Home » , » Tembang Mijil, Arti Dan Contoh

Tembang Mijil, Arti Dan Contoh

Tembang Mijil adalah merupakan salah satu tembang macapat. Mijil memiliki arti timbul atau keluar. Dibawah ini akan kita bahas contoh tembang mijil dan artinya, serta beberapa kumpulan tembang mijil. Admin juga akan menyediakan tembang mijil buatan sendiri. Telah Admin bahas beberapa tembang macapat di website Conggado.com. Penjabaran tentang tembang mijil yang memiliki cakepan/lirik dedalane guna lawan sekti juga tersedia pada artikel ini, lengkap dengan watak tembang mijil. tembang megatruh, tembang maskumambang.

Baca Juga : Tembang Maskumambang

Arti Tembang Mijil
Permulaan hadirnya manusia di dunia ini dibeberkan dalam tembang Mijil yang berarti seorang buah hati terlahir dari gua garba Ibu. Kata lain dari mijil dalam bahasa jawa yaitu wijil, wiyos, raras, medal, sulastri yang berarti keluar/timbul.

Macapat Mijil menjadi tembang kedua sesudah Maskumambang, tembang macapat maskumambang mempunyai makna bayi dalam kandungan atau jabang bayi yang masih dalam kandungan ibunya.

Kelahiran ialah pengerjaan dimana seorang ibu memperjuangkan dua nyawa sekalian, dirinya sendiri dan si kecilnya. Seberat apa saja pengerjaan itu, didalamnya terdapat cinta dan kemauan dari semua member keluarga, harap-harap khawatir tapi senang dalam menanti kelahiran buah hati.

Jabang bayi yang mijil dari rahim ibunya yaitu suci, ia tak dapat memilih terlahir dari siapa, misalpun terlahir dari kekerabatan “tak legal", bayi tetaplah suci, ibarat kertas dia masih bersih putih tanpa coretan. Saat bayi lahir ketika itulah dia mengetahui dunia pertama kalinya, dia dikasih wewenang untuk menjalani kehidupan berikutnya. Dia dihadirkan untuk dapat menjadi “manusia" sampai suatu ketika dapat kembali terhadap-Nya dengan tentram.

Watak Tembang Mijil
Sifat tembang macapat mijil yaitu welas asih, pengharapan, laku perihatin dan perihal cinta. Tembang macapat Mijil banyak diterapkan sebagai media untuk memberi nasehat, cerita cinta, dan ajaran terhadap manusia untuk senantiasa kuat dan sabar dalam menjalani kehidupan. Ilustrasi perihal perasaan duka ataupun kebahagiaan terefleksi dari tembang-tembang macapat Mijil.

Watak Tembang Mijil

Hukum Tembang Mijil

  • Mempunyai Guru Gatra: 6 baris tiap bait (Artinya tembang Mijil ini mempunyai 6 larik atau baris kalimat)
  • Mempunyai Guru Wilangan: 10, 6, 10, 10, 6, 6 (Artinya baris pertama terdiri dari 10 suku kata, baris kedua berisi 6 suku kata, dan seterusnya)
  • Mempunyai Guru lagu: i, o, e, i, i,u (Artinya baris pertama usai dengan vokal i, baris kedua usai vokal o, dan seterusnya)

 Tembang Mijil
Tembang Mijil mempunyai kaidah/ Wewaton: 10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6o
Seperti example berikut ini :

Poma kaki dipun eling (10i)
Ing pitutur ingong (6o)
Sira uga satriya arane (10e)
Kudu anteng jatmika ing budi (10i)
Ruruh sarta wasis (6i)
Samubarangipun (6o)

Tembang Mijil ini memang dalam sebagian acuan diterapkan sebagai sistem dakwah Islam, sebagian acuan menceritakan Mijil yaitu karya dari Ja’far Shodiq atau sunan kudus, meskipun acuan lainnya mengatakan Mijil diterapkan oleh Sunan Gunung Jati untuk berdakwah.

Sedikit memberikan ilustrasi, bahwa berdasarkan para pakar tafsir sastra Jawa, tembang Macapat itu ialah urutan sebuah perjalanan seseorang dari lahir hingga mati. “Mijil" yaitu yang pertama. Secara harfiah berarti timbul atau tampil, ditafsirkan sebagai sebuah kelahiran.

Ada yang membeberkan bahwa itu ialah kelahiran jasmaniah bayi lahir dari kandungan ibunya, ada juga yang menafsirkan sebuah kelahiran saat orang mulai timbul harapan untuk menjadi bagus, dikatakan sebagai kelahiran kembali.

Berdasarkan narasumber yang sama, bapak Susianto, Tembang Mijil ini mempunyai seperangkat tata skor dan akhlak yang diterapkan dalam konteks masyarakat Jawa. Dan salah satu syair Mijil yang familiar yaitu sebagai berikut,

Dedalane guna lawan sekti
Kudu andhap asor
Wani ngalah dhuwur wekasane
Tumungkula yen dipun dukani
Bapang den simpangi
Ana catur mungkur

Makna akhlak yang dikenalkan dalam bait nyanyian hal yang demikian, berdasarkan narasumber yaitu sebagai berikut, sebagai studi karakteristik Jawa, yaitu sebagai berikut,

1. Dedalane guno lawan sekti. Dibuka dengan sebuah kalimat yang memberitakan perihal jalan supaya seseorang dapat menjadi berkhasiat dan sakti. Pemaknaan hal yang demikian yaitu sebuah pengingat kita sebagai manusia, bahwa tujuan hidup dapat diperhatikan dari dua perspektif yakni mempersiapkan bekal sesudah mati (sebab manusia pasti mati), dan menjalankan sesuatu supaya peluang kita hidup di dunia ini, menjadi sebuah kehidupan yang bermakna dan memberi manfaat bagi kehidupan.

Sakti dapat ditafsirkan perihal ilustrasi sebuah pengetahuan dan ketrampilan seseorang. Bait ini dapat diterjemahkan secara jalan supaya kita berkhasiat di dunia ini dengan mempunyai kapasitas yang kita miliki. Seorang islam wajib mempunyai ilmu sebagai komponen dari ibadah terhadap Allah SWT. Sebab jika iman saja, kemudian tanpa ilmu, karenanya itu tak bermanfaat. Karenanya wajib berilmu dahulu, beriman, lalu yang berikutnya yaitu aplikasi dalam wujud amal.

2. Kudu andhap asor. Adalah berarti wajib dapat menempatkan diri sehingga kita dapat senantiasa menghargai orang lain. Andhap asor artinya ‘dibawah’. Bukan diperhatikan sebagai kita berada dibawah, melainkan diperhatikan sebagai kita menempatkan orang lain senantiasa lebih tinggi dari kita, senantiasa kita hargai, senantiasa kita hormati, tak peduli apakah ia pejabat atau bukan pejabat, orang piawai atau tak, kita konsisten wajib menghargainya sebagai sesama manusia.

Dan menariknya, kalimat ini menjadi bait kedua sesudah kalimat pembuka. Seolah memberi penekanan mengenai permulaan pertama kali seseorang wajib cakap untuk ‘tahu diri’, sehingga dapat ‘menempatkan diri’. Untuk kemudian cakap ‘membawa diri’ kita pada tujuan kita sebagai manusia. Ini yaitu tata skor dalam islam, mempunyai budi pekerti yang bagus, atau disebut dengan akhlaqul karimah.

3. Wani ngalah dhuwur wekasane. Umumnya bait ketiga, mmeiliki makna saat kita dipinta untuk mengalah justru memerlukan keberanian. Tapi orang mengobrol supaya seseorang wajib berani supaya menang. Melainkan ini tak, justru kita wajib berani mengalah.

Tidak islam sendiri kita benar-benar mengerti bahwa musuh paling besar seorang manusia yaitu dirinya sendiri, egonya sendiri. ‘Mengalah’ bukan berarti kita keok kepada orang lain, ‘mengalah’ yaitu saat kita dapat menang atas diri kita sendiri. Sehingga benar juga kata orang-orang itu, bahwa untuk menang wajib berani.

Melainkan yang dimaksud dalam kalimat hal yang demikian yaitu menang kepada diri kita sendiri, kita mempunyai kendali kepada diri kita sendiri. Kita cakap memimpin diri kita sendiri. Itulah arti ‘mengalah’, dan hal hal yang demikian memang butuh keberanian. Meiliki sikap mengalah akan meningkatkan derajat kita sebagai seorang muslim dimata Allah Ta’ala.

4. Tumungkula yen dipun dukani. Secara harfiah bait ini berarti ‘jangan menentang apabila kita dimarahi’. Kita mengamati ‘dimarahi’ dapat berarti oleh orang lain, melainkan juga dapat oleh ‘kehidupan’, oleh ‘alam’, dan diujung perenungan itu dapat ‘oleh’ Sang Pencipta. Sebuah musibah, kecil atau besar, menimpa diri pribadi atau suatu umat, yaitu juga ketika kita ‘dimarahi’.

Kita menemui kegagalan. Dan ‘tumungkul’ berarti ‘jangan menentang’. Adalah dapat diistilahkan bahwa ketika ‘dimarahi’ sebaiknya ‘tak menentang’, tak melawan, tak putus cita-cita, pantang menyerah, dan juga tak saling menyalahkan. ‘Kecuali menentang’ juga diistilahkan sebagai membisu, berkeinginan untuk merenung, berkeinginan untuk belajar. Sebagai seorang muslim, menjadi generasi pembelajar sejati ini menjadi satu hal yang semestinya dijalankan. Bahasa kerennya yaitu ‘Tarbiyah madal hayah’.

5. Bapang den simpangi. Bapang yaitu nama sebuah aransemen tarian yang dapat dikonotasikan sebagai wujud ‘hura-hura’. Bait ini dapat diistilahkan supaya orang sebaiknya menghindari hal-hal yang berifat ‘hura-hura’. Lebih jauh lagi dimaknai sebagai hal-hal yang cuma ada dipermukaan.

Sebab konotasi ‘bapang’ dapat diperluas terhadap hal-hal yang cuma menonjol menawan dipermukaan melainkan dalamnya rapuh. Mungkin ini dapat dijabarkan terhadap sikap-sikap pargmatis, yang menuhankan keberadaan dan pencitraan diri semata, sifat menyukai dipuji, bahagia jika orang lain mengagung-agungkan kita.  itulah yang sebaiknya dihindari. Nah, inilah yang dalam Islam diceritakan dengan mempunyai sikap qonaah, simpel, dan tak berlebih – lebihan.

6. Ana catur mungkur. Bait terakhir ini mempunyai makna hafiah untuk mengindari pergunjingan. Pergunjingan lazimnya senantiasa bermula dari prasangka buruk. Kalimat ini yaitu sebuah pandangan baru, alih-alih kita terlalu merespon prasangka buruk kepada kita, sebaiknya justru kita lebih konsentrasi pada apa yang bagus kita kerjaan, dalam rangka memberi manfaat tadi.

Terus berkarya dengan apa yang kita miliki, dengan apa yang kita punya. Mungkin ini yaitu seri otokritik untuk Indonesia ketika ini.  yang memang sebaiknya dihindari. Tidak islam, pun tata tertibnya bergunjing, ghibah, itu diharamkan.
Ada sebagian hal yang dapat diambil dari filosofi tembang mijil dalam masyarakat Jawa, yakni perihal akhlak, terang terefleksi dalam segala baitnya, bagus bait pertama hingga terakhir. Kemudian yang kedua yaitu skor dakwah islam yang ada di tiap baitnya.

Berikut ini adalah Mijil buatan admin Conggado.com

Urip kudu eling mrang gusti (hidup harus ingat pada Tuhan)
Adoh tindak nistho (Jauh dari tindakan buruk)
Gedheke amal sarto imane (memperbanyak amal dan iman)
Kudu iklhas lan narimo yekti  (Harus Ikhlas dan Menerima keadaan)
Gemi Lan setiti (peduli dan Hati-hati)
Legowo ing Ndriyo ( Rela Dalam Hati)

Tentunya karya ini dijadikan oleh orang islam, skor – skor yang terkandung benar-benar Islami, yang membeberkan didalamnya perihal makna persaudaraan, makna kesederhanaan hidup, makna kesantunan sikap, makna anti perpecahan, simbol perihal energi yang wajib dimiliki supaya menebar manfaat dalam kehidupan, dan masih banyak lagi skor dakwah di tembang Macapat Mijil ini.

contoh tembang mijil dan artinya, kumpulan tembang mijil, contoh tembang mijil buatan sendiri, tembang macapat, tembang mijil dedalane guna lawan sekti, tembang maskumambang, watak tembang mijil, tembang megatruh#tag #keyword