Jangan Lupa Subscribe Chanel Kami Ya. Mohon Dukungan Dan Motivasinya. Semoga Berkah. Terimakasih.

Tembang Menghaluskan Rasa

Konten [Tampil]
Rasa yang menjadi tumpuan tembang Jawa yakni hati. Hati meliputi emosi, kognisi, dan konasi. Itulah sebabnya, olah tembang Jawa semakin menekankan kepekaan ( interes ), perhatian (concern), greget (mood), pada keindahan. Bukankah kita memang makhluk yang cinta keindahan? Berarti belajar tembang Jawa jelas akan menghaluskan rasa dan memupuk keindahan jiwa.

Tembang Jawa tergolong seni tradisionai yang paling digemari. Tembang Jawa ada yang menyebut lagu Jawa. Istilah tembang dan lagu sebenarnya senada. Kedua istilah itu mewujudkan seni kreativitas suara. Karenanya, tembang maupun lagu Jawa dapat dikatakan juga seni suara Jawa. Sesuai namanya, seni suara tentu banyak mengandalkan vokal (lisan), yang dimodofikasi dari bunyi mulut.

Dikatakan tembang, lagu, dan seni suara Jawa karena syair (cakepan) menggunakan bahasa Jawa. Bunyi syair tersebut didasarkan pada instrumen Jawa (pentatonis) seperti suling, gender, demung), bukan notasi nasional (diatonis) seperti melodi, gitar, piano dan lain-lain. 

Tembang Menghaluskan Rasa

Meskipun demikian ada yang berpendapat bahwa notasi diatonis pun dapat digunakan untuk mengaransemen tembang Jawa. Tujuan utama seni tembang diajarkan (diberikan) kepada siapa saja; adalah demi kesenangan (kenikmatan). Kenikmatan adalah wilayah rasa. Maka ruang garap seni tembang Jawa pada rasa.

Dalam kajian Bernard Arps (1992:333) pada awalnya tembang muncul sebagai ekspresi masyarakat Jawa yang masih mengedepankan orality (kelisanan). 

Selanjutnya, ketika masyarakat Jawa telah tergolong literacy (keberaksaraan), tembang pun mulai ditulis, lalu dilisankan begitu seterusnya. 

Dengan cara ini tembang Jawa semikin familier, dikenal luas, dan populer. Di berbagai belahan wilayah Jawa terdapat variasi tembang Jawa, sejalan dengan kreativitas masyarakat.

Oleh karena tembang itu dekat sekali dengan seni, tentu dapat dikategorikan sebagai sebuah performance (pertunjukan). Seni tembang yang telah diolah, tak sekedar konsumsi suara saja, melainkan dapat dikemas dengan seni-seni lain. 

Tembang Jawa dapat dikolaborasikan dengan seni tari, pedalangan, beladiri, olah raga, dan lain-lain. Perubahan dan variasi tembang dalam bentuk apa pun, tetap terfokus pada kejiwaan, yang dibangun melalui tembang adalah kondisi kejiiwaan, agar orang yang melagukan dan mendengarkan dapat memetik manfaat psikologis.

Sadar atau tidak, pada saat orang lahir ke dunia yang paling mencuat terlebih dahulu adalah aspek kejiwaan. Pada saat bayi lahir, dia menangis, mungkin karena takut, di samping sebagai tanda hidup. Bayi itu dari menit ke menit, mulai terasah kepekaan rasanya, mulai mendengarkan apa saja, di samping melihat dalam tatapan kosong. 

Andaikata dia dapat berkata-kata, mungkin hendak mengekspresikan kesedihan atau sebaliknya kegembiraan pasca lahir di dunia. Karena, ketika di dalam guwa garba belum mendengar keindahan rasa secara jelas, di dunia fana kehalusan rasa itu semakin jelas terdengar.

Atas dasar itu, tak mengherankan jika ada seorang ibu, bapak, nenek, kakek, yang memangku bayi disertai dengan rengeng. rengeng (melagukan) syair seadanya. Lagu yang tampil mungkin tak jelas maknanya, sekedar siulan, sekedar onomatopi bunyi, dan menirukan apa saja secara melodius. 

Orang tua juga sering ngudang dan ura-ura untuk menghibur anaknya. Ngudang adalah aktivitas yang menggabungkan antara lagu dan tindakan. Lagu untuk ngudang amat luas, kadang-kadang bunyi tiruan dan adakalanya ciptaan sendiri. Begitu pula ura-ura, asal bunyi tetap tetap ritmis. Baik ngudang maupun ura-ura adalah strategi psikologis untuk menghibur kejiwan anak.

Jika dirasakan, sesungguhnya tembang Jawa juga akan menyentuh inteligensi. Daya pikir akan berkembang, pada saat anak merasa senang hatinya. Bersamaan itu pula; akan muncul aneka keinginan positif yang membantu perkembangan anak. 

Pendek kata, tembang Jawa akan memiliki fungsi psikologis antara lain: 
  1. memupuk kesadaran dan emosional inteligensi. 
  2. mempertebal rasa percaya diri, harga diri, dan memperkuat mental.
  3. menjadi psikoterapi kesehatan jasmaniah dan rohaniah.


Baca Juga Ya:

Jawa seseorang semakin hanyut dalam tembang, jelas semakin nikmat. Kenikmatan yang luar biasa itu sedikit demi sedikit menyentuh kedalaman rasa. Akibatnya rasa merekah dan sulit digambarkan. Mungkin seperti orang ketiban daru. Mendengar atau merasakan tembang seakan hidup di surga.

0 Response to "Tembang Menghaluskan Rasa"

Post a Comment

Jangan Lupa Subscribe Chanel Kami Ya. Mohon Dukungan Dan Motivasinya. Semoga Berkah. Terimakasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel