Home » , » Penjelasan Manusia Makhluk Berpikir Lengkap Dengan Tujuan, Menurut Filsafat, Serta Apa Itu Animal Rational

Penjelasan Manusia Makhluk Berpikir Lengkap Dengan Tujuan, Menurut Filsafat, Serta Apa Itu Animal Rational

Manusia adalah Makhluk Berpikir - Dalam artikel ini akan membahas tentang manusia adalah mahluk berfikir. Mengapa manusia perlu berfikir dan pentingnya berpengetahuan. Selain itu membahas proses berpikir manusia menurut filsafat, tujuan berpikir apa itu manusia animal rational serta tingkatan berpikir manusia.

Buah Manusia Adalah Ide

Pohon dikenal dari buahnya. Dua batang pohon yang sama mungkin kelihatan serupa dan sukar dibedakan. Misalnya, suatu pohon pisang diketahui sebagai pohon pisang koja setelah terlihat buahnya. Buah merupakan jatidiri pohonnya. Bagaimana dengan manusia? Buah apakah yang menjadikan manusia mampu dibedakan? 

Kita sangat kagum apabita melihat sarang burung manyar atau rumah madu lebah. Seakan-akan hewan-hewan tersebut mempunyai daya cipta yang luar biasa. Namun rupanya hal tersebut merupakan daya cipta yang semu. Bila perilaku mereka kita manipulasi, perilaku mereka akan kacau, impulsive, atau bahkan membabi buta. (Hewan tidak mempunyai dorongan untuk mengadakan perubahan dan pembaharuan pada cara kerja dan cara hidupnya) 

Mereka lebih menggunakan nalurinya untuk menjalankan aktifias kesehariannya. Naluri adalah pembawaan alami, tidak dipelajari dan tidak disadari, yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Manusia juga mempunyai naluri dan hidup menurut naluri itu. 

Naluri-naluri itu diperlukan untuk mempertahankan hidup. Namun bagi manusia naluri bukan segala-galanya. Manusia menggunakan akal budinya untuk memperbaiki dan melakukan perubahan-perubahan dalam hidupnya. Manusia melalui idenya mampu membuat segala sesuatu yang baru dan penuh kemanfaatan bagi dirinya ataupun orang lain.

Ens (latin) atau being ( Inggris). Manusia adalah pengada yang berfikir demikian kurang lebih makna dari dua istilah tersebut. Pengada berpikir, dari hakekatnya selalu menghasilkan ide-ide atau gagasan-gagasan. Karena manusia berpikir dan menghasilkan gagasan-gagasan, maka manusia menciptakan segala sesuatu didunia.

Dalam artikel ini akan membahas tentang manusia adalah mahluk berfikir. Mengapa manusia perlu berfikir dan pentingnya berpengetahuan. Selain itu membahas proses berpikir manusia menurut filsafat, tujuan berpikir apa itu manusia animal rational serta tingkatan berpikir manusia.

Ciri- ciri pemikiran/pikiran yang bermutu menurut Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso:
  • Jelas
  • Tepat
  • Teliti
  • Teratur
Sehingga jelaslah disini bahwa manusia adalah pemikirannya. Tanpa pikirannya dan tanpa idenya, kita tidak akan mampu berbicara mengenai manusia. Maka dari itu ide atau gagasan menjadi buah manusia. Buah yang masih mentah menunjukkan manusianya masih mentah, sebaliknya buah yang sudah matang menunjukkan manusianya sudah matang. 

Buah-buah gagasan manusia dapat dibedakan menjadi tiga jenis:

Pengertian
Pengertian adalah sesuatu yang timbul dalam pikiran kita sebagai tanggapan atas serapan pancaindera kita dalam menghadapi realitas. Tanggapan tersebut menyebabkan kita tahu dan paham sesuatu. Pengertian meliputi makna (kata, simbol, lambang,dsb), konsep, definisi. 

Contoh Pengertian perpustakaan merupakan sebuah ruang/tempat dimana orang-orang biasa membaca buku, meminjamnya dengan jangka waktu tertentu.

Keputusan
Pengertian yang satu dan pengertian yang lain dapat menjadi satu, membentuk sebuah keputusan Keputusan merupakan pendapat, sikap, wawasan, atau pendirian.

Contoh Membaca buku diperpustakaan sangat bermanfaat bagi berkembangnya pengetahuan manusia.

Kesimpulan
Keputusan yang satu dan keputusan yang lain menjadi satu kesimpulan.

Contoh:
  • Perpustakaan A banyak dikunjungi anak.
  • Perpustakaan B banyak dikunjungi anak.
Kesimpulan: Minat baca anak sangat besar

Logika

Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. 

Ilmu di sini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal. Logika, falsafah hidup, dan perwujudannya dalam kenyataan hidup selalu mengacu pada kebenaran, kebaikan dan keindahan. 

Berpikir logis sangatlah menjauhi hal-hal yang emosional, karena sesuai dengan hukum logika, berpikir cakap bukan berdasarkan apa yang dimaui, melainkan melainkan berdasarkan fakta-fakta yang ada. 

Logika dan perasaan adalah hikmat manusia dimana masing-masing ada peranannya sendiri. Keduanya sama berharganya, dan tidak bisa saling meniadakan Berpikir adalah obyek material logika. Yang dimaksudkan dengan berpikir disini adalah kegiatan pikiran, akal budi manusia. 

Dengan berpikir manusia mengolah dan mengerjakan pengetahuan yang diperoleh.. Dengan mengolah dan mengajarkan pengetahuan manusia dapat memperoleh sebuah kebenaran. Pengolahan dan pengerjaan pengetahuan ini terjadi dengan cara mempertimbangkan, menguraikan, membandingkan serta menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian yang lain.

Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran.

Kegunaan Logika
Tujuan menguasai logika berpikir adalah: 
  • Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
  • Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif
  • Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
  • Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
  • Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpkir, kekeliruan, serta kesesatan.
  • Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
  • Terhindar dari klenik, gugon-tuhon ( bahasa Jawa)
  • Apabila sudah mampu berpikir rasional,kritis ,lurus,metodis dan analitis sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.

Dasar-dasar Logika
Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). 

Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contor dari logika formal. Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif.

Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif, kadang disebut logika deduktif adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.

Contoh argumen deduktif
  • Setiap mamalia punya sebuah jantung
  • Semua kuda adalah mamalia
  • Setiap kuda punya sebuah jantung
Penalaran Induktif
Penalaran induktif, kadang disebut logika induktif-adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.

Contoh argumen induktif
  • Kuda Sumba punya sebuah jantung
  • Kuda Australia punya sebuah jantung
  • Kuda Amerika punya sebuah jantung
  • Kuda Inggris punya sebuah jantung
  • Setiap kuda punya sebuah jantung
Macam-Macam Logika
Logika Kodratiah
Akal budi dapat bekerja menurut hukum-hukum logika dengan cara spontan. Namun spontanitas yang terjadi tidak mampu menghindarkan diri dari kesesatan-kesesatan karena terkadang manusia sulit mengatur keinginannya sehingga terkadang keputusan yang diambil bukan berdasarkan akal budi untuk menghindari kesesatan diperlukan suatu ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran.

Logika Ilmiah
Logika ini membantu logika kodratiah. Logika ilmiah pertolongan logika ini dapatlah akal budi bekeja lebih memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi. Berkat tepat,lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman.

Pembagian (Penggolongan) dan Definisi

Pembagian (Penggolongan)
Yang dimaksudkan dengan pembagian (penggolongan) adalah sebuah kegiatan akal budi dalam menguraikan, membagi, menggolongkan dan menyusun pengertian-pengertian tertentu. Dalam proses pemikiran dan ilmu pengetahuan, pembagian (penggolongan) memegang peranan penting.

Sebab tidak mudah mengupas suatu masalah tanpa dapat menangkap bagian-bagiannya. Juga tidak mudah menghadapi suatu persoalan menguraikan unsur-unsur yang menyusunnya. Rene Descartes seorang filsuf besar Perancis abad ke-17 bahkan tidak pernah melepaskan pembagian(penggolongan ) dalam metode berpikirnya. Metode berpikirnya mencakup empat hal:

  • Jika tidak mengetahui dengan jelas bahwa sesuatu adalah benar, jangan mempercayainya sebagai sebuah kebenaran.
  • Pecah-pecahkanlah (menggolongkan) setiap persoalan menjadi bagian yang lebih kecil
  • Mulailah menangani hal-hal yang paling sederhana dan paling mudah dipahami, kemudian meningkat pada hal-hal yang lebih sulit
  • Bila mendaftar unsur-unsur sebuah persoalan, diupayakan daftar tersebut lengkap, dan tidak ada satu halpun yang disisihkan
Definisi
Kata definisi berasal dari kata "definitio" (bahasa
latin), yang berarti pembatasan. Schingga definisi
mempunyai tugas penting yaitu menentukan batas

pengertian dengan tepat, jelas, dan singkat. Definisi terdiri
dari dua macam:

1. Definisi Nominal/ Definisi menurut kata-nya. 
Definisi ini merupakan suatu cara untuk menjelaskan sesuatu dengan menguraikan arti katanya. Contoh : definisi filsafat diambil dari kata dalam bahasa Yunani "philos" yang artinya pecinta dan "sophia" yang artinya kebijaksanaan. Atas dasar itu kata filsafat berarti pencinta kebijaksanaan.

2. Definisi Real 
Defininsi ini merupakan definisi yang memperlihatkan hal/ benda yang dibatasinya dengan cara menyajikan unsur-unsur atau ciri-ciri yang menyusunnya. Definisi ini selalu majemuk artinya selalu terdiri dari dua bagian.

Bagian pertama menyatakan unsur yang menyatakan hal/benda yang tertentu dengan benda lain. Bagian kedua menyatakan unsur yang membedakannya dari sesuatu yang lain.

Contoh Manusia adalah hewan yang berakal budi.(hewan adalah bagian pertama
dan yang berakal budi adalah bagian yang kedua).

Definisi Real dapat dibedakan menjadi empat yaitu:

  • Definisi Hakiki. Definisi yang menyatakan hakekat sesuatu yang bersifat abstrak dan mengandung unsur-unsur pokok saja yang dimiliki oleh suatu golongan yang membedakannya sungguh-sungguh dengan golongan lain. Misalnya berakal budi" membedakan manusia dengan hewan lainnya.
  • Definisi gambaran. Definisi ini menggunakan ciri-ciri khas sesuatu yang akan didefinisikan. Meskipun definisi ini tidak sesempurna definisi hakiki tetapi definisi ini sudah cukup untuk memhedakan sesuatu dari sesuatu yang lain. Misalnya : Semua burung gagak itu hitam.
  • Definisi yang menunjukkan tujuan sesuatu. Definisi ini menunujukkan tujuan keberadaan sesuatu. Misalnya: Arloji adalah suatu alat untuk menunjukkan waktu, yang disusun sedemikian rupa hingga dapat dimasukkan dalam saku atau diikat dilengan.
  • Definisi yang menunjukkan sebab akibat. Definisi yang menunujukkan sebuah aksi-reaksi sesuatu. Misalnya: Gerhana bulan adalah gerhana yang terjadi karena bumi berada diantara bulan dan matahari.
Didalam membuat sebuah definisi ada beberapa hukum/peraturan yang harus ditaati:

  • Definisi harus dapat dibolak-balikkan dengan hal yang didefinisikan. Contoh : hewan yang berakal budi adalah manusia.
  • Definisi tidak boleh bermakna negatif. Contoh: Cantik adalah seseorang yang mempunyai wajah tidak jelek.( pernyataan ini tidak diperbolehkan dalam hukum definisi)
  • Apa yang didefinisikan tidak boleh masuk kedalam definisi. Kalau itu terjadi maka kita sedang terjatuh dalam bahaya yang disebut circulus in definiendo. Artinya sesudah berputar putar, kita dibawa kembali ketitik pangkalnya. Contoh : Logika adalah ilmu pengetahuan yang menerangkan hukum logika
  • Definisi tidak boleh dinyatakan dengan bahasa yang kabur, kiasan, majas, peribahasa, atau mendua arti. Contoh : Cantik adalah seseorang yang mempunyai wajah rupawan bagaikan. bulan purnama yang tampak dimalam hari dikelilingi berjuta bintang diangkasa.

Perkembangan Sejarah Berpikir Manusia 

Cara Berpikir Manusia

Dijaman perburuan, pertanian dan peternakan yaitu jaman manusia purba yang sangat primitif, manusia hanya dapat berpikir secara sepotong- sepotong. Mereka tidak bisa melihat dengan luas maupun membuat rencana panjang untuk kehidupannya.Cara berpikir sepotong-potong sering disebut cara berpikir pragmatis. Istilah prgmatisme berasal dari kata Yunani "pragma" yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya, yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham.

Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah "faedah" atau manfaat". Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works).

Manusia hanya berpikir bagaimana memenuhi kebutuhannya saat itu saja dilihat dari faedah dan kemanfataanya. Cara berpikir yang agak maju adalah cara berpikir idealis pragmatis dimana manusia sudah mulai mengangan-angankan tentang sesuatu misalnya mengangankan datangnya hujan atas pertanian mereka, mengangankan datangnya musim panas.

Dengan idealis tersebut mereka mengadakan berhala-berhala untuk disembah agar supaya mendatangkan apa yang diangan-angankannya. Kemudian cara berpikir yang lebih maju lagi adalah cara berpikir realis, yaitu cara berpikir yang mulai melihat situasi obyektif atau kenyataan-kenyataan yang ada disekitarnya.

Cara berpikir realis akhirnya berkembang menjadi dua aliran yaitu realis pragmatis yaitu cara berpikir yang sudah melihat hal-hal obyektif namun belum mampu menghubungkan hal-hal obyektif tersebut dengan sebab- musababnya. Cara berpikir ini menganggap bahwa setiap persoalan kehidupan tidak saling berhubungan dengan persoalan sebelumnya dan dapat diselesaikan dngan sepotong-sepotong. Misalnya: Disaat kita melihat sebuah kenyataan bahwa rakyat Indonesia lapar. Maka cara berpikir cara berpikir realis pragmatis akan memutuskan untuk mengimpor beras tanpa memperhitungkan

Sedangkan yang kedua adalah cara berpikir realis dialektis. Cara berpikir ini selalu melihat adanya keterkaitan sesuatu berikut hubungarn persoalan satu dengan persoalan yang lain sehingga bisa diketahui sebab-musababnya suatu keadaan atau kejadian. Realis Dialektis ini dibagi menjadi 2 yaitu:
dampak-dampaknya.

  • Realis dialektis utopis yaitu cara berpikir yang mampu melihat sebuah hubungan dan mampu mengetahui sebab-akibat terjadinya sebuah persoalan, namun tidak mampu dan tidak tahu cara merombaknya.
  • Realis dialektis revolusioner yaitu berpikir yang mampu melihat sebuah hubungan dan mampu mengetahui sebab-akibat terjadinya sebuah persoalan, tahu bagaimana cara menyelesaikannya, dan dengan aktif melakukan pergerakan-pergerakan untuk merombak tatanan yang sudah ada.
Faktor-faktor yang mempengaruhi cara berpikir manusia:

  • Caranya berproduksi/ cara mencari makan. Contoh: cara berpikir seorang guru akan berbeda dengan cara berpikir seorang tentara.
  • Tingkat intelegensia/tingkat kecerdasan. Contoh: Cara berpikir seorang anak SMP akan berbeda dengan anak SMA/SMK.
  • Pengalaman idup/lingkungan. Contoh: Seorang pegawai negeri yang terbiasa dengan lingkungan formal-birokratis akan sangat berbeda cara berpikirnya dengan seorang kuli bangunan yang terbiasa dalam cara-cara hidup hidupnya/kebiasaanya informal.
  • Kepentingan atau vestednya. Contoh: Kepentingan atau vestednya. Contoh: Seorang majikan yang berkepentingan untuk mendapatkan laba besar dari sebuah proses produksi akan berbeda cara berpikir buruh yang menghendaki upah tinggi. Karena dengan upah tinggi akan mengurangi keuntungan besar bagi majikan.
  • Falsafah atau pandangan hidupnya. Contoh: Orang yang tinggal dalam sebuah Negara yang berideologikarn kapitalisme akan berbeda cara berpikirnya dengan orang yang tinggal di negara dengan ideologi Pancasila.