Home » » Filsafat tentang Nilai dalam Pendidikan

Filsafat tentang Nilai dalam Pendidikan

Menurut penglihatan idealisme, nilai itu absolut. apakah yang disebut baik, benar, salah, cantik, atau tak cantik, secara fundamental tak mengalami perubahan dari generasi ke generasi. Pada hakikatnya nilai itu tetap. Nilai bukanlah ciptaan manusia, melainkan merupakan bagian dari alam semesta.

Plato mengemukakan jikalau kehidupan yang baik hanya berlangsung dalam masyarakat yang baik serta ideal yang diperintah oleh “the Philopher Kings , yaitu kaum intelektual, para ilmuwan atau cendekiawan (Kneller, 1971:33). Dia juga mengemukakan jikalau bila manusia tahu apakah yang dikatakannya sebagai hidup baik, mereka tak akan berbuat hal-hal yang bertentangan dengan moral.  

Kejahatan berlangsung, pasalnya orang tak tahu jika perbuatan tersebut jahat. Bila seseorang mendapatkan sebuah yang benar, tersebutkan orang tersebut akan berbuat salah.   

Namun yang menjadi problem ialah seperti  apa lha itu bisa dilaksanakan bila manusia mempunyai perhatian yang amat lain hal dalam pikirannya mengenai hidup yang baik.


Moral basis serta standar keindahan yang diajarkan terhadap siswa yang tak berdampak terhadap isu terkini. Anak-anak sesegera mungkin menelisik secara jelas tentang sifat basis kebenaran serta salah, membagikan pandangan terhadap sasaran yang baik serta indah didasarkan terhadap pergantian moral serta keindahan mode 

Menurut aliran Pragmatis, nilai ialah relatif. Etika serta moral tidaklah permanen tetapi senantiasa berubah layaknya budaya serta pergantian masyarakat. 

Baca Juga:

Pemahaman eksistensialisme pada nilai, menekankan kebebasan dalam tindakan. Kebebasan bukan sasaran atau suatu cita-cita dalam pribadinya sendiri, melainkan merupakan suatu potensi untuk suatu perlakuan. 

Manusia mempunyai kebebasan memilih, namun mematokkan pilihan-pilihan di antara pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sukar. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang sesegera mungkin mendapat akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tak pernah selesai, pasalnya tiap dampak akan melahirkan keperluan untuk pilihan berikutnya. Tindakan moral bisa jadi dilaksanakan untuk moral itu sendiri, serta bisa jadi juga untuk suatu tujuan.  

Apabila seseorang mengambil sasaran kelompok atau masyarakat, ia menjadikan tujuan-tujuan tersebut sebagai miliknya, sebagai tujuannya sendiri, yang sesegera mungkin ia capai dalam tiap pada waktu. Jadi, sasaran didapati dalam situasi.