Home » , , » Sejarah Instrumen Angklung Lengkap Fungsi, Jenis Dan Cara Memainkan Angklung

Sejarah Instrumen Angklung Lengkap Fungsi, Jenis Dan Cara Memainkan Angklung

Dalam artikel ini akan dibahas tentang sejarah angklung lengkap dengan fungsi angklung. Selain itu juga akan dibahas 15 jenis angklung beserta gambar angklung, berikut cara memainkan angklung. Penjelasan tentang instrumen alat musik tradisional Angklung yang berasal dari masyarakat Sunda Provinsi Jawa Barat. Angklung adalah instrumen seni musik multitonal (bernada ganda) yang bahannya terbuat dari bambu. 

Cara memainkannya tergolong mudah hanya dengan menggoyangkannya (cara memainkan akan Conggado.com jelaskan dibawah). Suara atau bunyi yang dihasilkan karena benturan badan pipa bambu. Getaran bunyi bersuara dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. 

Setiap satu instrumen alat musik angklung hanya memunculkan bunyi suara satu nada. Berbeda atau lain ukuran angklung yang digetarkan dengancara digoyang menghasilkan nada yang berbeda pula. Sebab karena itu, dibutuhkan beberapa personil angklung untuk dapat menghasilkan melodi yang indah untuk didengar. Seorang personil pemain angklung dapat memainkan alat berjumlah 2 atau 3 buah alat instrumen musik angklung.

Dictionary of the Sunda Language karya Jonathan Rigg, yang terbit pada tahun 1862 di Batavia, menuliskan bahwa angklung adalah instrumen alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu, yang kemudian dipotong pada setiap ujungnya, mirip dengan pipa-pipa dalam suatu organ, kemudian diikat bersama dalam suatu bingkai, dengan cara digetarkan untuk menghasilkan bunyi. 

Angklung telah terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan serta Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak bulan November 2010.

Posisi angklung sebagai instrumen musik tradisional mulai tersisihkan dengan adanya alat musik yang modern. Padahal angklung adalah salah satu warisan bangsa yang harus dijaga serta dilestarikan oleh bangsa Indonesia sendiri. 

Guna untuk meningkatkan kecintaan anak bangsa dengan instrumen tradisional angklung pemerintah menjadikan angklung sebagai salah satu mata pelajaran di beberapa sekolah di Provinsi Jawa Barat. Bukan hanya itu, pemerintah juga menggunakan gambar alat musik angklung di dalam uang logam 1.000 rupiah, ini bermaksud agar anak muda zaman sekarang mengetahui jika bangsa Indonesia memiliki alat musik yang patut dibanggakan.


Baca Juga:


Sejarah Alat Musik Angklung

Sejarah alat musik angklung tergolong penting untuk dipelajari, sebab dengan mengetahui sejarah dibalik terciptanya angklung sebagai instrumen musik, dapat menambah wawasan serta rasa kagum dan bangga akan warisan budaya Indonesia yang unik ini. 

Kata “angklung” sendiri berasal dari dua (2) kata diambil dari bahasa Sunda, yakni “angkleung-angkleung” yang memiliki arti diapung-apung dan kemudian “klung” adalah suara yang dihasilkan oleh alat musik tersebut. 

Dengan kata lain angklung adalah dari suara “klung” yang dihasilkan dengan teknik mengangkat atau mengapung-apungkan instrumen alat musik tersebut. Terdapat teori berbeda yang mengatakan bahwa angklung berasal dari dua (2) kata dari bahasa Bali, yakni “angka” yang memiliki berarti nada dan “lung” yang memiliki berarti hilang. Sehingga dapat disimpulkan angklung adalah nada yang hilang.

Pada abad ke 12 sampai abad ke 16 terdapat Kerajaan Sunda di Nusantara, diperkirakan ketika itulah awal dari sejarah alat musik angklung. Pada masa itu rakyat dari Kerajaan Sunda mempercayai bahwa dengan memainkan alat musik angklung, membuat Nyai Sri Pohaci merasa senang. Nyai Sri Pohaci dipercaya saat itu sebagai dewi kesuburan bagi rakyat Kerajaan Sunda. Nyai Sri Pohaci yang senang dengan alunan alat musik yang terbuat dari bambu itu terpikat kemudian turun dan membuat tanah para rakyat menjadi subur serta tanaman apapun yang ditanam akan menghasilkan dan dimanfaatkan oleh rakyat saat itu.

Selain hal tersebut, instrumen angklung dimainkan untuk membangkitkan semangat para prajurit yang akan berperang. Oleh sebab itu, pemerintah Hindia Belanda pernah melarang rakyat untuk memainkan alat musik angklung. Perintah larangan keras dari Hindia Belanda membuat pemain angklung saat itu semakin berkurang.


Seiring berjalannya waktu, permainan angklung menjadi alat penting dalam acara arak-arakan setiap kali ada perayaan di tanah. Bahkan alat musik angklung kemudian menyebar tidak hanya di Jawa namun hingga sampai ke seluruh dunia. 

Pada awal abad ke 20, Negara Thailand mengambil/mengadopsi instrumen alat musik angklung sebagai misi kebudayaan antara Negara Thailand dan Negara Indonesia. Bahkan angklung Buncis Sukaejo dapat kita ditemui di The Evergreen Stage Collage, adalah sebuah universitas di Amerika Serikat.

Udjo Ngalagena adalah tokoh yang dikenal mengembangkan teknik angklung serta mengajarkan cara memainkan instrumen angklung pada banyak orang. Beliau pun membangun Saung Angklung Udjo di Bandung, bertujuan supaya semakin banyak orang yang mengetahui sejarah angklung dan seluk-beluknya. 

Saat ini Saung Angklung Udjo menjadi salah satu tempat wisata di Bandung, setiap wisatawan maupun pengunjungnya dapat melihat sendiri proses pembuatan sebuah angklung, tidak hanya itu pertunjukan aksi panggung yang dipentaskan setiap minggunya dapat juga dinikmati.


Asal-usul Instrumen Angklung

Asal dan usul instrumen ini belum ditemukan petunjuk yang nyata, sejak kapan angklung digunakan, namun pendugaan dilihat dari bentuk primitifnya, telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara hingga awal penanggalan modern, ini membuat angklung adalah bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.

Catatan mengenai instrumen angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 hingga abad ke-16). Asal usul terciptanya alunan musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup oleh masyarakat Sunda yang bersifat agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pari) sebagai sumber makanan pokok. Hal tersebut memunculkan mitos kepercayaan kepada Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Suku Baduy, yang merupakan masyarakat Sunda asli, menggunakan alat musik angklung sebagai bagian dari ritual untuk sebelum memulai penanaman padi.


Bahan Instrumen Angklung

Bambu yang digunakan untuk bahan angklung adalah bambu hitam (awi wulung) serta bambu putih (awi temen). Setiap nada yang dihasilkan berasal dari suara tabung bambunya yang memiliki bentuk bilah setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.


Baca Juga:


Kesimpulan Fungsi Instrumen Angklung

Pada masa Kerajaan Sunda, angklung digunakan  untuk penyemangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai tangga naik, penggugah semangat rakyat, masih terus terasa sampai pada masa penjajahan. Larangan Hindia Belanda sempat membuat popularitas angklung semakin menurun dan hanya dimainkan oleh anak- anak ketika itu.

Fungsi dalam adat adalah mengalunkan lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut bersamaan dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu dibuat secara sederhana yang melahirkan instrumen alat musik bambu bernama angklung. Pada saat penyajian Angklung ketika upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pagelaran bersifat arak-arakan atau helaran, Tidak jarang di sebagian tempat sebagai iring-iringan Rengkong, Dongdang dan Jampana (usungan pangan) dan lain sebagainya.


Jenis-Jenis Angklung
Alat musik angklung yang mengalami perkembangan menghasilkan beberapa jenis instrumen jenis angklung baru, sehingga membuat alat musik angklung semakin beragam. Berikut ini adalah jenis-jenis alat musik angklung.


Angklung Kanekes

Angklung di daerah Kanekes berasal dari suku Baduy difungsikan untuk pertunjukan terutama karena hubungannya dengan ritual padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Instrumen Angklung dibunyikan ketika mereka akan menanam padi di ladang. Sebab adanya ritual tertentu saat pembuatan instrumen angklung Kanekes, yang dapat menciptakan angklung jenis ini orang dari suku Baduy Dalam saja.



Angklung Reyog

Angklung Reyog adalah instumen alat musik untuk mengiringi gerak tarian reyog ponorogo di Jawa Timur. Angklung Reyog mempunyai ciri khas dari segi suara yang sangat keras. Mempunyai dua nada dan bentuk lengkungan rotan menarik serta bentuknya tidak seperti angklung pada umumnya yang berbentuk kubus. Angklung ini dihiasi benang berumbai-rumbai warna yang indah.




Angklung Banyuwangi

Angklung ini memiliki bentuk seperti calung dengan nada budaya banyuwangi. Nada Angklung yang disebut dengan istilah Caruk, menghasilkan bunyi bunyi nada khas kebudayaan Banyuwangi.




Angklung Bali

Angklung bali mempunyai bentuk dan nada yang khas bali. Bentuk instrumen angklungnya merupai calung dan diberi nama Rindik.



Angklung Dogdog Lojor

Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat daerah Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di daerah sekitar Gunung Halimun. walau kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yakni nama salah satu instrumen musik di dalamnya, namun di sana juga digunakan alat musik angklung sebab berkaitan dengan acara ritual padi. Angklung bernama Dogdog Lojor karena merupakan salahsatu dari instrumen alat musik yang dimainkan dalam kesenian Dogdog Lojor.




Angklung Gubrag

Angklung gubrag berada di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung jenis ini telah mrmiliki usia tua. Berfungsi dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan menanam padi, mengangkut padi, dan ketika menempatkan ke lumbung.




Angklung Badeng

Angklung badeng berasal dari daerah Garut. Pada masa dahulu biasa digunakan untuk mengiringi dakwah Islam. Badeng adalah jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai intrumen alat musik penting dan utama. Badeng tepatnya terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut.




Angklung Padaeng

Angklung padaeng merupakan angklung yang dikenalkan oleh Daeng Soetigna sejak sekitar tahun 1938. Inovasi pada instrumen angklung padaeng adalah digunakannya laras nada Diatonik yang sesuai dengan sistem musik barat. Instrumen alat musik angklung kini mampu memainkan lagu-lagu internasional, dan juga dapat bermain dalam Ensembel dengan instrumen alat musik internasional lainnya.




Angklung Sarinande

Jika instrumen angklung pada umumnya memainkan nada pentatonik, angklung bernama Padaeng ini dapat membunyikan nada diatonik. Angklung pertama kali dikenalkan oleh Daeng Soetigna. Angklung Padaeng yang menggunakan nada bulat saja disebut angklung Sarinande. 

Angklung sarinande merupakan istilah untuk angklung padaeng  bernada bulat saja (tanpa nada kromatis) dengan nada dasar C. Unit kecil angklung sarinade berisi 8 angklung (nada Do Rendah sampai Do Tinggi), kemudian sarinade plus berisi 13 angklung (nada Sol Rendah hingga Mi Tinggi).




Angklung Toel

Angklung toel dibuat oleh Kang Yayan Udjo sekitar pada tahun 2008. Di instrumen alat musik ini, terdapat rangka setinggi pinggang dengan beberapa angklung dijejer dengan posisinya terbalik dan diberi karet. Instrumen angklung ini hanya butuh seorang pemain saja, dengan cara cukup men-toel angklung tersebut, kemudian angklung akan bergetar beberapa saat karena adanya karet. "Angklung Toel diciptakan Yayan Udjo instruen ini dimainkan satu pemain saja".



Angklung Sri-Murni

Angklung ini adalah instrumen musik gagasan Eko Mursito Budi yang khusus dibuat untuk keperluan robot angklung. Seperti namanya, satu angklung ini menggunakan dua atau lebih tabung bunyi suara memiliki nada sama, yang mana akan menghasilkan nada murni atau mono-tonal. 


Instrumen ini berbeda dengan angklung padaeng bernada multi-tonal. Dengan menggunakan ide sederhana ini, robot dengan mudah memainkan kombinasi beberapa angklung secara simultan untuk meniru efek angklung melodi ataupun angklung akompanimen.


Angklung solo

Angklung solo adalah konfigurasi dimana satu unit angklung melodi digantung pada suatu palang kemudian bisa dimainkan oleh satu orang saja. Sama serta sesuai konvensi nada diatonis, maka ada dua jajaran gantungan angklung, yang bawah berisi nada penuh, sedangkan yang atas berisi nada kromatis. 


Instrumen Angklung Solo ini digagas oleh Yoes Roesadi pada tahun 1964, dan kemudian dimainkan bersama instrumen alat musik basanova dalam group bernama Aruba (Alunan Rumpun Bambu). Padatahun tahun 1969, nama Aruba ini disesuaikan menjadi Arumba.


Angklung Buncis

Angklung Buncis adalah instrumen yang digunakan untuk acara kesenian hiburan, berkembang di daerah Baros kabupaten Bandung.




Angklung Badud

Angklung Badud adalah instrumen yang digunakan untuk mengarak pengantin sunat, berasal dari daerah Tasikmalaya.



Angklung Bungko

Angklung Bungko adalah instrumen alat musik yang digunakan untuk mengiringi gerak tari Bungko. Tari Bungko adalah tarian yang menggambarkan kemenangan atas peperangan berasal dari Cirebon.




Teknik Cara Memainkan Angklung

Cara memainkan alat musik angklung cukup dibilang mudah karena hanya tinggal memegang rangkanya pada salah satu tangan (tangan kiri), ini membuat angklung tergantung bebas, kemudian tangan lainnya (tangan kanan) menggoyangnya hingga bergetar dan berbunyi. Terdapat tiga teknik dasar menggoyang instrumen angklung:

1. Kurulung (getar), adalah teknik/cara paling umum digunakan. Kurulung yaaitu dimana tangan kanan memegang tabung dasar, kemudian mulai ke kiri-kanan berkali-kali sesuai berapa lama nada tersebut ingin dimainkan.

2. Centok (sentak), adalah teknik/cara dimana tabung dasar ditarik dengan gerakan cepat oleh jari ke telapak tangan kanan, menyebabkan angklung akan berbunyi sekali saja (stacato).

3. Tengkep, adalah teknik yang hampir mirip dengan teknik kurulung, akan tetapi salah satu tabung ditahan tidak ikut bergetar. Pada angklung melodi, teknik tengkep membuat instrumen angklung mengeluarkan bunyi nada murni (satu bunyi nada melodi saja, tidak dua nada seperti biasanya). Pada instrumen angklung akompanimen mayor, teknik tengkep digunakan untuk memainkan akord mayor (3 nada), karena jika tidak ditengkep yang termainkan atau berbunyi ialah akord dominan septim (4 nada).

Untuk memainkan satu unit angklung ketika membawakan suatu lagu, akan diperlukan banyak pemain musik yang dipimpin oleh seorang konduktor. Setiap personil pemusik akan dibagikan satu hingga empat insrumen alat musik angklung dengan nada yang berbeda-beda.


Angklung Di Mata Dunia

Di tahun 2008 terdapat 11.000 pemusik instrumen angklung di Jakarta dan 5.000 pemain alat musik ini di Washington DC dan memecahkan new rekor saat itu. Pada November 2010, UNESCO, sejak itu sudah mencatat angklung sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia. 

Pada Konferensi Asia-Afrika (KAA), pada bulan April tahun 2015 sebanyak 20.704 orang berkumpul bersama-sama di Stadiun Siliwangi Bandung untuk pentas dan memainkan lagu “I Will Survive” dan “We Are The World” dengan menggunakan instrumen alat musik angklung. Orang bejumlah 4.117 di antaranya adalah anak berkebutuhan khusus. Sejarah alat musik angklung telah berubah dari yang tadinya hanya diperdengarkan di daerah Sunda sekarang seluruh dunia sudah mengenal musik angklung.
tag: fungsi angklung, jenis jenis angklung, sejarah angklung, angklung indonesia, gambar angklung, cara memainkan angklung, angklung kanekes, angklung sunda

0 komentar:

Post a Comment