Jangan Lupa Subscribe Chanel Kami Ya. Mohon Dukungan Dan Motivasinya. Semoga Berkah. Terimakasih.

Dietrich Drescher Nahkoda Kapal Jerman Pecinta Keris

Konten [Tampil]
Dietrich Drescher sangat besar jasanya dalam menumbuhkan kembali kehidupan dan tradisi ke-empuan di Negara Indonesia, khusunya di Pulau Jawa. Dengan demikian juga langsung membangunkan budaya keris yang telah tidur sejak zaman pendudukan bala tentara Jepang. Pada sekitar tahun 1975-an ia membangkitkan semangat Ki Yosopangarso di Godean, Yogyakarta untuk kembali membuat dan menempa Keris.

Dietrich Drescher Nahkoda Kapal Jerman Pecinta Keris
Dietrich Drescher

Yosopangarso, mulanya sempat mengalami kebingungan karena ayahnya bernama Supawinangun almarhum tidak sempat untuk menurunkan ilmu dan mewariskan pengetahuan tentang keris, kepada Yoso dan adik-adiknya. Namun Dietrich terus memberikan suport, untuk semangat agar tidak menyerah, alhasil Yoso yang dibantu oleh adik-adiknya bernama Genyodiharjo, Wignyosukoyo, dan Jeno Harumbrojo berhasil kembali membuat keris.

Peristiwa ini menjadi tonggak baru dalam sejarah perkerisan di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, yang mana sejak jaman pendudukan Jepang tidak ada eksistensi pembuatan Keris.

Dietrich juga pernah menjadi pengarah Empu Pauzan Pusposukadgo dalam pembuatan pamor baru yaitu pamor poleng. Empu Pauzan menanganai untuk pembuatan pamor baru keris tersebut. Ketika pembuatan keris dapur Gumbeng, pamor Poleng Wengkon, oleh Mentri Koorinator Polkam, Jendral Purnawirawan Surono, keris tersebut dinamai Kyai Surengkarya.

Dietrich adalah seorang kapten kapal bangsa Jerman yang tinggal di Feirburg, Jerman. Pada tahun tujuh puluhan (1970-an), kapal yang dinahkodhainya mempunyai jalur tetap ke Indonesia. Pekerjaan tersebut dijalaninya kurang lebih selama enam tahun, dan selama itu ia dalam jiwanya tumbuh kecintaan pada budaya Inonesia, terutama budaya keris.

Pertama kali Dietrich mengenal keris pada tahun 1960-an, ketika kapalnya berhenti di Pelabuhan Perak, Surabaya. Ketika itu dia sedang makan di restoran Tunjungan, Surabaya, seorang pedagang asongan menawarinya sebuah keris, setelah terjai tawar menawar akhirnya ia membeli keris tersebut dengan harga Rp. 60.000, harga yang sangat tinggi di tahun tersebut. Sejak itu dia mulai mencintai budaya Indonesia.

Setiap kapalnya berlabuh di Indonesia, ia berkesempatan untuk masuk dalam daerah-daerah untuk mencari pengetahuan tentang keris, tidak heran ia sering mengadakan perjalanan kedaerah pedalaman, Untuk menambah dan mecari pengetahuan tentang budaya peninggalan keris.

Baca Juga
Abandira Atau Mandau Perlengkapan Seni Dan Hiasan Dinding
Mengenal Abdul Karim Pembuat Keris Di Brunei Darussalam
Istilah Abinan Orang Madura
Abu Bakar Empu Keris Dari Malaysia
Achim Weichrauch Antropolog Jerman Pecinta Budaya Keris

Selain mengunjungi tempat pembuatan keris di Pulau JAwa, Dietrich juga pernah ke Madura dan Bali. Ia cukup fasih dalam Bahasa Indonesia dan sedikit Bahasa Jawa. Setelah pensiun menjadi nahkoda, hal tersebut tidak mengurangi atau menyurutkan kecintaannya pada Budaya Indonesia. Selain secara berkala, sekali waktu ke Indonesia dan mencari biaya, ia juga sering berkorenpodensi dengan banyak pecinta keris, terutama di Indonesia. Bahkan, ia juga menggunakan "Pak Kumis" sebagai nama pada alamat emailnya.

Mei 1977 Dietrich berkunjung ke Indonesia dan mengunjugi para peminat keris serius dan praktisi perkerisan, antara lain ia menjumpai Ir. Haryono Haryoguritno, Bambang Harsrinuksmo, KRT Hardjonagoro, Empu Pausan Pusposukadgo dan Empu Djeno Harumbrojo. Pada Tahun 1997 dan 2000 ia datang lagi ke Indonesia, kali ini Dietrichditemani oleh Achim Weichrauch adalah seorang antropolog bangsa Jerman. Baca: Achim Weichrauch Antropolog Jerman Pecinta Budaya Keris.


0 Response to "Dietrich Drescher Nahkoda Kapal Jerman Pecinta Keris"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel