Home » , , » Seni Anak Usia Dini, Manfaat Dan Fungsi

Seni Anak Usia Dini, Manfaat Dan Fungsi

Seni adalah salah satu dari sub-domain perkembangan kognitif. Ekspresi artistik merupakan suatu komponen penting dalam perkembangan kepribadian serta pengalaman anak. Melalui seni, anak-anak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan fantasi dan kreativitas dengan berbagai cara serta juga mereka akan belajar bagaimana cara mengekspresikan diri, minat, kemampuan, dan ketrampilan mereka. Anak-anak dapat mengekspresikan perasaannya lewat musik, teater, gambar, gerakan, dan semua hal tersebut  adalah bagian dari perkembangan kognitif.


Perkembangan Seni Anak Usia 0-2 Tahun
Di usia 2 tahun pertama, berikut beberapa hal yang dilakukan anak pada perkembangan seninya yang terbagi dalam 3 (tiga) standar dari perkembangan seni itu sendiri. 


Standar Pertama: Anak mulai mampu membedakan antara suara satu dengan suara lain

Pada usia 0-6 bulan

1. Anak mulai menengok atau melihat ke arah suara yang familiar baginya (ibu, ayah, kakak dan sebagainya).

Stimulus yang dapat dilakukan: panggil bayi anda kemudian ikuti responnya.
2. Anak mulai menengok/melihat ketika mendengar suara yang familiar.
Stimulus: gunakanlah mainan / objek yang mengeluarkan suara dan kemudian ikuti respon anak.

Pada usia 6-18 bulan

Anak merespon suara yang berbeda/tidak sama (suara orang yang familiar, musik, lagu yang tidak asing), menggoyangkan badannya serta berpura-pura menari.
Stimulus: biarkan anak mengenal berbagai macam suara dan dorong mereka untuk menari bisa juga orangtua dapat menari bersama mereka.

Pada usia 18-24 bulan

1. Anak mulai mengenal musik serta acara TV .
Stimulus: dorong anak untuk mengetahui lebih jauh tetapi batasi waktu anak menghabiskan waktu di depan acara kesukaan mereka.

2. Anak mulai secara konsisten senang ‘membuka’ atau memencet objek/mainan yang mengeluarkan bunyi yang mereka sukai.
Stimulus: orangtua dapat menyediakan buku yang menimbulkan suara di tempat anak-anak biasa bermain.

Standar Kedua: Anak mulai memperlihatkan minat untuk berpartisipasi dalam aktivitas musikal

Pada usia 0-6 bulan

1. Anak membuat eksperimen dengan mainan musik.
Stimulus: biarkan anak memegang mainan yang mengeluarkan suara serta dorong anak supaya mainan tersebut menimbulkan suara.

2. Anak merespon suara yang familiar dengan gerakan/aktivitas atau ekspresi wajah
Stimulus: dorong mereka untuk mendengar suara-suara yang familiar, contoh dengan mengajak berbicara, mendengarkan lagu dan sebagainya.

Pada usia 6-18 bulan

Anak mengimitasi/menirukan sebuah suara dari sebuah instrumen, suara binatang, suara mainan atau lagu favoritnya.
Stimulus: ajaklah mereka untuk menirukan serta mengidentifikasi suara tersebut.

Pada usia 18-24 bulan

1. Anak mulai menggerakkan tubuh mereka mengikuti ritme musik (mulai coba menari)
Stimulus: dorong mereka untuk melakukan aktivitas menari atau menari bersama.

2. Anak mulai menyanyi sebuah lagu yang familiar dan kesukaan untuk mereka
Stimulus: ajaklah anak bernyanyi bersama


Standar Ketiga: Anak mulai menunjukan minat untuk melakukan partisipasi di beberapa tipe kreativitas visual

Pada usia 0-6 bulan

Anak mengangkat kepala mereka secara spontan untuk mengikuti beberapa gambar atau foto (mereka berfokus pada bagian mata di foto, gambar, serta juga ketika bercermin)
Stimulus: biarkan mereka melihat wajah mereka sendiri di cermin, perlihatkan beberapa gambar yang mempunyai warna yang kuat; kemudian selalu sediakan gambar baru, sebab anak senang dengan stimulasi visual yang baru.

Pada usia 6-8 bulan
Anak mulai memegang sesuatu misal pensil, krayon, dan mencoba untuk membuat corat-coret di permukaan apa saja (di dinding, meja, lantai).
Stimulus: berikan beberapa material seni yang save/aman bagi mereka (pensil, cat, krayon)

Pada usia 18-24 bulan
Anak akan senang menggambar bebas dan beberapa tipe garis yang tidak sama.
Stimulus: berikan material yang dapat digunakan anak untuk membuat garis, dan bisa juga berikan anak kesempatan untuk menggambar di pasir atau tanah.


Baca Juga:


Perkembangan Seni Anak Usia 2-4 Tahun

Secara umum, seni terbagi menjadi dua bagian, adalah seni rupa (visual art) dan seni pertunjukan (performance art). 

Seni Rupa

1.Seni Rupa Dua Dimensi, seperti gambar/lukisan dengan berbagai media gambar, kolase, dan foto.

Di dalam hal seni rupa, anak berusia 2-3 tahun biasanya masih membuat coretan-coretan yang bentuk acak atau sembarang, disebut gambar scribble. Tahapan gambar yang di  lakukanoleh anak usia 2-4 tahun sering disebut tahap pre-schematic. Pada tahap tersebut, gambar mulai mempunyai bentuk yang dapat dikenali, tapi biasanya tidak realistik bebas tergantung imajinasi anak. 

Obyek yang dibuat juga banyak yang “mengambang” di tengah-tengah area kertas, tanpa ada gambar garis yang menandakan tanah/lantai. Anak juga banyak menggunakan warna favorit untuk membuat gambar, bahkan untuk obyek-obyek yang di dunia nyata tidak memiliki warna seperti itu. Contohnya, anak menggunakan pensil berwarna pink saja untuk membuat gambar matahari, rumah, pohon, serta orang. 

Anak berusia 3 tahun mulai dapat:

  • Membuat garis yang lurus. Awalnya pendek-pendek seperti rintik hujan, tapi lama-kelamaan garis yang digambar semakin panjang
  • Membuat gambar berbentuk lingkaran. Tidak dalam bentuk/wujud lingkaran yang bulat sempurna (orang dewasa juga sulit membuat lingkaran yang benar-benar bulat). Mereka hanya fokus membuat garis melingkar dengan satu tarikan garis. Pada kedua ujung lingkaran juga tidak selalu bertemu. Sering kali anak juga menggambar lingkaran berkali-kali di lokasi yang sama, sehingga hasil gambar seperti obat nyamuk.
  • Menggambar orang yang mulai jelas bentuknya, umumnya terdiri dari kepala, mata dan mulut serta terkadang dengan rambut. Jika diminta menambahkan badan, anak menggambar stick figure (badan, tangan, dan kaki hanya satu garis seperti lidi) atau tadpole figure (gambar kepala besar, dengan tangan di samping kepala dan kaki di bagian bawah kepala, tanpa badan).
  • Membuat garis zig-zag serta gambar garis lengkung. Awalnya dari menebalkan garis (tracing), kemudian menjelang usia 4 tahun dan seterusnya anak mulai mampu membuat gambar garis-garis tanpa diberi contoh.


Untuk anak usia 4 tahun, biasanya sudah mempunyai kemampuan sebagai berikut: 

  • Menggunakan lebih dari 2 warna dalam menggambar
  • Meniru bentuk yang lebih sulit, seperti segi empat, menggambar bagian-bagian wajah yang sederhana (mata, hidung, mulut, telinga, rambut), dan menggambar tubuh yang dua dimensional (bukan stick figure lagi). 
  • Anak berusia 3 sampai 4 tahun mulai membuat gambar/objek yang terdiri dari bentuk-bentuk sederhana yang sudah pernah mereka gambar, misalnya saja seperti mobil (kotak dan lingkaran), rumah (segitiga dan kotak), dan bunga (garis lengkung dan garis lurus). 💡Tips saat mengajarkan anak menggambar: “uraikan” obyek dalam bentuk-bentuk sederhana. Contohnya, mobil terdiri dari bentuk segi empat, lalu segi empat lagi di bawahnya, lalu dua lingkaran. Anak akan mempunyai kemampuan untuk lebih mudah menirunya daripada langsung digambar dalam bentuk yang kompleks.
  • Mulai membuat gambar dengan sebuah tema, bermaksud yakni elemen-elemen dalam gambar digambar dengan satu kesatuan cerita. Misalnya, anak membuat gambar berbentuk rumah, halaman, bentuk matahari, dan orang, dan bercerita kalau itu adalah rumahnya. Kemampuan ini biasanya akan mengalami perkembangan lebih lanjut pada usia 5 tahun ke atas.


2. Seni Rupa 3 Dimensi, contoh kerajinan tangan dari berbagai media, seperti tanah liat, kayu, playdough, atau pasir warna.

Jika bentuk seni rupa tiga dimensi, memiliki banyak kreasi, seperti halnya seni rupa dua dimensi, kemampuan dalam membuat karya seni tiga dimensi membutuhkan keterampilan koordinasi motorik halus, di antaranya adalah menggenggam, meremas, memilin (seperti membuat playdough jadi berbentuk panjang), menekan dengan ujung jari, menggunakan kedua tangan, dan kontrol tenaga supaya dapat dibentuk sesuai dengan yang diinginkan.

a. Anak usia 2 tahun pada umumnya sudah dapat meremas bahan yang lunak seperti playdough atau adonan kue, dan emudian menekannya menjadi bentuk pipih. Orangtua dapat membantu sang anak dengan memberikan cetakan misalnya cetakan roti atau agar-agar.  

Orangtua juga dapat untuk membantu anak membuat bentuk dasar dari obyek yang diinginkan, contohnya kepala dan badan hewan, kemudian meminta anak menempelkan bagian-bagian tubuh yang lebih detil misal telinga, ekor, dan mata.

b. Anak usia 3-4 tahun sudah mulai dapat mengkreasikan wujud yang dibuat, di antaranya adalah memilin bahan menjadi bentuk panjang, memutar-mutar bahan dengan kedua telapak tangan menjadi bentuk seperti bola, dan memasukkan bahan ke dalam sebuah wadah/cetakan. 

Contohnya, ketika bermain istana pasir, anak berusia 3 tahun sudah dapat diajari untuk mengisi pasir pada cetakan sampai penuh dan padat, kemudian membaliknya sendiri sehingga pasir di dalam cetakan keluar menjadi wujud yang diinginkan. Anak juga sudah mampu menuang pasir warna-warni ke dalam wadah dengan menggunakan corong. 

c. Menjelang usia 4 tahun, anak sudah mulai dapat membantu membuat diorama atau miniatur, seperti diorama rumah tempat tinggal, peternakan, dan jalan raya, tentu dalam hal ini orangtua yang terlebih dahulu membuat master plan-nya. 


Seni Pertunjukan

Keterampilan seni termasuk ke dalam jenis seni pertunjukan adalah sebagai berikut:
- Lagu
- Tarian, atau gerakan yang mengikuti irama lagu
- Kombinasi gerak serta lagu
- Drama (pretend play), atau bermain sebuah peran
- Bermain instrumen alat musik, dan lain sebagainya

Sejak bayi, anak sudah dapat merespon jika mendengar suara yang menarik. Saat berusia 2 tahun, perkembangan motorik anak membantunya untuk dapat melakukan lebih bebas mengikuti irama suara. Respon yang diberikan juga memiliki sifat spontan, dengan gerakan freestyle sesuka hati.

Pada umumnya anak usia 2 tahun mampu mengikuti irama lagu dengan menggerak-gerakkan kepala, badan (naik turun, berputar-putar, atau meloncat-loncat), dan tangan (dilambaikan, digerakkan ke atas dan bawah).

Anak juga dapat mengikuti menyanyikan lagu jika dituntun oleh orang lain. Biasanya yang diikuti adalah lirik pada bagian akhir, karena anak mendengarkan dahulu pada lirik bagian awalnya.  

Di usia 3-4 tahun, anak dapat mulai untuk mengikuti gerakan sederhana atau simpel yang dicontohkan oleh orang tua, yang sesuai dengan irama lagu. Di antaranya gerakan tangan, kepala, dan kaki. Bila gerakan atau aktivitas tersebut dilakukan berulang ulang dengan lagu yang sama, sebagian anak juga dapat untuk menghapalnya dan melakukannya tanpa perlu melihat contohnya lagi. 

Namun kembali lagi, kemampuan tersebut juga berhubungan dengan daya ingat dan daya konsentrasi anak. 🎤Anak usia 3-4 tahun sudah mulai dapat menari mengikuti gerakan secara berkelompok, yang berarti anak diberitahu bahwa dia dan teman-temannya harus ada di posisi tertentu saat menari.  Anak juga sudah mulai bisa menyanyikan lagu yang menjadi kesukaan atau pilihan, baik sendiri ataupun bersama-sama anak lain. 

Bernyanyi juga dapat disertai bermain alat musik perkusi seperti tamborin, maraccas, triangle, bahkan panci dan ember juga boleh. Aktivitas seperti ini dapat melatih kemampuan anak dalam hal mengikuti irama. 

Biasanya ini menggunakan ketukan sederhana atau simpel guna membantu anak memahami dan mengerti irama lagu, misalnya seperti aktivitas instruksi “pukul, angkat, pukul, angkat” untuk anak yang memegang alat musik yang dipukul, atau tepukan tangan mengikuti lagu. 

Kadang ada juga seorang anak yang terlalu fokus dalam bernyanyi sampai dia lupa memainkan alat musik, dan sebaliknya ada anak yang hanya bermain alat musik tanpa bernyanyi. Kalau anak terlihat kesulitan dalam melakukan kegiatan keduanya sekaligus, dapat dicoba satu persatu dulu, menyanyi dengan diiringi alat musik dari orangtua atau bermain alat musik mengiringi orangtua bernyanyi.

Untuk seni pertunjukan berupa drama, setahu saya anak usia 3 tahun pun sudah mulai bisa memerankan tokoh tertentu. Namun saat berusia 4 tahun kemampuan untuk berpura-pura menjadi tokoh dalam cerita berkembang lebih baik. Misalnya, ketika berpura-pura menjadi serigala yang jahat, suaranya besar dan menakutkan. Kalau berperan jadi ibu, suaranya lembut dan memakai celemek.

Untuk kegiatan bermain peran, akan sangat baik bila ditunjang dengan kegiatan membacakan cerita kepada anak. Bermain peran dapat dilakukan sambil membacakan cerita, misalnya anak berpura-pura menjadi tokoh tertentu. 

Orangtua juga dapat menyiapkan panggung dan kostum sederhana untuk mementaskan cerita dari buku yang sudah pernah dibaca. 


Baca Juga:


7 Manfaat Pengalaman Seni Dan Budaya Pada Anak Usia Dini

1. Pengalaman ketika berusia dini dengan karya seni, atau yang sering adalah budaya di tempat tinggal anak, dapat membantu anak mengembangkan keterampilan di bidang seni yang berkaitan, yang nantinya akan membantu anak di kehidupannya. Contohnya, anak-anak pengrajin sculpture (pahatan) di Bali terbiasa melihat orangtua mereka memahat kayu sejak kecil, dan mulai mencoba sendiri.

2. Dapat membantu anak memberdayakan kemampuan kognitif (daya pikir), fisik, emosional, spiritual, bahasa, dan moral mereka.

3. Memperkuat ikatan antara orangtua dan anak, juga melibatkan keluarga dalam proses belajar anak, sehingga menjadi kesempatan yang baik untuk mendapatkan pengalaman bersama dan berkomunikasi dengan sesame anggota keluarga/

4. Pengalaman saat berada di lokasi pusat seni contoh museum, galeri seni, perpustakaan, teater, dan pertunjukan seni dapat menjadi resources (sumber media belajar) anak dan memberi ide bagi orangtua untuk melakukan kegiatan seni bersama anak.

5. Dapat membantu mengembangkan kecakapan seperti kreativitas, ekspresi diri, memahami identitas diri, pemahaman budaya, dan mengembangkan imajinasi.

6. Memiliki dampak yang positif terhadap kepercayaan diri, self-esteem (penilaian terhadap diri), perkembangan sosioemosional, menj  embatani perbedaan bahasa atau budaya.

7. Mengembangkan pemahaman tentang proses kerja, serta perasaan puas setelah menyelesaikan sesuatu.


Pada dasarnya manusia merupakan makhluk estetis, makhluk yang mempunyai perasaan dan kemampuan untuk menghayati keindahan dengan perasaan yang dimiliki. Demikian halnya pada anak saat usia pra-sekolah, mempunyai kemampuan menghayati dan merespon berbagai hal yang dialami dan dihadapi dengan perasaannya dengan caranya sendiri sesuai dengan tingkat perkembangannya. 


Fungsi Dari Pengembangan Seni 

a. Melatih ketelitian dan kerapian anak.  
b. Mengembangkan fantasi dan kreativitas anak. 
c. Melatih motorik halus anak 
d. Memupuk pengamatan, pendengaran, dan daya cipta anak.
e. Mengembangkan perasaan estetika/indah, serta menghargai hasil dari karya teman/anak lain. 
f. Mengembangkan imajinasi anak.
g. Mengenalkan cara untuk melakukan ekspresi diri sendiri dengan menggunakan teknik atau cara yang telah dikuasai oleh anak.

Pada usia 4-6, Ananda berada pada masa pra-bagan dimana anak sudah mulai mengendalikan tangannya. Tangan sudah dapat membandingkan karyanya dengan objek-objek yang dilihatnya dan menggambar bentuk-bentuk yang berhubungan dengan dunia disekitar.


Adapun Capaian Kemampuan Seni Anak Usia 4-6 Tahun 

1.  Membuat gambar sederhana
  • Menggambar bebas dengan berbagai media (krayon, pensil, arang)
  • Menggambar bebas dari bentuk lingkaran, segitiga, segi empat
  • Menggambar orang dengan lengkap dan sederhana
  • Stempel/mencetak dengan beragam media (pelepah pisang, batang pepaya, spons)
2. Menciptakan sesuatu dengan berbagai media
  • Menyusun balok
  • Merangkai bentuk dengan lidi atau stik eskrim
  • Membuat pola/batik
  • Melukis dengan jari (finger print)
  • Membuat bunyi-bunyian dg berbagai alat
  • Bertepuk tangan dengan 2-3 pola yang membentuk irama
3. Mengekspresikan diri dalam bentuk gerak sederhana
  • Menggerakkan kepala, tangan, kaki
  • Mengekspresikan diri dan menari mengikuti irama atau musik
4. Dapat menyanyi dan memainkan alat musik sederhana
  • Menyanyikan 1 lagu lengkap
  • Menyanyikan bbrp lagu anak
  • Mengarang lagu dan syair sendiri
  • Memainkan alat musik perkusi sederhana

Kemampuan yang digambarkan di atas tidaklah langsung dimiliki/dipunyai oleh anak sebagai kemampuan yang tinggal mereka untuk menerapkan, melainkan diperoleh melalui belajar dari lingkungannya. 

Jadi, upaya  pengembangan kemampuan anak sebagai makhluk estetis harus dilakukan. Anak perlu diberi kesempatan penuh untuk mengembangkan kemampuan sebagai makhluk estetis dan mengekspresikannya dalam berbagai cara serta media kreatif.


Baca Juga:

0 komentar:

Post a Comment