Home » , » Macam Pertunjukan Wayang Bali Dan Fungsinya

Macam Pertunjukan Wayang Bali Dan Fungsinya

Rujukan oleh seminar seni sakral serta profan bidang tari yang di selenggarakan oleh Proyek Pemeliharaan serta Pengembangan Kebudayaan area Bali terhadap tanggal 24 Maret 1971 di Denpasar, pertunjukan wayang di Bali bisa di golongkan menjadi tiga macam yaitu :    a. Wayang Wali : yaitu wayang yang berfungsi sebagai pelaksana upacara serta upakara, dalam arti npertunjukan wayang tersebut merupakan area dari keseluruhan upacara yang di laksanakan. Wayang yang diantaranya golongan ini ialah Wayang Sapuh Leger     b. Wayang Bebali : yaitu wayang yang di pentaskan sebagai pengiring upacara di tempat- tempat suci parhyangan atau di pura-pura serta atau dalam rangkaian upacara Panca Yadnya. Yang diantaranya dalam golongan ini ialah : Wayang Lemah, Wayang Sudhamala, serta Wayang Peteng

Rujukan oleh seminar seni sakral serta profan bidang tari yang di selenggarakan oleh Proyek Pemeliharaan serta Pengembangan Kebudayaan area Bali terhadap tanggal 24 Maret 1971 di Denpasar, pertunjukan wayang di Bali bisa di golongkan menjadi tiga macam yaitu :

a. Wayang Wali : yaitu wayang yang berfungsi sebagai pelaksana upacara serta upakara, dalam arti npertunjukan wayang tersebut merupakan area dari keseluruhan upacara yang di laksanakan. Wayang yang diantaranya golongan ini ialah Wayang Sapuh Leger 

b. Wayang Bebali : yaitu wayang yang di pentaskan sebagai pengiring upacara di tempat- tempat suci parhyangan atau di pura-pura serta atau dalam rangkaian upacara Panca Yadnya. Yang diantaranya dalam golongan ini ialah : Wayang Lemah, Wayang Sudhamala, serta Wayang Peteng 

c. Wayang Balih-balihan : yaitu wayang yang di pentaskan buat tontonan secara umum yang fungsinya di luar dari no. a serta b tersebut di atas. Pertunjukan wayang ini lebih menitik beratkan kepada nilai seninya serta guna hiburannya

Baca Juga: 

Fungsi pertunjukan wayang sebagai seni Wayang Bebali yang dimaksud ialah pertunjukan bebali yang dimaksud ialah pertunjukan wayang tersebut di lakukan terhadap :

a. Upacara Dewa Yadnya : dalam hubangan ini pertunjukan di selenggarakan terhadap masa peringatan hari suci (odalan) baik di tempat suci perumahan (parhyangan/pemerajan) ataupun di pura-pura kahyangan. Adapun lakon yang di gunakan terhadap pertunjukan tersebut di antaranya : Semaradahana, Samudra Manthana serta yang lainnya 

b. Upacara Pitra Yadnya : dalam kaitan ini pertunjukan wayang di selenggarakan terhadap masa malam hari (wayang peteng) sehabis upacara pembakaran mayat (jenazah), serta atau adanya pula yang memakaikan wayang tidak kuat yang di selenggarakan di siang hari dengan memakaikan kelir dari benang serta dua buah tiang dari batang kayu sakti (dapdap). Adapun lakon yang kebiasaannya dipakai dalam pertunjukan wayang tersebut ialah : Bima Swarga, Sudhamala, serta yang lainnya.

c. Upacara Manusa Yadnya : terhadap upacara pertunjukan wayang kebiasaannya di selelnggarakan disamping terhadap upacara nelu bulanin (anak berumur 3 bulanan), serta terhadap upacara otonan atau hari ulang tahun anak, juga di selenggarakan terhadap upacara perkawinan (pawiwahan). Adapun lakon yang kebiasaannya dipakai dalam pertunjukan wayang tersebut ialah : Lahirnya Pandawa, Lahirnya Kresna, Abimaniu Wiwaha serta yang lainnya.

d. Upacara Bhuta Yadnya : suatu upacara membersihkan alam terutama lima unsur alam (panca maha bhuta). Bhuta Yadnya (mecaru) yang didampingi pertunjukan wayang kebiasaannya diselenggarakan terhadap upacara besar-besaran layaknya : Ekadasa Rudra, Panca Wali Krama, Sesepen. Adapun lakon yang kebiasaannya dipakai dalam pertunjukan wayang tersebut ialah Bima Mangan Caru, Purusadha Santha serta yang lainnya