Belajar Tembang Secara Etnopuistis

Etnopuitika adalah paham puisi-puisi lokal. Etnopuitika Jawa adalah paham terhadap puisi Jawa tradisi. Dikatakan tradisi, sebab puisi itu helah populer secara lisan. Dalam buku saya Tradisi Lisan Jawa (2005), saya paparkan bahwa puisi lisan telah banyak yang menjadi tradisi lisan. Puisi lisan itu yang mentradisi itu apabila dipakai sebagai pola belajar tembang, amat bagus.

Orang yang belajar tembang jika menguasai etnopuitika, akan belajar tembang-tembang lisan. Tembang-tembang yang sebenarnya kurang atau belum bermakna, tetapi akan melatih permainan suara, amat bagus dilagukan. 

Bunyi tembang orang yang sedang meninabobokkan anak, lela ledhung misalnya, Perlu dikuasai, sebab akan menggugah nuansa puistis pelantun tembang. Permainan bunyi yang ritmis dalam puisi-puisi etm's, Puisi etnis Jawa adalah karya lisan yang dirangkai dengan permainan bunyi indah.

Penembang bisa belajar puitika Jawa yang sederhana, dari permainan bunyi yang bebrjalan terns (lumaksita), misalkan Gotri legendhi nagasari ri riwul iwal-iwul dan seterusnya. Bisa juga etnopuitika yang telah menjadi folklor, misalkan Yo dolanan dhakon Icon cacahe pitulikur dam seterusnya. 

Ada lagi, Menak Iingga, ayo ngga nggodhog tela, ayo la lara mata ayo ta tawa menyan ayo nyan nyandhak klambi ayo mbi biyung nangis ayo ngis ngisis untu ayo tu tuku.....Permainan bunyi ritmis yang bemuansa erotik, jika dikuasai akan membangun kemampuan penembang semakin jitu. 

Banyak sekali etnopuitika Jawa yang jarang diungkap, tetapi memiliki fungsi yang amat penting.

Apa salahnya apabila penembang belajar vokal dari suara khas Arjuna, Bima, Kresna, Srikandhi, Banowati, Duma, Narada, Bomanarakasura, Antasena, dan Cakil, jelas membangun nuansa puitika tersendiri. 

Begitu pula belajar puitika dari seorang tokoh ketoprak Bandung Bandawasa, Minakjingga, Iaka Tarub, dan sebagainya. Seluruh tiruan bunyi apa pun merupakan bangunan seni yang bagus jika dikelola secara estetis. Misalkan saja, puitika bojleng-boojleng prajaga belah jeg-jegan, yang djucapkan Cakil.

Lebih hebat lagi jika seorang penembang dapat menirukan masing-masing ritme gamelan. Suara kendhang ditirukan sesuai ngeng gendhing, misalkan Ldr. Ayun-ayun pelog 6 pada irama 1 atau 2. 

Suara gender disrambah dengan vokal. Suara bonang begitu pula, sampai menemukan keutuhan vokal. Suara puisi yang amat merakyat itu seperti sudah menjadi lalapan penembang agar terbangun suasana estetis dalam dirinya.

Thiiit thitthuwit jleng damar mati muliha
Kintel lungguh dhingklik sabuk nekel ra duwe dhuwit 
Siti lunga pasar sapi mati semar mendem
jangkrik neng cangklakan jenang gamping geyol-geyol 
Mire-mire tahu tempe nak rasane

Lagu tembang-tembang etnopuitika Jawa memang tidak perlu dirisaukan bermakna atau tidak. Persetan, apakah lagu itu dapat diterjemahkan atau tidak. 

Biarpun hanya dapat dimaknai melalui force interpretation (jarwo dhosok), yang penting untuk berlatih melagukan yang lebih luas. Lebih bagus lagi kalau dalam menguasai etnopuitika itu tahu titilaras dan pathetnya, jelas akan membantu bagi penembang.

Etnopuitika anak-anak Jawa, memang bertujuan untuk kegembiraan. Dolanan yang djutamakan dari nuansa tembang itu, bukan makna secara keseluruhan. 

Tembang etnopuistis yang sekedar bersasaran bocah gumerah ngguyu latah itu temyata memiliki daya picu luar biasa bagi penembang secara profesional. 

Yang dipentingkan dalam tembang itu ramai, anak-anak bisa bermain suntuk. Anak-anak dengan tembang dolanan itu akan berteriak, bergerak ke sana kemari, penuh canda ria. Bagi orang yang belajar tembang, penguasaan atas rima-rima anak itu akan menguatkan vokal.

Jika direnungkan, etnopuitika anak juga merupakan sebuah refleksi jaman. Tembang dolanan yang sekedar permainan kata itu, hemyata memiliki energi batin yang luar biasa. Banyak di antara tembang etnopuitik anak itu yang temyata juga mengajak ”berpikir positif”, agar manusia kembali ke arah Tuhan. 

Bayangkan saja dengan hadirnya etnopuitika Cublak-Cublak Suweng dan Emplek-emplek ketepu, yang juga menggambarkan kehidupan religiusitas Jawa yang anggun. Lagu tersebut merambah dunia pedesaan yang agraris, juga memiliki modus befpikir positif transendental. 


Pada akhir tembang selalu  mengajak agar manusia kembali ke bala tengen atau pihak kanan yang mewakili kebenaran, yang kini kembali ayem tentrem atau damai sejahtera seperti semula. 

Manusia diajak agar hidup selalu eling lawan waspada melalui etnopuitika. Dengan demikian suasana menep memang amat diharapkan dalam tembang etnis itu.


0 Response to "Belajar Tembang Secara Etnopuistis"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel