Home » , » Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Bagi Orang Jawa

Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Bagi Orang Jawa

Wayang purwa sampai saat ini masih berkembang di pulau jawa. Wayang merupakan kesenian tradisional yang bertahan generasi-kegenerasi. Wayang kulit purwa tidak hanya sebagai tontonan juga sebagai tuntunan,sebab terbukti bahwa wayang mengandung nilai-nilai kehidupan yang mendunia ( Universal ) oleh karena itu wayang bertahan. Pertunjukan wayang kulit  purwa di saat sekarang menduduki tempat yang amat penting dalam kehidupan Suku Bangsa jawa pada umumnya. Karena wayang kulit purwa bagi masyarakat Jawa,tidak hanya sebagai ekspresi seni akan tetapi juga sering dipahami sebagai sumber acuan kehidupan ( Soetarno,1998:1). 
cerita wayang purwa, wayang purwa yaiku, tokoh wayang purwa, wayang purwa bahasa jawa, wayang purwa, sejarah wayang purwa, wayang purwa berasal dari daerah mana, cerita wayang purwa bahasa jawa


Masyarakat Jawa tentunya tidak asing lagi akan kesenian wayang. Dari sekian banyak bentuk kesenian tradisi yang hidup dan berkembang di Jawa ternyata kesenian wayang mampu menyentuh hati sanubari dan menggetarkan jiwa masyarakat pendukungnya. Selain itu pewayangan sebagai alat komunikasi yang ampuh, dan juga sebagai sarana untuk memahami kehidupan manusia.

Pertunjukan wayang merupakan salah satu unsur jati diri bangsa Indonesia dan mampu membangkitkan rasa solidaritas menuju persatuan dan kesatuan bangsa (Matsuura, 2005: 2). Dalam wayang digambarkan berbagai macam drama kehidupan. Hal itu berarti bahwa wayang adalah sebuah kristalisasi dari kehidupan manusia yang  sebenarnya merupakan cermin dari kehidupan nyata yang dialami manusia. 

Pertunjukan wayang kulit purwa oleh para pecintanya diyakini sebagai tempat pencarian nilai nilai dalam kehidupan. Nilai – nilai yang terkandung didalam pertunjukan wayang kulit hingga sekarang masih relevan dengan kehidupan masa sekarang. Kandungan  nilai-nilai religius, etis, dan estetis yang termuat dalam lakon wayang diakui menjadi acuan bagi tindakan masyarakat Jawa. Refleksi nilai religius tergambarkan melalui perilaku tokoh wayang dalam mencapai kesatuan dengan Tuhan, yang seringkali diistilahkan manunggaling kawula gusti (Mangkunegoro, 1933). 

Pada tataran nilai etis, masyarakat Jawa diberikan paparan tentang pola perilaku dan watak-watak tokoh wayang dalam sebuah lakon (Anderson, 2000). Presentasi nilai estetis dapat diperlihatkan pada keindahan unsur-unsur pertunjukan wayang dan rasa estetik yang disampaikan. Inilah sebabnya wayang, sebagai cultural identity, ditempatkan menjadi ikon budaya karena mampu mengkover dan menawarkan nilai-nilai adiluhung bangsa yang memperkuat moralitas bangsa. Kekuatan wayang telah dijadikan salah satu master piece budaya dunia oleh UNESCO (Haryono, 2009:8).

Penyajian lakon di dalam pakeliran wayang purwa pada umumnya mengacu struktur adegan pakeliran tradisi kraton. Struktur adegan atau bangunan lakon pakeliran wayang purwa adalah: jejer sampai gapuran, adeg kedhatonan, adeg paseban jawi, budhalan, kapalan, prang ampyak, adeg sabrang, perang gagal, seringkali adeg sabrang rangkep, adeg pendhita, gara-gara, perang kembang, adeg sampak tanggung 1, 2, atau 3, jika ada perang dinamakan perang sintren atau perang begalan, adeg manyura 1, 2, atau 3, jika terdapat perang dinamakan perang sampak manyura, perang sampak amuk-amukan, tayungan, adeg tancep kayon, golekan (Nojowiringko, 1960:58; Kats, 1984:180-185). 

Struktur lakon pakeliran bentuk semalam ini pada perkembangan berikutnya tidak disajikan apa adanya, namun mengikuti perkembangan zaman dan selera masyarakat sekarang sehingga dapat relevan dan menarik bagi publik pewayangan. 

Dengan demikian dalang yang kreatif dengan sanggit-sanggitnya secara bebas akan selalu menafsirkan kembali setiap repertoar lakon yang telah dimiliki dan dipahami sebelumnya. Feinstein menjelaskan bahwa usaha dalang mengemas sajian atau garap lakon caranya adalah mengubah bangunan lakon sehingga wujudnya tidak seperti yang lazim berlaku dalam konvensi pakeliran, kadang wujudnya menjadi asing seperti lakon susunan baru atau ciptaan baru (1986:xxxv). 

Kiat kiat yang diterapkan oleh para seniman dalang popular dalam menjaga kualitas atau bobot dalam pertunjukan pakeliran, yakni dengan cara mengolah garap lakon serta unsur unsur teknik dalam pedalangan.  Kemampuan seorang seniman dalang dalam mengolah sanggit lakon dalam sajian pertunjukan wayang kulit bertujuan semua unsur yang digarap dalam penyajiannya lebih menarik, serta daya ekspresinya mempunyai daya rangsang terhadap penghayat atau  penonton. Dengan harapan kandungan atau pesan dalam pakeliran wayang dapat ditangkap dan menambah pengetahuan dalam kehidupan masyarakat.

Tiap-tiap cerita yang terkandung dalam lakon paling sedikit mengandung satu alasan pokok suatu kejadian    alam semesta (Mulyono, 1976 : 31). Sebuah lakon wayang tidak jarang mengandung konsepsi yang dapat digunakan sebagai pedoman sikap dan perbuatan, sikap pandangan terhadap hakikat dan tujuan hidup, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungan, dan hubungan manusia dengan sesama (Soetarno, 2004 :44). Mengingat sikap pertunjukan wayang yang seperti itu, maka dapat digunakan sebagai sarana pembentukan budi pekerti di dalam masyarakat. 

Di kehidupan sehari – hari tidak jarang didalam pedesaan sering diadakan pertunjukan dalam pakeliran. Pertunjukan wayang kulit purwa selalu dikaitkan dengan peristiwa kehidupan manusia. Dalam budaya jawa, moment- moment tertentu selalu dilakukan upacara upacara ritual yang berkaitan dengan kehidupan seperti  upacara perkawinan, khitanan, kelahiran, syukuran,  dan ruwatan.

Khususnya masyarakat jawa, kelahiran seorang bayi merupakan proses perjalanan hidup.  Ketika masih dalam kandungan berupa janin berumur  tujuh bulan, upacara mitoni atau tingkeban dilakukan. Fenomena tersebut menarik perhatian penyusun , sebagai anak bangsa perlu ikut andil dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan.

Featured Post

Tembang Macapat Terlengkap Di Dunia Asal Usul, Jenis, Filosofi, Contoh, Makna Dan Arti

Tembang macapat adalah salah satu tembang atau lagu daerah yang sering digunakan, bisa dibilang terpopuler di Jawa. Tembang macapat adalah...