Jangan Lupa Subscribe Chanel Kami Ya. Mohon Dukungan Dan Motivasinya. Semoga Berkah. Terimakasih.

Metode Belajar Tembang Secara Konvensional

Konten [Tampil]
Belajar tembang dapat secara konvensional. Artinya, yang belajar dapat melalui orang lain atau tape rekorder. Caranya sederhana, yaitu ada yang mengajari tembang, tanpa notasi, yang belajar menirukan. Model lama biasanya dilakukan dengan cara konvensional, yaitu hafalan saja. Andalan hafalan ini, juga bagus. Masing-masing bisa menguasai berbagai ragam tembang.

Masalahnya, jika guru yang mengajari sudah jauh dari murid atau meninggal misalnya, seringkali yang belajar semakin repot. Bisa jadi belajar konvensional ini menjadi lupa-lupa ingat. Akibatnya, ada bagian yang ditembangkan berbeda. Di satu sisi, perubahan tembang ini sebuah perkembangan. Di sisi lain, sering juga merusak tembang itu sendiri.

Belajar tembang secara konvensional memerlukan metode khusus. Banyak cara yang dilakukan oleh subjek didik dalam belajar tembang, namun hasilnya belum signifikan. Belajar tembang itu tidak seperti belajar matematika, harus hafal rumus-rumus. Belajar tembang itu yang bermain, selain suara juga perlu rasa. Otak-atik suara dan rasa menyatu dalam lantunan cakepan.

Metode Belajar Tembang Secara Konvensional

Jika digolong-golongkan, ada beberapa metode yang selama ini dilakukan oleh pembelajar tembang, yakni:

Metode Titipada 
Metode ini tergolong belajar tradisional, tembang satu pada secara utuh. Pada adalah kesatuan gatra (baxis), yang diucapkan dan dilagukan utuh, lalu ditirukan oleh yang belajar. Biasanya hanya dilakukan secara turun-temurun. Pembelajaran dari orang tua kepada anak atau simbah kepada cucu di padepokan-padepokan tampaknya banyak memanfaatkan model ini. 

Subjek yang belajar tembang tidak perlu mempertimbangkan hepat atau tidak, melainkan hanya bersumber pada heks. Belajar model ini mengikuti gaya meniru. Bagi yang cerdas, (dhong-dhing mudah diraih, metode ini amat tepat. 

Misalkan saja yang banyak dilakukan oleh ki penthul dan bejer pada jathilan dj pedesaan. Penthul dan bejer akan menembang, kemudian ditirukan oleh orang lain yang ingin belajar.

Model ini memang mengandalkan hafalan dan ingatan. Yang menyulitkan subjek adalah pada saat ada gatra yang lupa, apakah dilagukan naik atau turun. Modal utama yang djandalkan subjek adalah ngelmu titen. 

Titen pada bagian mana pedhotan, mana yang perlu naik, perlu cepat, dan seterusnya. Biasanya metode hafalan ini akan semakin membekas. Misalkan di desa-desa ada yang menggunakan metode hafalan cakepan tembang: iir-ilir, semut ireng, bedhug tiga, jam pitu, bapak pocung, dan lain-lain. Seluruh konteks Tembang dihafalkan melulu.


Baca Juga Ya:


Metode Titilaras 
Selama ini pembelajaran hembang masih dilakukan secara tradisional, dipandang bagus. Belajar klasik itu memang baik, tetapi seringkali kurang menguntungkan Yang saya maksud belajar tembang secara tradisional atau klasik adalah metode membaca titilaras (nada). 

Metode titilaras ini dikenal paling baku dalam pembelajaran tembang. Metode ini mengandalkan hafalan juga. Namun, hanya orang yang mampu menghafal mana laras slendro dan pelog serta titilaras saja yang mudah menerapkan metode ini.

Metode titilaras yang paling banyak diandalkan oleh siapa saja yang belajar tembang. Biasanya dimulai dengan ”ngangkat swara", mulai dari titilaras paling bawah sampai paling tinggi. Volume suara akan diatur lewat metode titilaras ini. 

Metode ini paling banyak digunakan oleh para pembelajar, manakala di hempatnya tidak ada alat bantu lain. Jika metode ini diterapkan secara sungguh-sungguh, biasanya akan lebih tepat. Ketepatan titilaras dengan cakepan, harus dibaca hati-hati agar tidak meleset (mletho).

Di sekolah ataupun pamulangan sekar, masih ada yang menggunakan cara belajar konvensional. Biasanya, pengajar membuat catatan atau tulisan besar di papan tulis, baru diketuki satu per satu. Jika pengajar itu marah, karena muridnya tidak segera mengikuti dengan tepat, seringkali tuding (pengetuk) sampai patah. Belajar dengan dengan ketukan ini tetap mengandalkan hafalan.

Para guru TK dan SD kelas bawah, biasanya masih mengandalkan metode konvensional (hafalan melulu). Tentu hal ini tidak dapat disalahkan, terutama untuk lagu yang masih sederhana. Lagu-lagu yang belum banyak bermain tempo dan dinamik, luk, gregel, memang bagus dengan hafalan. Buktinya, anak-anak TK dan SD mudah sekali menirukan suara gurunya. Kendalanya, jika guru itu juga kurang mampu melagukan Tembang, siswa semakin menjadi korban.

0 Response to "Metode Belajar Tembang Secara Konvensional"

Post a Comment

Jangan Lupa Subscribe Chanel Kami Ya. Mohon Dukungan Dan Motivasinya. Semoga Berkah. Terimakasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel