10 Cerita Yang Sering Di Pentaskan Dalam Seni Pertunjukan Tradisional

Konten [Tampil]
Banyak sekali seni pertujukan tradisional yang ada di Negara Indonesia. Beragam jenis dan bentuk penampilan serta memiliki cerita yang banyak dan bervariasi dalam penyajiannya. Misalnya saja seni Kethoprak, Lenong, Wayang Wong, Srandul dan banyak lagi.
 
Conggado kali ini akan menulis contoh cerita yang populer dikalangan masyarakat, dan sering kita lihat dengar dalam pertunjukan langsung atau pun di televisi.

1. Si Pitung
Cerita ini dari daerah Betawi. Si Pitung merupakan tokok utama yang memiliki karater suka menolong rakyat jelata dari kejahatan penjajah Belanda. 

Si Pitung juga sering dijuluki Robinhood Dari Betawi. Si Pitung adalah pemuda yang soleh dari Rawa Belong, dia suka dan rajin mengaji pada Haji Naipin. Bila selesai belajar mengaji, dia dilatih silat. 

Setelah bertahun tahun, kedua ilmunya selalu meningkat. Kemudian Belanda datang untuk menjajah Negara Indonesia. Rasa iba pada rakyat kecil, yang disiksa oleh orang Belanda, kelompok Tauke dan tuan tanah hidup dalam kemegahan. 

Dengan dibantu oeh teman-temannya (Rais dan Jii), Si Pitung mulai merencanakan perampokan terhadap rumah Tauke dan Tuan Tanah Kaya. Hasil rampokannya ia bagikan  kepada rakyat miskin, keluarga yang penuh hutang diberikan santunan dan yatim piatu diberi hadiah. 

Si Pitung kebal akan senjata api, namun dia meninggal karena peluru emas, salah satu kelemahan yang dibocorkan oleh kedua orangtuannya karena mereka dipaksa oleh Belanda. Cerita ini juga sering ditampilkan dalam seni pertunjukan lenong atau kethoprak Jawa. 


2. Jaka Tarub
Mengisahkan seorang anak yang tumbuh dewasa tampan dan gagah, dia hidup bersama dengan Mbok Rondho. Suatu ketika, Jaka Tarub yang senang berburu dihutan mendengar sayup-sayup suara para wanita, ketika dicari Jaka Tarub melihat 7 bidadari di sebuah sendang. 

Melihat hal itu Jaka Tarub berinisiatif menyembunyikan salah satu selendang bidadari, karena dia terpukau dan sangat ingin memiliki salah satu dewi. 

Ketika saat mandi bidadari selesai, salah satu bidadari bernama Nawang Wulan kehilangan selendangnya, 6 bidadari pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka segera terbang dengan selendang mereka. Nawang Wulan bersedih dan Jaka Tarub segera mndekati biadari tersebut. 

Akhirnya mendengar semua kisah, Jaka Tarub semakin jatuh cinta begitu juga Nawang Wulan. Hari berganti hari akhirnya mereka menikah dan mempunyai putra. Nawang Wulan memiliki kekuatan mengubah satu bulir beras menjadi sebakul beras. 

Namun Jaka Tarub sangat ingin mengetahui rahasia kekuatan tersebut, ketika mengetahui kekuatan Nawang Wulan, seketika hilanglah kemampuan Nawang Wulan. Dia harus melakukan pekerjaan seperti istri manusia biasa, menumbuk padi dan mengambil dari lumbung. 

Suatu ketika padi di lumbung mulai habis, dia melihat slendangnya menyelip dibawah lumbung padi. Rasa sedih dan gembira menyelimutinya, dia harus meninggalkan Jaka Tarub dan anaknya, kemudian berkumpul dengan teman-temannya. Slendang dipakainya lalu berubah menjadi bidadari dan kemudian kembali ke Khayangan.


3. Sangkuriang
Pada zaman dahulu, tanah Parahyangan dikuasai oleh raja dan ratu yang memiliki anak bernama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi merupakan anak yang manja dan ketika suatu hari, ia sedang memintal benang dan terus pintalannya jatuh  hingga ia marah dan bersumpah siapa saja asalkan laki-laki yang mau mengambil pintalannya maka ia akan menerimanya sebagai suaminya. 

Begitu selesai ia mengucap sumpah lalu datanglah seekor anjing jantan bernama Tumang menyerahkan pintalan ke tangan Dayang Sumbi. Karena sumpahnya maka ia menikah dengan Tumang seekor anjing sakti. 

Mereka pun hidup berbahagia dan dikarunia anak berwujud manusia bernama Sangkuriang. Sangkuriang memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya dan ia pun hanya mengetahui Tumang sebagai anjing setia. 

Suatu hari Sangkuriang dan Tumang berburu ke hutan, saat Sangkuriang menyuruh Tumang menangkap buruannya namun Tumang tidak mau sehingga Sangkuriang kesal dan menyembelihnya. Sesampainya di rumah ia memasak daging si Tumang dan makan bersama ibunya. 

Setelah ibunya tahu, Dayang Sumbi sangat marah dan memukul kening Sangkuriang dengan sendok tempurung. Dayang Sumbi pun diusir dari kerajaan karena perbuatannya itu, dan Sangkuriang pergi berkelana menuju dunia luar untuk mengetahui keadaan disana. 

Suatu hari secara tidak sengaja ia kembali ke tanah kelahirannya dan ia bertemu wanita cantik dan ia hendak menikahi wanita yang tidak lain adalah ibunya, namun ia belum mengetahuinya. 

Saat mendekati hari pernikahannya, Sangkuriang meminta izin tunangannya untuk berburu, saat Dayang Sumbi merapikan rambut Sangkuriang ia melihat bekas tanda luka di keningnya dan seketika itu juga ia menyadari bahwa ia hampir menikahi anaknya sendiri. 

Lalu Dayang Sumbi memberikan syarat yang tidak mungkin dapat di selesaikan oleh Sangkuriang yaitu  membuat sebuah bendungan yang bisa menutupi seluruh bukit dan membuat sebuah perahu untuk menyusuri bendungan tersebut. 

Semua itu harus sudah selesai sebelum pagi hari esok. Sangkuriang pun menyanggupinya, ia pun menggunakan kekuatan gaib memanggil jin untuk membantunya membuat syarat yang diberikan, ketika hampir selesai, Dayang Sumbi melihat dari jauh dan ia khawatir kalau Sangkuriang mampu maka ia meminta bantuan rakyat desa untuk membuat keadaan menjadi pagi. Para jin pun pergi karena sudah pagi, mengetahui hal itu Sangkuriang marah dan mengutuk Dayang Sumbi serta menendang perahu, menjebolkan bendungan.

Untuk Selanjutnya Silahkan Baca Dibawah ini Ya.

Ituah 10 Cerita dan Kisah yang sering dipentaskan dalam seni pertunjukan tradisional di Nusantara.

Baca juga ya:

0 Response to "10 Cerita Yang Sering Di Pentaskan Dalam Seni Pertunjukan Tradisional"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel