Home » , » Sekilas Tarian Tradisional Gambyong Retno Kusumo

Sekilas Tarian Tradisional Gambyong Retno Kusumo

Tarian tradisional Jawa yang sarat makna dapat menyadarkan kita kembali, bahwa seni budaya sepantas dan sepatutnya untuk selalu dipertahankan. Misalnya Tari Gambyong Retno Kusumo yang diciptakan oleh KPGAA Mangkunegara VIII, yang mana tari tersebut melukiskan sekelompok gadis kerajaan yang sedang menari indah serta lemah gemulai. 

Tari Gambyong Retno Kusumo juga memiliki arti, kata Retno mengandung arti emas dan Kusumo berarti bunga, sehingga dapat diartikan bahwa tarian itu menggambarkan gadis yang tumbuh dewasa, harum, dan bersinar bagaikan emas. “Tari Gambyong Retno Kusumo dibawakan sembilan penari putri. Spesifikasi geraknya khas Mangkunegaran,” ungkap Sutrisno, pelatih tari Sanggar Tari Suryo Sumirat. 

Salah satu ciri khasnya adalah kostum yang dipakai berbeda dengan tarian Gambyong biasanya. Tarian Gambyong biasa kostumnya memakai kemban dari kain biasa, sedangkan Gambyong Retno Kusumo memakai mekak dari kain beludru dan jamak. Selain itu, dari gerak juga menggunakan khas Keraton Mangkunegaran. 

Demikian pula tarian Kudakuda dibawakan sepuluh penari anak yang merupakan gambaran keceriaan dari sekelompok anak laki-laki sedang bermain dan menari. Tarian ini terinspirasi dari gerakan kuda sehingga wujud gerak tariannya banyak menggunakan lompat dan lari tranjal yang mempunyai kesan lincah. “Tarian ini diciptakan oleh almarhum S Mardi, empu tari Keraton Kasunanan Surakarta,” tuturnya.

Baca Juga:


Selanjutnya tarian Kembangkan Setaman menggambarkan sekelompok gadis tengah menginjak remaja. Sembilan penari dengan gerak lemah gemulai menggambarkan suasana riang gembira. Mereka bermain bercengkerama serta bersolek diri bagaikan bidadari. 

Para penari mampu membawakan dengan penuh penghayatan. Tak kalah menarik adalah tarian Mustakaweni yang dikemas dengan konsep wayang bocah. Menceritakan keinginan Dewi Mustakaweni yang akan balas dendam kepada Arjuna karena telah membunuh ayahnya, Prabu Newata Kawaca. Mustakaweni mampu mengubah diri menjadi Gatotkaca, keponakan Arjuna, dan menemui ratu Drupadi untuk mengambil Jamus Kalimasada, pusaka andalan Pandawa. 

Namun, hal itu dicurigai Srikandi karena Gatotkaca berani mengambil Jamus Kalimasada. Karena tidak diberikan, terjadi peperangan yang selanjutnya muncul wajah asli Mustakaweni. Ketika Srikandi terdesak, datang Priyambada dan Punokawan. Berkat bantuan Priyambada, Jamus Kalimasada berhasil direbut kembali. “Untuk wayang bocah mengambil spesifikasi gerak umum karena ciri khas Mangkunegaran memang sulit diterapkan,” katanya. 

Karena itu, konsep yang dipakai sederhana, yakni dengan garapannya dan konsep pengendapan. Garapan dipentaskan di Pendapa Ageng sehingga sebelum dan setelah menari dilakukan sembahan kepada raja. Sebenarnya, tarian ini menggambarkan percintaan. Namun berhubung yang melakukan anak, maka nilai-nilai percintaan sengaja dihilangkan dan diambil sesuai dengan unsur psikologis anak, di antaranya keharmonisan. Khusus untuk wayang bocah, penarinya mencapai 50 penari.

Baca Juga: