisi Tembang Tengahan Lengkap Dengan Ciri-Ciri Serta Jenisnya

Dalam artikel ini akan dibahas tentang ciri ciri tembang tengahan, definisi tembang tengahan dan nama lain tembang tengahan. Lain kali akan dibahas watak tembang tengahan. Pada artikel sebelumnya telah kita bahas pengertian dan jenis tembang gedhe lengkap dengan nama metrum, lampah dan pedhotan.

Tembang Tengahan

Perkembangan pada bentuk tembang yang memiliki bahasa Jawa kuna yang disebut kakawin telah  mengalami pergeseran semenjak jaman Majapahit. Karya pada zaman ini disebut dengan nama kidung Jawa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Kawi-miring atau disebut bahasa Jawa pertengahan. 

Perkembangan pada bentuk tembang yang memiliki bahasa Jawa kuna yang disebut kakawin telah  mengalami pergeseran semenjak jaman Majapahit. Karya pada zaman ini disebut dengan nama kidung Jawa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Kawi-miring atau disebut bahasa Jawa pertengahan.

Tidak sama dengan kakawin, puisi/sastra Jawa pertengahan yang disebut kidung tidaklah menggunakan metrum dari kebudayaan India, namun bermetrum asli dari Jawa, yaitu menggunakan metrum yang biasa disebut sebagai metrum tengahan, dengan patokan: 
  • Jumlah baris pada setiap bait tetap sama selama metrumnya tidak berganti. Semua metrum tengahan mempunyai lebih dari empat baris (berbeda dengan kakawin).
  • Jumlah pada suku kata tiap baris tertentu tetap, namun panjang tiap baris masing-masing tidak sama menurut kedudukan baris itu, pada tiap bait.
  • Sifat sebuah vokal setiap suku kata terakhir pada tiap baris juga tertentu menurut baris tertentu dalam suatu bait.
Kidung pada dasarnya adalah sebuah lelagon yang memiliki format dengan kata / tembung kawi campuran dengan bahasa Jawa baru. Kidung addalah karya untuk mengekspresikan kisah seseorang tokoh. Pada jaman Majapahit terdapat kidung Sri Tanjung, Kidung Sorandaka, kidung Sundayana, kidung Ranggalawe, dan lain sebagainya. 

Karya yang memiliki kidung itu menjadi embrio utama lahirnya tembang macapat Kidung selanjutnya, kemudian berkembang terus disetiap waktu dan akhirnya menjadi tembang macapat. Bahkan di era kerajaan Demak, telah muncul macapat pun masih sering disebut kidung. Kidung berbahasa setengah kawi setengah Jawa baru, sehingga relatif mudah dicerna. 

Metrum pada tembang tengahan ini memiliki prinsip seperti dalam tembang macapat, seperti apa yang dinyatakan oleh Padmosoekatjo (1953 : 23), adalah penyusunannya berdasarkan guru gatra, guru wilangan dan guru lagu. Ini berarti, dalam tembang tengahan dan macapat, setiap bait sudah tertentu jumlah barisnya (guru gatra atau cacahing gatra), jumlah suku katan (guru wilangan atau cacahing wanda), dan jatuhnya ketukan vokal pada akhir baris (dhong-dhing atau guru lagu). Tembang Tengahan juga memiliki nama lain yaitu Sekar Tengahan.

Guru gatra ialah jumlah baris setiap  bait. Guru wilangan ialah jumlah suku kata setiap baris. Sedang guru lagu ialah bunyi vokal pada suku kata di akhir baris bahwa tembang tengahan dan tembang macapat

Menurut Zoetmulder, perbedaan pada kidung (tembang tengahan) dengan tembang macapat, yang paling utama adalah pada perangkaian bait menjadi pupuh. Dalam bait kidung, terkadang satu pupuh dipadu dengan pupuh lainnya dan hanya dalam sedikit bait. 

Padmosoekatjo (1953: 22) secara lebih jelas membagi antara metrum-metrum tembang tengahan dengan metrum-metrum tembang macapat. Yang tergolong jenis tembang tengahan ada 5 (lima) macam, yaitu: Megatruh (dudukwuluh), Gambuh, Balabak, Wirangrong, dan Jurudemung.

Sedang yang termasuk tembang macapat ada 9 (sembilan) macam yakni Kinanthi, Pucung, Asmaradana, Mijil, Maskumambang Pangkur, Sinom, Dhandhanggula dan Durma. Tentu saja, perkembangan berikut sudah berbicara lain, sebab tembang tengahan itu ada yang telah dimasukkan macapat.

Jadi prinsip kakmwin dan kidung memang berbeda, sedangkan kidung dengan macapat relatif sama. Menurut hemat saya yang membedakan kidung dengan macapat adalah bahasanya. Selain itu, sampai saat ini, nasib kidung sudah sama halnya dengan kakwin, telah surut (mati). Jarang pembuat syair atau penyair yang membuat karya kidung kecuali kalau ada pesanan. 

Kakawin, kelak berkembang menjadi tembang gedhe. Sedangkan macapat hampir selalu lahir di media massa berbahasa Jawa. Oleh karena itu, tidak perlu disalahkan apabila ada upaya menyelamatkan kidung melalui macapat.

Selanjutnya Silahkan Baca Tentang Tembang Jawa Lainnya:
Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita. Terimakasih.